trubus.id
Peristiwa » Doni Monardo: Kerugian Jiwa Akibat Bencana dan Pan...
Doni Monardo: Kerugian Jiwa Akibat Bencana dan Pandemi di Indonesia Terbanyak di Dunia

Doni Monardo: Kerugian Jiwa Akibat Bencana dan Pandemi di Indonesia Terbanyak di Dunia

Astri Sofyanti - Jumat, 18 Des 2020 07:35 WIB

Trubus.id -- Ketua Satgas Penanganan Covid-19 yang juga Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir, Indonesia mengalami kerugian jiwa hingga infastruktur yang cukup tinggi. Merujuk pada data, Indonesia berada pada peringkat pertama negara dengan jumlah korban jiwa terbanyak di dunia akibat bencana di beberapa wilayah. Dari kerugian akibat kebakaran hutan yang bernilai miliaran dolar hingga bencana awal tahun 2020 seperti banjir serta pandemi Covid-19.

“Indonesia berada pada titik yang amat berisiko, sehingga BNPB perlu gencar menjaga keselamatan melalui mitigasi bencana yang tepat,” kata Doni lewat keterangan tertulisnya.

Ia juga mengatakan bahwa setiap penduduk seharusnya turut paham dan sadar akan risiko bencana. BNPB telah membagi empat kluster kebencanaan. Yakni geologi dan vulkanologi, hidro-metereology i (kering), bencana non alam dan hidro-meteorology ii (basah). BNPB telah mengupayakan revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) prioritas dan reforestasi. Begitu pula dengan tindakan pra bencana, saat terjadi bencana dan pasca bencana. Tindakan pasca bencana dapat dilakukan dengan penanaman vegetasi yang memulihkan dan melindungi misalnya vetiver sebagai pencegah longsor.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Bencana (PSB), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB University, Dr Yonvitner mengatakan bahwa IPB University telah menunaikan dua kegiatan yang diamanatkan oleh BNPB. Kegiatan tersebut yakni kegiatan pemulihan sumber daya alam di Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dan kegiatan pemulihan sosial ekonomi di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi. Kegiatan tersebut telah ditunaikan sesuai dengan tujuan dan target BNPB untuk menyalakan kembali semangat agar ekonomi warga kembali pulih dari bencana.

Menurutnya, hasil kegiatan penanaman vetiver dalam langkah pencegahan longsor di Desa Cileuksa, Kecamatam Sukajaya tingkat keberhasilannya mencapai 90 persen. Hasil di Desa Pasir Madang, Kecamatan Sukajaya juga mencapai tingkat keberhasilan hingga 80 persen.  

“Ini harus menjadi catatan kita bahwa ke depan, kita harus kembali memperkuat (kegiatan penanaman vetiver) agar daerah-daerah berisiko dan daerah tebing di Kabupaten Bogor, seperti Sukajaya untuk dilanjutkan,” ungkapnya.

Di dalam konteks tersebut, satu hal lain yang menjadi catatan  adalah konsep vetiver yang dibangun adalah vetiver system. Penanaman vetiver tersebut dilakukan karena adanya kebutuhan, tak hanya sebagai penahan abrasi. Vetiver juga digunakan sebagai penghasil ekonomi bagi masyarakat melalui pemanfaatan minyak atsirinya.  Ia menyebutkan bahwa perlu adanya intervensi di sektor hilir agar vetiver dapat menjadi komoditas yang ditanam oleh masyarakat.

Kegiatan pemulihan ekonomi berbasis adat melalui intervensi dengan mengambil nilai budaya masyarakat adat telah diterapkan di Kampung Adat Sirna Resmi, Sukabumi.

“Hal yang diperlukan adalah partisipasi masyarakat dengan kulturnya. Perguruan tinggi mitra tidak perlu merubah kultur masyarakat yang sudah ada namun menawarkan inovasi yang dipunya dan mengajak masyarakat untuk terlibat,” tutup Doni.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020