trubus.id
Urban Farming, Tren Gaya Hidup Hijau untuk Kemandirian Pangan di Perkotaan

Urban Farming, Tren Gaya Hidup Hijau untuk Kemandirian Pangan di Perkotaan

Astri Sofyanti - Senin, 31 Agu 2020 10:12 WIB

Trubus.id -- Dalam beberapa tahun terakhir, tren pertanian perkotaan (urban farming) semakin diminati masyarakat. Awalnya, konsep berkebun di lahan terbatas hanya sebatas inisiatif dari segelintir komoditas pecinta lingkungan. Tapi kini urban farming dianggap sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Food and Agriculture Organization (FAO) menjelaskan pertanian perkotaan sebagai industri yang memproduksi, memproses, dan memasarkan produk pertanian, terutama memenuhi permintaan harian konsumen di dalam perkotaan, dengan metode produksi intensif, memanfaatkan dan mendaur ulang sumber daya dan limbah perkotaan untuk menghasilkan beragam tanaman kebutuhan pangan masyarakat Perkotaan (Smit, J, A. Ratta, J. Nasr, 1996).

Wabah pandemi Covid-19 yang diikuti dengan adanya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), telah mendorong masyarakat memulai gaya hidup hijau dengan melakukan sejumlah aktivitas ramah lingkungan, salah satunya dengan bercocok tanam di pekarangan.

Manfaat Urban Farming

Urban farming yang berarti bercocok tanam di lingkungan rumah perkotaan dianggap beriringan dengan keinginan masyarakat kota untuk menjalani gaya hidup sehat. Hasil panen dari urban farming lebih menyehatkan lantaran sepenuhnya menerapkan sistem penanaman organik, yang tidak menggunakan pupuk kimia dan pestisida sintesis. Penurunan kualitas hidup yang dialami oleh masyarakat kota juga dapat kembali ditingkatkan lewat aktivitas berkebun di rumah yang menyegarkan pikiran.

Tujuan urban farming

Dengan cara bercocok tanam secara mandiri, pelakunya berharap bahwa hasil buah atau sayur yang ditanam terbebas dari zat-zat kimia berbahaya dan memiliki kualitas tinggi. Dengan demikian, sayur atau buah tersebut pun memiliki status gizi yang tinggi serta aman dikonsumsi.

Selain itu, urban farming juga sering dimanfaatkan sebagai sarana aktivitas fisik yang dapat membuat tubuh lebih aktif bergerak. Bahkan, beberapa orang yang melakukan urban farming mengaku bahwa tingkat stres yang mereka miliki menjadi lebih rendah sehingga kesehatan mental juga lebih terjaga.

Kegiatan urban farming juga dapat menjadi sumber penghasilan sehingga mengurangi pengeluaran. Kegiatan ini pun turut meningkatkan produksi pangan berskala rumah tangga, yang pada akhirnya membawa manfaat untuk mengurangi kebutuhan impor.

Atas dasar tersebut, urban farming terbukti dapat membantu dalam mengatasi masalah sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan secara bersamaan. Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan kepedulian masyarakat perkotaan terhadap lingkungan sekitar. Karena sejatinya, menanam banyak tanaman hijau dapat menjadi upaya memperbaiki kondisi lingkungan, yang pada akhirnya berperan dalam mengurangi panas maupun polusi udara akibat dampak dari pemanasan global.

Terlepas dari bagian gaya hidup sehat atau hanya tren sesaat, urban farming tentu bisa mendatangkan banyak manfaat. Jadi, jika Anda menganggap bahwa kegiatan ini adalah bagian dari gaya hidup sehat, tak ada salahnya jika langsung mencobanya.

Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta, misalnya, menyebut telah terjadi peningkatan tren kegiatan urban farming masyarakat ibu kota selama masa PSBB.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Provinsi DKI Jakarta, Darjamuni, beberapa waktu lalu mengatakan, indikasi terjadinya peningkatan aktivitas urban farming antara lain dapat dilihat dari meningkatnya permintaan terhadap benih hingga pupuk.

Kegiatan urban farming bisa dilakukan di pekarangan, teras, balkon, atap, dapur, ruang tamu, dan lainnya. Hal ini berlaku juga dapat dilakukan di wilayah perkantoran.

Kegiatan bercocok tanam biasanya dilakukan dengan menggunakan pot, wadah, botol atau kaleng bekas sebagai tempat untuk bercocok tanam. Jenis tanaman yang bisa ditanam sayur ataupun buah yang bisa dikonsumsi, serta tanaman hias untuk memperindah penampilan rumah ataupun kantor.

Beberapa contoh tanaman yang sering dijadikan pilihan, termasuk bayam, kangkung, daun bawang, seledri, buncis, dan selada. Sedangkan untuk buah-buahan yang biasa menjadi pilihan adalah jambu madu deli, tomat, jeruk dan beberapa jenis buah-buahan lainnya.

Jika Anda tertarik untuk menanam tanaman buah, Trubus.id merekomendasikan Anda untuk menanam tanaman jambu madu deli. Tanaman asal Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara ini belakangan banyak dibudidayakan oleh masyarakat perkotaan karena perawatannya yang tergolong mudah hingga rasa buahnya yang manis seperti madu.

Jambu madu deli. Foto: Astri Sofyanti/Trubus.id

Untuk mendapatkan bibit ataupun tanaman jambu madu deli unggul, Anda bisa bisa mendapatkannya di Toko Trubus. Toko Trubus memberikan diskon sebesar 20 persen pada bulan September untuk pembelian tanaman jambu madu deli dan tanaman buah lainnya.

Tak hanya menyediakan bibit ataupun tanaman, Toko Trubus juga menyediakan berbagai kebutuhan berkebun mulai dari pupuk, media tanam, pot hingga perlengkapan berkebun lainnya. Untuk mendapatkan produk-produk pertanian di Toko Trubus, kamu bisa mengunjungi website di www.tokotrubus.co.id ataupun mengunjungi langsung Toko Trubus terdekat.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020