trubus.id
Peristiwa » LIPI Usulkan 7 Strategi Percepatan Swasembada Dagi...
LIPI Usulkan 7 Strategi Percepatan Swasembada Daging Nasional

LIPI Usulkan 7 Strategi Percepatan Swasembada Daging Nasional

Astri Sofyanti - Jumat, 09 Okt 2020 09:18 WIB

Trubus.id -- Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahruddin mengungkapkan, saat ini ketersediaan produksi daging sapi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. Dirinya menilai untuk mencapai kemandirian pangan khususnya daging perlu dilakukan sejumlah kebijakan. Hal tersebut dikatakan Syahruddin dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Pembibitan Sapi Potong Lokal Indonesia Berbasis Bioteknologi Reproduksi Mendorong Percepatan Swasembada Daging Nasional” pada Pengukuhan Profesor Riset Selasa lalu.

Syahruddin mengusulkan tujuh strategi terkait percepatan swasembada daging nasional. Pertama, penciptaan bibit unggul melalui breeding dan perbaikan genetik.

“Kedua, peningkatan populasi dan mutu genetik melalui reproduksi dan pembiakan,” jelasnya melalui keterangan tertulisnya, Rabu (7/10/20).

Ketiga, pemenuhan pakan berkualitas sepanjang tahun berbasis bahan baku lokal. Keempat, pengendalian dan pengontrolan kesehatan hewan dan betina produktif.

Kemudian, pasca panen dan pen-golahan untuk menciptakan margin dan nilai (value creation). Keenam, penerapan regulasi dan kebijakan pemerintah yang kondusif. Terakhir, pengembangan SDM peternak.

Dirinya menambahkan bahwa penerapan bioteknologi reproduksi dipadukan dengan teknologi marka genetik dalam seleksi program pemuliabiakan sapi potong dapat mempercepat perolehan bibit unggul. Pemanfaatan bibit unggul akan meningkatkan produktivitas sekaligus populasi sapi.

“Implementasi iptek tersebut ke masyarakat ataupun industri peternakan, akan mempercepat pencapaian swasembada daging nasional, secara tidak langsung juga mengedukasi peternak kecil dan stakeholders,” ujarnya.

Lebih lanjut Syahruddin menjelaskan, penerapan bioteknologi reproduksi dalam perbibitan sapi telah menghasilkan sapi lulus uji performa serta tersertifikasi SNI, perbaikan penampilan ternak hasil seleksi, dan kelahiran turunan pertama sapi Belgian Blue double muscle di Indonesia. Selain itu, ia menambahkan, kelahiran sapi hasil in vitro fertilisasi dan embrio transfer menggunakan sperma sexing yang pertama di Indonesia merupakan aplikasi teknologi peternakan yang sangat strategis.

“Iptek tentang bioteknologi reproduksi telah dilaksanakan di 21 provinsi di Indonesia dan telah berhasil meningkatkan kelahiran ternak unggul serta peningkatan kapasitas SDM peternak,” tuturnya.

Hal ini membuktikan bahwa dengan SDM dan iptek yang dimiliki, Indonesia mampu menciptakan bibit unggul, sekaligus meningkatkan populasi dan mutu genetik ternak lokal melalui penerapan iptek reproduksi peternakan. Dirinya berharap, kontribusi ini mampu menjawab tantangan pemenuhan swasembada daging nasional.

Syahruddin menegaskan, diperlukan adanya paradigma baru dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional melalui pendataan ternak yang akurat, serta pengelolaan dan pemanfaatan sumber-daya lokal secara optimal.

“Pelibatan sumber daya lokal berupa komoditas ternak, alam dan lingkungan, manusia, teknologi dan sosial budaya merupakan unsur penting dalam meningkatkan daya saing peternakan nasional,” ujarnya kembali.

Menurutnya, hal ini memerlukan kerja sama sejumlah pihak seperti, akademisi, instansi pemerintahan, pengusaha hingga masyarakat peternak. Ia juga menambahkan, peran berbagai pihak ini diperlukan untuk mempercepat pencapaian swasembada daging nasional.
 
“Regulasi yang kondusif dan sinergi dari pemerintah, keterlibatan akademisi dalam menciptakan teknologi dan inovasi, serta peran swasta dan masyarakat dalam hilirisasi hasil riset harus diintegrasikan agar permasalahan penerapan bioteknologi peternakan bisa diatasi,” tutup Syahruddin

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020