trubus.id
Menimbang Urgensi Lockdown Perusahaan Saat Karyawan Terpapar Covid-19

Menimbang Urgensi Lockdown Perusahaan Saat Karyawan Terpapar Covid-19

Binsar Marulitua - Kamis, 15 Okt 2020 18:04 WIB

Trubus.id -- Perusahaan dan dunia usaha memiliki kontribusi besar dalam memutus mata rantai penularan Covid-19 karena besarnya jumlah populasi pekerja dan mobilitas, serta interaksi. Untuk itu, perlu ada upaya pencegahan penularan Covid-19 di dunia usaha. 

Perlukah perusahaan yang berupaya untuk menerapkan protokol kesehatan secara ketat di masa pandemi Covid-19, melakukan lockdown untuk memutus mata rantai penularan?

Kepala Seksi Kesehatan Okupasi Direktorat Kesehatan Kerja dan Olahraga, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Inne Nutfiliana, mengatakan perusahaan tidak perlu melakukan penutupan perusahaan atau melakukan lockdown jika terdapat salah satu pegawai atau pekerja, yang terkena atau terkonfirmasi positif mengidap virus Covid-19. 

Berdasarkan peraturan Kemenkes 328 Tahun 2020, dosimisi untuk melakukan penutupan kantor berdasarkan presing pelacakan terduga penyebaran covid-19. Tetapi berdasarkan revisi Kemenkes 413 Tahun 2020, pelacakan kontak berat harus dilakukan sesuai definisi yang ada. Dosimisi untuk melakukan presing dilakukan berdasarkan ruangan untuk dilakukan pelacakan terduga penyebaran covid-19 pada suatu ruangan. 

Inne mengakui, agak sulit melakukan identifikasi  satu persatu karyawan atau pekerja dalam perusahann skala industriyang berjumlah ribuan orang, Untuk itu,  slot untuk melakukan kontak dalam satu ruangan dikembalikan pada definisi peraturan Kemenkes 413 Tahun 2020, di man pelacakan kontak berat harus dilakukan sesuai definisi yang ada yakni apabila pegawai yang positif tersebut kontak dengan pegawai lainnya selama kurang lebih 15 menit dengan jarak  1 meter. 

"Yakni apabila pegawai yang postif terkena viris Covid-19 tersebut, kontak dengan pegawai lainnya selama kurang lebih 15 menit dengan jarak 1 meter," jelas Inne dalam diskusi daring, Edukasi: Kesehatan dan Keselamtan Kerja sebagai Pencegahan Terjadinya Covid-19 di Perkantoran, Kamis (15/10/2020).

Inne menambahkan, regulasi dalam Kemenkes 328 tahun 2020  juga tidak mengesahkan sitem lockdown pada perusahan. Akan tetapi, perusahaan atau tempat kerja wajibmelakukan pembersihan dan desinfeksi ruangan perkantoran jika terdapat pekerja atau karyawan yang  terkontaminasi positif-19.  Apabila tempat kerja  memiliki kemampuan melakukan  desinfeksi dan pembersihan secara langsung, maka tidak perlu menutup perusahan selama periode tertentu. 

"Dalam waktu 1 hari ruangan sudah langsung bisa dipakai apabila perusahaan bisa dan mampu memiliki sistim desinfeksi dan pembersihan tersebut," tambahnya. 

Inne juga menambahkan, masing-masing daerah sudah memiliki kebijakan Peraturan Daerah (Perda) masing-masing dalam melakukan lockdown perusahaan.  Untuk Provinsi DKI Jakarta, jika terdapat karyawan atau pekerja terinfeksi Covid-19 dan terjadi cluster, kebijakan Perda mewajibkan maka harus dilakukan pembersihan dan desinfeksi yang dilakukan selama tiga hari.

"Tetapi ingat, ini hanya jika terjadi cluster pegawai yang terkena kontak di dalam tempat kerja. Bukan di rumah, jalanann atau menuju tempat kerja," ungkapnya. 

Inne juga menjelaskan, dalam situasi pendemi Covid-19 penerapan Kesehatan dan Keselamtan Kerja (K3) Perkantoran yang mengacu pada PERMENKES NO. 48/2016 dalam upaya pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat kerja diharapkan dapat  berkontribusi besar dalam memutus mata rantai penularan. PERMENKES NO. 48/2016 tentang Standar Kerja (K3) Perkantoran 

Sementara itu, Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi RSUP Persahabatan, Ariningsih mengatakan, kesiapan dan persiapan kembali bekerja bagi karyawan terdampak Covid-19 meliputi aspek fisik dan mental.  Karyawan terdampak Covid-19 terbagi ke dalam 4 kategori, yakni kategori Suspek Covid-19, Probable, Konfirmasi Covid-19, Kontak Erat. 

"Hal ini untuk memastikan bahwa seorang individu dapat melakukan tugas dalam pekerjaannya cecara efektif, tanpa menimbulkan risiko bagi dirinya sendiri maupun pekerja lainnya," jelasnya. 

