trubus.id
Sektor Pertanian Jadi Tumpuan Perekonomian Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Sektor Pertanian Jadi Tumpuan Perekonomian Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Astri Sofyanti - Selasa, 24 Nov 2020 08:58 WIB

Trubus.id -- Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen (Balitbangtan) Kementerian Pertanian Prayudi Syamsuri yang juga alumnus IPB University mengungkapkan IPB memiliki banyak peranan dalam mewarnai pengambilan kebijakan sektor pertanian di lembaga pemerintahan. Hal tersebut diucapkannya ketika mengikuti diskusi daring dengan topik “Pertanian Membangun Asa di Masa Pandemi Covid-19” menurut kacamata pemangku kebijakan, yaitu pemerintah.

Diakuinya, pengambil kebijakan pertanian terkadang terkesan lamban, namun di balik itu terdapat proses yang panjang agar kebijakan yang dibangun dapat membawa dampak positif bagi semua pihak. Dampak Covid-19 sendiri telah mempengaruhi perubahan lingkungan strategis global, mulai dari gangguan suplai pangan hingga ancaman krisis pangan yang muaranya akan berpengaruh pada ketahanan pangan nasional.

“Sehingga masing-masing negara perlu mengencangkan ikat pinggang dalam menjaga ketahanan dan kelancaran rantai suplai pangan terutama setelah terjadinya perubahan pola distribusi akibat pandemi. Tantangan dalam pengambilan kebijakan dan program Kementerian Pertanian saat ini lebih mengarah pada peningkatan produktivitas pangan pokok hingga menjaga stabilitas harga di pasar bagi pemenuhan target kesejahteraan petani,” kata Prayudi dalam keterangan tertulis yang diterima Redaksi Trubus.id.

Food and Agriculture Organization (FAO) telah memperingatkan bahwa tiap negara harus mempertahankan rantai pasokan selama pandemi sehingga supply chain, logistik dan stok di industri pertanian Indonesia tetap stabil. Di tengah pandemi, sektor pertanian tetap bertahan sebagai penyumbang tertinggi pertumbuhan ekonomi nasional dan tetap dapat tumbuh secara positif di angka 2,15 persen. Padahal subsektor lain masih mengalami pertumbuhan negatif.

“Kita bisa lihat secara nyata di lapangan, pertanian ini menjadi tumpuan di daerah dan masyarakat, walaupun ada pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pengurangan jam kerja, tetap bisa beralih ke pertanian,” ungkapnya.

Hasil survei terhadap nilai tukar usaha pertanian dan pertumbuhan ekspor juga mengalami peningkatan sehingga anggapan bahwa pertanian merupakan tumpuan ekonomi di masa sulit memang benar adanya. Kebijakan penyediaan pangan pertanian yang disusun oleh Kementerian Pertanian saat ini lebih mengedepankan pada program peningkatan ketahanan pangan. Yakni peningkatan kapasitas produksi, diversifikasi pangan lokal, penguatan cadangan sistem logistik pangan, pengembangan pertanian modern, dan gerakan tiga kali ekspor.

Peluang sektor pertanian di tengah lingkungan strategis yang kini berubah dan tak pasti, diperkirakan akan mengarah pada peningkatan permintaan konsumen terhadap makanan siap saji atau makanan olahan. Tren makanan olahan tersebut dapat menjadi peluang bagi para praktisi pertanian, sehingga kini tidak hanya lagi berbisnis berbasis on farm namun merambah pada preferensi konsumen. Selain bisnis agroindustri, bisnis agroservice juga diperkirakann meningkat, mengingat saat ini pemakaian transportasi online kian marak dan sukses di lapangan.

Hal-hal tersebut dapat menggambarkan sektor pertanian dalam arti luas bagi mahasiswa yang ingin memulai terjun di sektor tersebut. Ia juga menyampaikan bahwa para mahasiswa dan lulusan baru harus memiliki pemahaman mengenai nilai kehilangan hasil atau food waste produk pertanian, pengolahan pasca panen, perubahan iklim, dan perubahan teknologi. Hal tersebut dibutuhkan mengingat produksi pertanian membutuhkan sumber daya yang besar sehingga ia ingin mendorong mahasiswa agar dapat menciptakan produk pertanian yang ramah sumber daya di masa depan tanpa melupakan kualitas produk yang dapat meningkatkan nilai tambah dan daya saing.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020