trubus.id
Dosen IPB University Bagikan Trik Mengendalikan Rayap

Dosen IPB University Bagikan Trik Mengendalikan Rayap

Astri Sofyanti - Minggu, 27 Des 2020 11:33 WIB

Trubus.id -- Dosen Muda IPB University dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Nadzirum Mubin, SP, MSi membagikan trik mengendalikan hama rayap. Dirinya mengatakan bahwa serangan rayap merupakan musuh besar di pertanian, perkebunan, maupun di permukiman karena sifatnya yang hidden infestation atau diam-diam tetapi merusak beragam tanaman atau furnitur. Diketahui bahwa rayap mampu menyebabkan kerusakan hingga lima persen dari jumlah tanaman kelapa sawit. Berarti dalam satu hektar, terdapat 7-8 tanaman yang terserang rayap.

Dirinya mengatakan bahwa di lapangan, serangan rayap merupakan musuh besar di pertanian, perkebunan, maupun di permukiman karena sifatnya yang hidden infestation atau diam-diam tetapi merusak beragam tanaman atau furnitur. Diketahui bahwa rayap mampu menyebabkan kerusakan hingga lima persen dari jumlah tanaman kelapa sawit. Berarti dalam satu hektar, terdapat 7-8 tanaman yang terserang rayap.

“Rayap merupakan kelompok serangga sosial yang berasal dari ordo Blattodea epifamili Termitoidea. Banyak spesies rayap yang diketahui, tetapi yang umum diketahui dapat menyebabkan serangan paling tinggi adalah kelompok rayap tanah spesies Coptotermes curvignathus. Selain itu, ada juga rayap yang berpotensi menyebabkan kerusakan pada beragam tanaman budidaya seperti rayap Macrotermes gilvus, Odontotermes javanicus, Microtermes insperatus, serta Schedorhinotermes javanicus,” kata Nadzirum dalam keterangan tertulisnya.

Sebelum melakukan pengendalian yang benar, sebaiknya kita perlu mengetahui biologi serta perilaku dari rayap yang akan dikendalikan. Perilaku rayap yang perlu diketahui adalah rayap selalu menghindari cahaya atau tidak menyukai adanya cahaya langsung. Perilaku ini disebut dengan perilaku kriptobiotik (kecuali laron) sehingga rayap akan membuat liang kembara yang terbuat dari tanah. Liang kembara ini berfungsi melindungi tubuh rayap dari paparan cahaya secara langsung sehingga rayap dapat mencari sumber pakan dan menstranfer pakan hingga ke sarangnya kembali.

Untuk itu, jika terdapat liang kembara dari tanah, maka dapat dipastikan bahwa di tempat tersebut terdapat rayap. Selain perilaku menghindari cahaya, rayap juga mempunyai perilaku saling memberi makan yang dilakukan oleh kasta pekerja atau disebut dengan perilaku Trofalaksis. Perilaku ini berfungsi untuk mentransfer nutrisi/makanan dari satu individu ke individu lainnya. Umumnya, kasta prajurit dan reproduktif tidak mampu mencari makan sendiri, sehingga perlu bantuan dari kasta pekerja untuk mencukupi kebutuhan nutrisinya.

Trofalaksis dapat dilakukan melalui transfer nutrisi dari mulut-mulut atau oral feeding atau transfer dari anus-mulut atau fecal feeding. "Rayap dapat menyerang tanaman apapun karena rayap membutuhkan selulosa sebagai sumber pakannya. Daun, ranting, kayu lapuk, pelepah sawit, akar dan sebagainya yang memiliki sumber selulosa menjadi target utama sumber pakan bagi rayap. Sehingga akan sulit dilakukan pengendalian tanpa mengetahui biologi dan perilaku dari rayap tersebut,” terangnya.

Oleh karena itu, pengendalian dapat dilakukan dengan menggunakan cara fisik, mekanik, biologi maupun kimiawi. Cara fisik misalnya dengan sistem budidaya. Yaitu membuat jarak tanam yang tepat sehingga cahaya matahari dapat masuk mencapai permukaan tanah.

Dengan adanya sumber cahaya yang masuk ke dalam sela-sela tanaman budidaya, maka akan mengurangi infestasi serangan rayap. Pemusnahan dan pembongkaran sarang rayap juga dapat dilakukan agar sumber dari koloni dapat langsung dimusnahkan.

Monitoring tanaman budidaya dapat secara berkala dilakukan untuk melihat tingkat serangan dari rayap. Sementara itu, pengendalian dengan menggunakan agens biologis dapat dilakukan dengan memanfaatkan musuh alami rayap seperti semut, cendawan entomopatogen (Merarrhizium anisopliae, Beauveria bassiana), nematode entomopatogen (Steinernema dan Heterohabditis).

Selain pengendalian menggunakan agens biologis, pengendalian juga dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida baik yang berasal dari tanaman/botani atau dari sisntetik. Insektisida botanis yang dapat dimanfaatkan yaitu minyak cengkeh, minyak atsiri serai wangi, daun dan biji mimba serta asap cair (tandan kelapa sawit, cangkang kelapa dan lain-lain) atau menggunakan insektisida sintetik yang berbahan aktif fipronil, imidakloprid, etiprol serta hexaflumuron. Termisida berbahan aktif hexaflumuron paling banyak digunakan karena bersifat slow release/action.

Dengan mode of action dari bahan aktif serta memanfaatkan dari perilaku rayap (membawa sumber pakan ke sarang serta memberikan pakan ke individu lainnya), alhasil, semua individu rayap dalam satu koloni akan terpapar termitisida berbahan aktif hexaflumuron tersebut dalam waktu tertentu.

“Pengelolaan rayap di pertanian, perkebunan maupun di permukiman tidak akan berhasil tanpa mengetahui siapa dan bagaimana perilaku dari target yang akan dikendalikan. Ketika sudah mengetahui kedua hal tersebut, maka pengendalian yang terintegrasi akan lebih mudah dan dapat tepat sasaran,” tandasnya.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020