Ariningsih memaparkan beberapa tahapan pekerja atau karyawan yang bisa kembali bekerja pasca terkonfirmasi Covid-19. Yang pertama, tanpa gejala (asimptomatik) dan sudahmelakukan  isolasi mandiri selama 10 hari. Apabila sudah memenuhi isolasi 10 hari tidak muncul gejala atau sudah memenuhi selesai karantina 14 hari maka dapat kembali bekerja.

"Apabila selama isolasi muncul gejala dilakukan tata laksana sesuai kriteria kasus konfirmasi simptomatik," tambahnya. 

Ariningsih menjutkan pemaparan beberapa tahapan pekerja atau karyawan yang bisa kembali bekerja pasca terkonfirmasi Covid-19. Yang pertama, tanpa gejala (asimptomatik) dan sudah melak  apabila gejala ringan atau sedang dilakukan isolasi 10 hari serta dinyatakan selesai isolasi jika sudah 10 hari ditambah 3 hari setelah tidak ada gejala demam dan gangguan pernafasan. Untuk gejala berat/kritis maka di rawat di Rumah Sakit (RS), dilakukan follow up RT-PCR jika hasil negatif dan sudah isolasi 10 hari maka dapat dirawat di non isolasi atau dipulangkan. Setelah dipulangkan tetap isolasi minimal 7 hari untuk kewaspadaan muncul gejala kembali.

"Apabila hasil follow up RT PCR pada kasus konfirmasi persisten positif penentuan sembuh berdasarkan assesmen  dokter penanggung jawab pasien (DPJP)," jelasnya lagi. 

Ariningsih juga menjelaskan, ada 5 langkah program kembali bekerja yakni yang pertama penilaian kelaikan kerja berdasarkan, deskripsi pekerjaan, tuntutan pekerjaan, status kondisi kesehatan, status kecacatan, risiko (diri sendiri, rekan kerja, lingkungan), toleransi pekerja, atasan, dan rekan kerja dan  penentuan status kelaikann kerja. 

Selanjutnya untuk tahap kedua adalah identifikasi penyesuaian, ketiga kesepakatan pihak terkait selanjutnya keempat, identifikasi hambatan dan dukungan dan tahapan kelima implementasi penyesuaian.

Kesiapan dan persiapan kembali bekerja terdampak Covid-19 berpengaruh pada individu, rekan kerja dan intansi/organisasi. Untuk persiapan kembali bekerja bagi karyawan terdampak COVID-19 Individu, dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan (mencuci tangan, memakai masker, jaga jarak), memastikan kondisi fisik sehat dan menjaga daya tahan tubuh, kondisi mental baik, mengelola stress (berpikir positif, tetap semangat), menjaga kebersihan alat dan tempat kerja termasuk pakaian kerja, Pemantauan kesehatan mandiri dan peningkatan penerapan adaptasi kebiasaan baru di instansi. 

Sementara itu kesiapan dan persiapan kembali bekerja terdampak Covid-19 bagi rekan kerja, berupa penerimaan, dukungan dan simpati terhadap rekan kerja terdampak Covid-19, menerapkan protokol kesehatan (mencuci tangan, memakai masker, jaga jarak) dan menjaga daya tahan tubuh. Selain itu, menjaga kebersihan alat dan tempat kerja termasuk pakaian kerja, peningkatan penerapan adaptasi kebiasaan baru di instansi

"Jika sakit segera melapor ke atasan dan tata laksana selanjutnya (isolasi mandiri, dan lain-lain)," tambahnya. 

Selanjutnya, Ariningsih memaparkan, persiapan kerja kembali bekerja terdampak Covid-19 pada institusi/organisasi adalah penerimaan, dukungan dan simpati, tidak ada stigma terhadap karyawan terdampak Covid-19, melakukan program pencegahan dan pengendalian COVID-19 di tempat kerja, penerapan dan monitoring adaptasi kebiasaan baru ditempat kerja, edukasi rutin kepada seluruh karyawan dan kompensasi untuk periode karantina dan selama sakit. 

Secara garis besar terdapat lima kontrol hirarki bagi para pekerja terdampak Covid-19 pada institusi/organisasi yakni, elimination, subtitution, engineering controls, administrative controls, PPE. 

Ariningsih menyimpulkan, penilaian kembali bekerja mempertimbangkan aspek kapasitas, risiko dan toleransi.

"Perlu perhatian aspek mental dukungan dan penerimaan dari rekan kerja dan atasan, tidak ada stigma dan deskriminasi," tuturnya. 

Menurut data Kementerian Kesehatan, hingga 12 Oktober 2020, terdapat 336.716 orang terkonfirmasi positif mengidap Ccovid-19 pada 34 Provinsi di Indonesia. Pasien yang dinyatakan sembuh tercatat 258.519 orang, sementara 11.935 orang lainnya terkonfirmasi meninggal dunia.  (Binsar). 

  

  

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020