trubus.id
Jokowi Heran Subsidi Pupuk Rp30 Triliun Tidak Berkontribusi Kenaikan Pertanian

Jokowi Heran Subsidi Pupuk Rp30 Triliun Tidak Berkontribusi Kenaikan Pertanian

Binsar Marulitua - Selasa, 12 Jan 2021 10:47 WIB

Trubus.id --
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mempertanyakan efektivitas pupuk subsidi yang selama ini telh dikucurkan pemerintah. Penyebeabnya  setiap tahun pemerintah terus mengeluarkan dana untuk subsidi pupuk lebih dari Rp30 triliun tanpa memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap kenaikan produk pertanian. 

Hal tersebut diutarakan Jokowi saat membuka Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Senin (11/1/2021).

"Berapa puluh tahun kita subsidi pupuk. Setahun berapa kita subsidi pupuk, Rp 30-an triliun, 33 triliun setiap tahun, returnnya apa? Kita beri subsidi pupuk kembaliannya apa? Apakah produksi melompat naik?" ujar Jokowi. 

Jokowi mempertanyakan hasil dari subsidi pupuk tersebut lantaran apabila diperhitungkan dalam sepuluh tahun, pemerintah telah mengeluarkan uang Rp 330 triliun untuk bantuan tersebut.

Jokowi pun meminta agar penyaluran pupuk subsidi dievaluasi. "Kalau setiap tahun kita kelaurgakan subsidi pupuk sebesar itu kemudian tidak ada lompantan di sisi produksinya berarI ada yang salah. "Artinya tolong ini dievaluasi," kata Jokowi.

 

Baca Lainnya : Jokowi Soroti Kedelai Impor dalam Rakernas Pembangunan Pertanian 2021

Dalam kesempatan yang sama, Ia menyoroti masih banyak komoditas pangan yang kebutuhannya masih mengandalkan impor, seperti kedelai, jagung, hingga bawang putih. 

mantan Gubernur DkI tersebut juga mengungkapkan,  pembangunan pada sektor pertanian ini tidak dapat dilakuan dengan cara-cara yang konvensional, rutinitas, dan monoton, melainkan dengan menerapkan teknologi pertanian.

Pembangunan pertanian dengan skala yang lebih luas dan penerapan teknologi pertanian ini, imbuhnya, merupakan jawaban untuk meningkatkan daya saing harga produk komoditas pangan lokal karena biaya produksi dapat menjadi lebih murah.

Untuk itu, Kepala Negara mendorong agar pengembangan lumbung pangan yang sedang dilakukan di Sumatra Utara dan Kalimantan Tengah dapat diselesaikan tahun ini untuk kemudian dievaluasi dan dijadikan contoh untuk daerah lainnya.

“Kita mau evaluasi problemnya apa, masalah lapangannya apa, teknologinya yang kurang apa. Ini akan menjadi contoh nanti kalau ini benar, bisa dijadikan contoh semua provinsi, sudah datang kopi saja, tapi memang dalam sebuah skala yang luas, economic scale,” tuturnya.

Pengembangan kawasan lumbung pangan ini, diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus menekan impor komoditas pangan yang selama ini dilakukan.

Baca Lainnya : Ragam Penyebab Produktivitas Kedelai Nasional Rendah

Diungkapkan Kepala Negara, saat ini harga yang tidak kompetitif antara komoditas pangan lokal dengan komoditas impor membuat para petani berhenti menanam komoditas tersebut. Contohnya, kedelai dan bawang putih yang sebelumnya banyak ditanam oleh petani-petani dalam negeri.

“Kalau harga tidak kompetitif ya akan sulit kita bersaing. Sehingga, sekali lagi, ini harus dibangun dalam sebuah lahan yang sangat luas. Cari lahan yang cocok untuk kedelai, tapi jangan hanya 1-2 hektare, 10 hektare (tapi) 100 ribu hektare, 300 ribu hektare, 500 ribu hektare, 1 juta hektare,” ujarnya.

Kementerian Pertanian (Kementan) pada 2017 telah mengalokasikan subsidi Rp 31,33 triliun untuk program subsidi pupuk bagi pertani dengan perhitungan subsidi Rp3.010 per kilogram.

Pada 2018, anggaran subsidi pupuk turun menjadi sebesar Rp 28,5 triliun. Kemudian, 2019 Kementan mengalokasikan pupuk bersubsidi sebanyak 9,55 juta ton dengan anggaran sebesar Rp 29 triliun dan 2020 alokasi pupuk subsidi 2020 menjadi sebanyak 8,9 juta ton atau senilai Rp 29,7 triliun.

Baca Lainnya : Pengrajin Tahu Tempe Mogok, Bareskrim Selidiki Dugaan Penimbunan Kedelai


 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020