trubus.id
2015-2019,  Hanya 20 Persen dari  304 Kasus Mamalia Laut Terdampar di Indonesia Terungkap

2015-2019, Hanya 20 Persen dari 304 Kasus Mamalia Laut Terdampar di Indonesia Terungkap

Binsar Marulitua - Senin, 07 Sept 2020 16:00 WIB

Trubus.id -- Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan laut (LPSPL) Sorong, Papua Barat mencatat pada tahun 2019, ada 39 kejadian biota terdampar di wilayah perairan Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Dari Catatan tersebut hanya 48 persen yang dapat ditangani langsung. 

"Hanya 48 persen yang dapat ditangani langsung. Sehingga penting keterlibatan mitra dalam membantu penanganan kejadian mamalia laut terdampar di remote area,” jelas Kepala LPSPL Sorong Santoso Budi Widiarto, mengutip siaran pers Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Senin (9/7/2020). 

Santoso menjelaskan, kejadian mamalia laut merupakan kejadian yang sulit diprediksi baik waktu dan tempatnya. Akan tetapi  kejadian mamalia laut terdampar ini memiliki kemungkinan yang sangat besar terjadi setiap tahunnya.

Hingga saat ini, pertanyaan penyebab kejadian mamalia laut terdampar banyak yang belum terjawab akibat keterbatasan pengetahuan. Menurutnya, diperlukan perspektif dari dokter hewan dan peneliti oseanografi untuk memberikan pengetahuan tentang kejadian mamalia laut terdampar.

Sementara itu, Dokter Hewan  World Wide Fund (WWF) Indonesia, Dwi Suprapti memaparkan bahwa, setiap kejadian mamalia laut terdampar membawa pesan yang cukup banyak.

Menurutnya kejadian mamalia laut terdampar mengindikasikan apa yang terjadi di lautan, seperti indikasi pencemaran laut, aktivitas yang tinggi di laut, atau  indikasi terhadap kondisi alam, cuaca buruk, dan gempa.

“Peran dokter hewan adalah melakukan nekropsi (pembedahan) pada mamalia laut yang terdampar, namun tetap tidak bisa sendiri, butuh peran dari berbagai pihak dengan porsinya masing-masing untuk mengungkap kejadian terdampar,” tutur Dwi.

Dwi mengungkapkan, ada 11 penyebab kejadian mamalia laut terdampar, yaitu akibat terjebak di air surut, penyakit, predasi, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, pencemaran laut, gempa dasar laut, cuaca ekstrim, blooming alga, dan badai matahari.

“Dari 304 kasus kejadian mamalia laut terdampar yang terjadi selama periode 2015-2019, lebih dari 80 % tidak terjawab penyebabnya karena keterbatasan SDM, biaya, dan informasi yang diperoleh. Dari 20 % yang terjawab, yang tertinggi karena bycatch, cuaca, tertabrak kapal, dan predator,” ungkapnya.

Dosen Ilmu Teknologi Kelautan IPB Agus Atmadipoera juga menyapaikan pendapat terkait kasus mamalia laut yang terdampar. Ia mengatakan, wilayah Indonesia Timur dengan topografi yang kompleks berperan dalam kejadian mamalia laut terdampar. Menurutnya, propagasi gelombang pasang surut internal berpotensi menghempaskan mamalia laut dari kedalaman termoklin ke dekat permukaan. Hal ini dapat menyebabkan dekompresi mamalia laut akibat perubahan yang mendadak.

“Ada kecenderungan peningkatan yang terdampar pada periode transisi dan musim timur. Hal tersebut didapatkan dari analisis data kejadian dengan pola meteo dan oseano” kata Agus.

Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) KKP  Aryo Hanggono mengungkapkan keberadaan mamalia laut sangat penting bagi keseimbangan ekosistem laut. Menurutnya, mamalia laut merupakan salah satu komponen kunci dalam rantai makanan, bersama dengan predator utama lainnya, sehingga jika populasi cetacea terganggu dapat menyebabkan terganggunya rantai makanan secara keseluruhan.

“Melihat nilai-nilai penting ini maka sudah sepatutnya keberadaan cetacea terutama di perairan Indonesia perlu dilindungi dan dilestarikan,” imbuhnya. 

Sementara itu, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Andi Rusandi juga mengatakan hal senada. Ditegaskannya bahwa kejadian terdamparnya mamalia laut ini dapat merepresentasikan kondisi rumah mamalia laut tersebut yaitu perairan laut kita.

“Laut Indonesia menjadi rumahnya mamalia laut, tapi belakangan ini sering terjadi kejadian mamalia laut terdampar,” ujar Andi 

Andi menjelaskan, bangkai mamalia laut terdampar dapat membahayakan masyarakat di sekitar lokasi kejadian jika tidak segera ditangani. Mamalia laut dapat membusuk dengan cepat, bahkan bisa meledak karena perutnya yang berisi gas. Bahayanya, isi perutnya bisa membawa bakteri yang berbahaya bagi manusia.

“Kami sangat berharap peran seluruh masyarakat. Untuk itu, saya meminta Kepala UPT di lingkungan Ditjen PRL untuk membuat jejaring, tidak hanya tingkat provinsi tetapi juga di tingkat desa,” jelas Andi. 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020