trubus.id
Peristiwa » Harga Telur Naik Tajam, Begini Analisis Pakar Pete...
Harga Telur Naik Tajam, Begini Analisis Pakar Peternakan IPB

Harga Telur Naik Tajam, Begini Analisis Pakar Peternakan IPB

Astri Sofyanti - Senin, 28 Des 2020 08:58 WIB

Trubus.id -- Harga telur melonjak lagi. Yang biasanya di tingkat pengecer sekitar Rp22.000 sampai dengan Rp25.000, saat ini mencapai Rp30.000 per kilogram (kg). Dosen IPB University dari Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Niken Ulupi mengatakan kenaikan harga telur terjadi hampir setiap tahun, terutama diakhir tahun karena ada perayaan natal dan tahun baru. Tahun ini, di masa pandemi peningkatannya lebih tajam dari tahun-tahun yang lalu. Kondisi ini terjadi hampir merata di seluruh wilayah Indonesia.

Ia menambahkan kenaikan harga telur juga dipicu oleh adanya beberapa faktor pendukung, seperti adanya peningkatan konsumsi telur di tahun 2020. Di masa pandemi ini, konsmsi telur naik dari 14.7 kg/kapita menjadi 18.7 kg/kapita (data dari Asosiasi Peternakan Ayam Petelur Nasional, 2020). Peningkatan permintaan ini tentu saja berdampak pada peningkatan harga telur. Selain itu menjelang akhir tahun 2020 ini, terjadi lonjakan harga bibit ayam petelur. Sebelumnya harga Day Old Chicken (DOC) ayam petelur berkisar Rp7.000 per ekor, sekarang harga DOC mencapai Rp17.000 per ekor. Pemicu lainnya juga adalah adanya peningkatan bahan baku pakan impor, yang mencapai 40 persen.

“Untuk itu, agar harga telur di tingkat pengecer tetap stabil, perlu adanya evaluasi regulasi mengenai prediksi dan pengadaan kebutuhan bibit ayam petelur. Ini penting dievaluasi agar bisa diantisipasi adanya kenaikan permintaan konsumsi masyarakat terhadap telur konsumsi. Selain itu yang perlu dievaluasi adalah regulasi tentang larangan penjualan telur hatching egg ayam broiler (telur tertunas) fresh sebagai telur konsumsi,” kata Niken dalam keterangan resmi yang yang diterima Redaksi Trubus.id.

Pada dasarnya, terjadinya perubahan harga telur adalah karena adanya ketidakseimbangan antara supply dan demand telur. Selain itu, distribution channel penjualan telur juga masih cukup panjang. Selama ini masih melalui broker atau trader telur, seharusnya langsung ke retailer biar sedekat mungkin dengan konsumen.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020