trubus.id
Peristiwa » Pakar IPB Tawarkan Alternatif Lahan Potensial untu...
Pakar IPB Tawarkan Alternatif Lahan Potensial untuk Pengembangan Kedelai di Masa Depan

Pakar IPB Tawarkan Alternatif Lahan Potensial untuk Pengembangan Kedelai di Masa Depan

Astri Sofyanti - Kamis, 21 Jan 2021 09:56 WIB

Trubus.id -- Dosen IPB University Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Prof Dr Munif Ghulamahdi mengungkapkan inovasi teknologi budidaya jenuh air untuk peningkatan produksi kedelai di lahan pasang surut. Prof Munif menyampaikan bahwa secara nasional, sejak tahun 1992 luas areal tanam untuk kedelai di Indonesia terus mengalami penurunan.

“Dari luas lahan 1.67 juta hektare dengan produksi 1.87 juta ton pada tahun 1992 terjadi penurunan menjadi 0.28 hektare dengan produksi 0.42 juta ton di tahun 2019. Hal tersebut membuat Indonesia harus terus melakukan impor kedelai hingga sekarang,” demikian dikatakan Prof Munif dalam keterangan persnya, Rabu (20/1/2021).

Penyusutan lahan pertanian terutama kedelai disebabkan oleh banyaknya konversi lahan di pulau Jawa. Meski begitu, lahan di area pasang surut dapat dijadikan alternatif dalam upaya pengembangan kedelai di masa depan.

Lahan Pasang surut adalah area peralihan antara sistem daratan dan sistem perairan. Di Indonesia terdapat 20.1 juta hektare lahan pasang surut yang tersebar di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Seluas 3.41 juta hektare diantaranya berpotensi tinggi hingga sedang untuk ditanami kedelai.

“Lahan pasang surut ini memiliki kandungan bahan organik yang tinggi, radiasi matahari yang cukup, suhu yang baik untuk proses pembungaan, serta curah hujan juga tinggi,” ucapnya.

Lebih lanjut Munif menerangkan, budidaya pada lahan pasang surut dinamakan budidaya jenuh air. Artinya, teknik ini merupakan teknik penanaman dengan memberikan irigasi terus menerus dan membuat tinggi muka air tetap sehingga lapisan di bawah perakaran menjadi jenuh air. Praktik budidaya jenuh air menghasilkan tanaman kedelai dengan jumlah cabang, bunga, polong isi, dan bobot biji yang lebih besar. Tanaman kedelai akan mengalami masa adaptasi selama 2-4 minggu setelah dimulainya proses penjenuhan.

“Pada masa adaptasi, daun akan berubah kekuningan, untuk mempercepat proses ini dapat diberikan pupuk N daun. Kedelai yang berumur panjang memiliki kemampuan adaptasi lebih baik dibandingkan yang berumur pendek,” tambah Prof Munif.

Sementara, dari sisi tata niaga kedelai yang telah berlaku selama sepuluh tahun terakhir, pemerintah memberlakukan sistem perdagangan bebas sehingga pelaku usaha dari negara mana pun dapat melakukan aktivitas jual beli kedelai. Hal tersebut membuat kedelai diperlakukan seperti halnya komoditas pangan biasa, bukan sebagai komoditas pangan strategis sebagaimana padi dan jagung.

Ketua Gabungan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Gakoptindo), Drs Aip Syarifudin menyebutkan bahwa dari sisi kebijakan sudah ada Peraturan Presiden Nomor 48 tahun 2016 tentang penugasan Perum Bulog untuk mengamankan pangan strategis. Khususnya padi, jagung dan kedelai (PaJaLe).

“Untuk padi dan jagung sudah berjalan tetapi pada kedelai belum. Sehingga harga kedelai mengikuti harga dunia,” ujar Aip.

Berbicara dari sisi pengusaha pengolahan kedelai, ketersediaan bahan baku menjadi hal yang sangat krusial. Maka bahan baku lokal atau pun impor menjadi tidak masalah asalkan kedelai tersebut siap untuk diolah menjadi tahu dan tempe. Sayangnya ketersediaan kedelai lokal sering kali tidak memadai, di sisi lain ketersediaan kedelai impor selalu ada. Selain itu, dari sisi kualitas kedelai impor juga lebih unggul.

“Ukuran biji kedelai lokal lebih kecil. Warnanya pun seringkali tidak seragam. Kandungan airnya lebih tinggi sehingga masa simpan lebih pendek,” lanjutnya.

Aip juga memberikan masukan bahwa tata niaga kedelai seharusnya dikendalikan oleh pemerintah. Pemerintah harus membatasi jumlah kedelai impor sehingga kedelai lokal pun terserap di pasaran. Dengan begitu petani akan menjadi bersemangat untuk menanam kedelai, permintaan dan penawaran di dalam negeri pun tetap terjaga. Di samping itu, pemerintah dapat menggandeng berbagai komponen. Penelitian terkait kedelai telah dilakukan oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hal tersebut menjadi modal besar untuk meningkatkan kualitas kedelai lokal.

Sementara itu, Dosen IPB University dari Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Dr Bayu Krisnamurthi yang juga menjabat sebagai Ketua Pengurus Trubus Bina Swadaya mengatakan bahwa tantangan utama dari kedelai lokal agar bisa berdaya saing dengan kedelai impor adalah spesifikasi dan harga. Sosok yang pernah menjadi Wakil Menteri Perdagangan dan Wakil Menteri Pertanian ini memberikan gambaran strategi substitusi kedelai disesuaikan dengan jenis produk akhir dan preferensi konsumen.

“Untuk produk yang menuntut keseragaman warna dan keutuhan biji kedelai maka digunakan kedelai impor. Sebaliknya produk tidak mensyaratkan ukuran dan keseragaman warna dapat menggunakan tempe lokal,” beber Bayu.

Beberapa produk yang disarankan untuk tetap menggunakan kedelai impor selama kedelai lokal belum mampu menyamai standar adalah tempe umum, susu kedelai, miso, dan gochujang. Sementara itu tempe khusus seperti tempe mendoan dan tempe gembus, edamame, tahu, oncom, dan kecap dapat menggunakan bahan baku kedelai lokal.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020