trubus.id
Lima  Strategi Kementan Capai Ekspor Pertanian Rp37,5 Triliun

Lima Strategi Kementan Capai Ekspor Pertanian Rp37,5 Triliun

Binsar Marulitua - Selasa, 24 Nov 2020 21:16 WIB

Trubus.id -- Badan Karantina Pertanian (Barantan)  Kementerian Pertanian menyatakan nilai ekspor pertanian dari Januari hingga Oktober 2020 mengalami peningkatan sebesar 12,09 persen menjadi sekitar Rp37,5 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kalangan eksportir mengakui kebijakan Barantan Kementerian Pertanian  sangat mendukung kegiatan ekspor di kala pandemi.

Capaian ini  terungkap dalam diskusi webinar yang diselenggarakan Forum Wartawan Pertanian (FORWATAN) dan Badan Karantina Pertanian dengan tema  “Ekspor Pertanian : Strategi dan Peluang, Selasa (24 November 2020). Diskusi menghadirkan tiga pembicara yaitu  Ir. Ali Jamil, MP, Ph.d (Kepala Badan Karantina Pertanian RI), Dr. Sahara (Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB University), dan Ricky (Eksportir Tanaman Hias).

“Berdasarkan apa yang disampaikan Bapak Syahrul Yasin Limpo (Menteri Pertanian) dari data BPS di masa pandemi ini. Dapat kita katakan kinerja pertanian termasuk ekspor pertanian tumbuh baik dibandingkan periode sama tahun lalu,” ujar Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil .

Ali Jamil menjelaskan, Kementan memiliki lima kebijakan strategisnya dalam menyukseskan Gerakan Tiga kali Ekspor (Gratieks) yang dicanangkan Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo, yang diharapkan pada akhir 2024 ekspor Indonesia mencapai Rp1.800 triliun dari Rp550 triliun pada 2019.

Adapun lima kebijakan strategis tersebut yaitu pertama, meningkatkan volume ekpor dengan bekerjasama dengan pemerintah daerah dan stake holder untuk melakukan terobosan dan inovasi kebijakan ekspor (3K). Kedua, menambah negara mitra dagang melalui  kerjasama dan harmonisasi aturan protokol karantina baik bilateral maupun multilateral.

"Ketiga, mendorong pertumbuhan eksportir baru dengan cara Kementan mendorong tumbuhnya agropreneur berorientasi ekspor,"tambahnya.

Kebijakan strategi yang  keempat, lanjut Ali Jamil, yakni menambah ragam komoditas ekspor melalui mendorong ekspor dalam bentuk olahan, kerjasama dengan pemerintah daerah & stake holder menggali potensi daerah (iMace) dan mendorong tumbuhnya investasi. Kelima, meningkatkan frekuensi pengiriman dengan percepatan layanan ekspor.

“Seperti teman-teman ketahui, Pak Menteri Punya program  dalam lima tahun ada 2,5 juta petani milenial. Setiap tahunnya 500 ribu orang. Selain itu, kami juga mengapresiasi program Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, yang meminta 1.000 petani milenial untuk menggarap hektare lahan tidur milik pemerintah," ujar Jamil.

Ali Jamil juga menambah ragam komoditas ekspor dengan mengeksplor ragama komoditas, seperti tanaman hias yang memiliki banyak ragam.” Arahan Presiden dan Menteri jangan lagi mengekspor dari hulunya, karena permintaan hilirnya masih unlimited” ujar Jamil.

Selain itu, Kementan juga mendorong peningkatan frekuensi pengiriman, peningkatan volume ekspor dan menambah negara mitra dagang melalui kerja sama perjanjian sanitary and phytosanitary (SPS) dengan negara mitra.

Sementara itu, Eksportir Tanaman Hias, Ricky Subagja, menyebutkan bahwa ekspor pertanian semakin mudah dengan adanya kebijakan Badan Karantina Pertanian. Di atas lahan seluas 250 meter persegi, Ricky membudidayakan tanaman hias seperti philoderon, monstera, calathea, dan adenium. “Walaupun lahan saya tidak luas, tetapi saya merangkul petani lainnya. Kurang lebih ada 10 petani yang saya bina,” ujarnya. 

Ia mengatakan negara tujuan ekspor diantaranya Jerman, Kanada, Belgia, dan Amerika Serikat. Dalam satu bulan, volume ekspor mencapai 1.000-2.000 tanaman berbagai jenis. “Regulasi sangat mudah dari pemerintah. Selama ini, kita tidak menyalahi peraturan,” ujarnya. 

Ketua Departemen Ilmu Ekonomi FEM-Institut Pertanian Bogor (IPB) Sahara menegaskan sektor pertanian sangat Tangguh di tengah kondisi pandemi covid-19. Kendati demikian, dirinya menyarankan supaya pemerintah memperkuat seperti  dwelling time di pelabuhan. “Ini yang harus dikurangi. Lamanya waktu bongkar muat membuat tidak efisien,”tegasnya.

Terkait dengan negara tujuan ekspor, menurut Sahara diperlukan langkah preventif bagi para eksportir mendiversifikasi pasar tujuan ekspor.

“Kalau ekspor hanya andalkan satu negara sama seperti menyimpan telur dalam satu keranjang. Risiko pecahnya sangat tinggi,”tutup Sahara.

 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020