trubus.id
Peristiwa » Ahli Gizi IPB Soroti Persoalan Gizi di Indonesia d...
Ahli Gizi IPB Soroti Persoalan Gizi di Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Ahli Gizi IPB Soroti Persoalan Gizi di Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Astri Sofyanti - Selasa, 26 Jan 2021 09:43 WIB

Trubus.id -- Berbagai masalah muncul di masa pandemi Covid-19, seperti berkurangnya produksi pangan, terhambatnya rantai logistik dengan tingkat konsumsi yang justru meningkat selama masa pandemi. Dalam kondisi normal, kebutuhan pangan normal masih mengandalkan produksi pangan dari luar negeri. Banyak komoditas pangan pokok yang harus diimpor dari negara lain.

“Tujuan akhir dari pencapaian ketahanan pangan bukan pada komoditas pangan. Tetapi untuk mencapai kualitas hidup tinggi dari konsumsi pangan yang baik. Artinya, kebutuhan pangan terpenuhi baik secara jumlah dan kualitas. Namun, faktanya penduduk Indonesia, jika dilihat dari status gizi masih jauh dari berkualitas dan kita masih mengalami banyak masalah dasar untuk pemenuhan gizi,” demikian dikatakan Dosen dari Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, Dr Drajat Martiano dalam diskusi daring Bincang-Bincang Wisma Hijau, belum lama ini.

Menurutnya, Indonesia masih banyak mengalami permasalahan gizi. Utamanya adalah kekurangan nutrisi, seperti underweight dan tingkat stunting yang tinggi. Stunting hingga kini masih menjadi masalah penting bagi Indonesia karena kasusnya masih di atas 30 persen. Hal ini dampak negatifnya besar bagi anak. Kekurangan gizi akan mengakibatkan rendahnya kecerdasan dan kapasitas fisik.

Drajat mengungkapkan bahwa menurut World Health Organization (WHO) permaslahan stunting di Indonesia masuk kategori sangat tinggi. Salah atau alasannya adalah makanan orang Indonesia yang kurang beragam. Masih banyak masyarakat yang tidak mengkonsumsi makanan yang beragam jenisnya.  Indonesia masuk dalam negara yang masyarakatnya tidak mampu mengakses makanan yang sehat dan beragam.

Selain itu masalah lainnya adalah kelaparan yang tidak terlihat atau micronutrient  deficiency. Masalah ini terjadi karena seseorang kekurangan vitamin dan mineral. Padahal keduanya adalah zat gizi yang penting untuk menjamin imunitas dan keseimbangan tubuh. Penyakit yang paling sering muncul adalah anemia pada ibu hamil. Angkanya masih di atas 40 persen dan terus meningkat. Hal ini perlu upaya intensif antar seluruh elemen turut menyelesaikan masalah tersebut.

“Solusinya adalah membangun pangan harus berbasis sistem. Bukan hanya fokus pada komoditas tapi pada kemanan dan kualitas pangan. Hal ini bisa dicapai dengan adanya integrasi yang inklusif pada saat perencanaan, implementasi hingga tahan evaluasi yang didukung dengan kebijakan yang tepat. Selain itu keberlanjutan dari ketersediaan pangan harus di prioritaskan pada pangan lokal sebagai kontributor utama dalam pemenuhan pangan,” ujarnya menambahkan.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, bahan pangan lokal kurang dikembangkan bahkan cenderung ditinggalkan. Hal ini terjadi karena ada pesaing kuat bahan makanan dari luar negeri, yaitu tepung terigu. Peran industrialisasi menjadi sangat penting agar pangan lokal bisa menyaingi terigu dalam bentuk tepung. Solusi ini agar pangan lokal bisa diolah menjadi aneka pangan. Bukan tidak mungking nantinya beberapa jenis lokal bahkan menjadi pangan fungsional.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020