trubus.id
KWT MBR Katulampa Turut Dorong Program Berkebun dengan Pertanian Ramah Lingkungan

KWT MBR Katulampa Turut Dorong Program Berkebun dengan Pertanian Ramah Lingkungan

Astri Sofyanti - Kamis, 19 Nov 2020 18:34 WIB

Trubus.id -- Dalam rangka memperkuat ketahan pangan masyarakat serta pemulihan ekonomi akibat dampak dari pandemi Covid-19, Pemerintah Kota Bogor, menginisiasi Gerakan Bogor Berkebun. Melalui Gerakan Bogor Berkebun, Walikota Bogor, Bima Arya ingin meningkatkan kesadaran masyarakat Kota Bogor melalui pemanfaatan lahan pekarangan, lahan-lahan terbangkalai, hingga area-area perkentoran menjadi lahan pertanian yang ramah lingkungan

Melalui program Bogor Berkebun, Pemerintah Kota Bogor ingin membangun ekosistem pertanian perkotaan mulai dari produksi, pemasaran, pendanaan berbasis komunitas. Program ini diharapkan bisa menguatkan kelembagaan kelompok tani serta sistem pemasaran yang berbasis komunitas dan koperasi. Walikota Bogor, Bima Arya berharap, Kota Bogor bisa mewujudkan ketahanan pangan dan kemandirian pangan dari tata kelola sampah organik.

Satu dari sekian banyak Kelompok Wanita Tani (KWT) yang telah berkontribusi dalam Gerakan Bogor Berkebun adalah KWT Berkah Mutiara Bogor Raya Katulampa. Titin Sri Suhartini, salah seorang Pengurus KWT MBR Katulampa, Titin Sri Suhartini mengugkapkan bahwa warga di Perumahan Mutiara Bogor Raya Katulampa bersama Pemerintah Kota Bogor mengubah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST 3R) menjadi pusat edukasi untuk semua budidaya yang bisa memanfaatkan larva BSF sebagai sumber pakan ternak. Mulai dari budidaya lele, beternak ayam, hingga burung puyuh. Semua kegiatan budidaya ini bisa memberi banyak alternatif solusi dari memanfaatkan sampah organik menjadi sumber pangan sehat bagi masyarakat.

“TPST 3R ini mulai terbentuk sejak tahun 2010. Selama 6 tahun beroperasi karena tidak melibatkan ibu-ibu sehingga banyak pengelolaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Pada tahun 2016, kami diajak untuk menata ulang menajemennya untuk dianalisa. Pertama kali datang, semua area di sini adalah tumpukan sampah,” kata Titin saat ditemui Trubus.id di lokasi TPST Katulampa, Bogor.

Pada tahun pertama, warga melakukan manajemen pengelolaan sampah, mulai dari menata ulang karyawan, jadwal operator, hingga penarikan iuran sampah. Berjalan di tahun kedua, menata ulang pengelolaannya. Di tahun kedua warga melakukan optimalisasi proses untuk mengurangi volume sampah yang dikumpulkan dari masyarakat.

“Kami menangani 1.000 KK, dari 3 RW, yang terdiri dari 18 RT. Dalam satu hari, sampah yang dikumpulkan dari 3 RW lebih dari 800 kilogram yang terdiri dari sampah ekonomis, sampah organik dan sampah residu. Dari sampah ekonomis itu, kita bekerja sama dengan pelapak, semua sampah yang bisa dijual akan dikumpulkan dan diambil pelapak setiap hari Kamis,” ujarnya.

Kemudian sampah organik yang telah dipilah akan diolah dengan biokonversi lalat BSF. Terakhir adalah sampah residu, yang terdiri dari popok bayi, pembalut yang tidak bisa diolah lagi akan dibuang ke dump truck.

“Dari semua volume sampah yang dikumpulkan dari warga di 3 RW, sebanyak 70 persennya sampah diolah dengan biokonversi akan menghasilkan dua produk utama yaitu larva BSF, yang digunakan sebagai sumber protein hewan peliharaan seperti lele, ayam dan burung puyuh. Sementara produk lainnya adalah kompos organik yang digunakan untuk pupuk pertanian organik. dari semua hasil sampah kita kembali lagi menjadi sumber pangan bagi warga sekitar, sehingga benar-benar zero waste organic,” tutur Titin.

Sementara itu, Ketua KWT Berkah MBR Katulampa Kasiyati menurutkan, kegiatan yang dilakukan warga di sini dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan sejalan dengan program Pemerintah Kota Bogor “Bogor Berkebun”.

“Warga di sini bersinergi dan berkontribusi menjaga lingkungan sekitar, sekaligus mewujudkan kemandirian pangan di tengah pandemi Covid-19,” ujar Yati.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020