trubus.id
Catatan Bayu Krisnamurthi: Mahkota Alam

Catatan Bayu Krisnamurthi: Mahkota Alam

Syahroni - Jumat, 28 Agu 2020 17:04 WIB

Trubus.id -- Ada dua peristiwa penting di bulan September dalam sejarah pertanian Indonesia: 80 tahun pendidikan tinggi pertanian di Indonesia, dan 57 tahun berdirinya Institut Pertanian Bogor.

Awalnya adalah pendirian – atau tepatnya, penetapan – Kebun Raya Bogor atau Lands Plantentuin te Buitenzorg tahun 1817 oleh Hindia Belanda. Catatan pendirian tahun 1817 itu membuat Kebun Raya Bogor menjadi kebun raya tertua ketiga di dunia. Tetapi sebenarnya Hindia Belanda hanya melanjutkan apa yang dibuat oleh Prabu Siliwangi, Maharaja Kerajaan Tanah Sunda; yang membuat “samida” atau taman hutan buatan di Bogor (diduga sekitar tahun 1500) yang bertujuan untuk menjadi tempat koleksi tanaman-tanaman langka.

Keindahan dan kekayaan plasma nutfah Kebun Raya Bogor menumbuhkan rasa ingin tahu lebih lanjut, sehingga kemudian mendorong orang-orang Belanda membuat lembaga riset dan pendidikan di Bogor. Tercatat pendirian Kebun Budidaya Tanaman (Cultuurtuin) di Cikeumeuh Bogor pada 1876, berdirinya Sekolah Hortikultura (1900), Sekolah Pertanian (1903), Sekolah Dokter Hewan (1907), Balai Besar Penyelidikan Pertanian atau Algemeen Proefstation voor den Landbouw (1918), Sekolah Bisnis Pertanian atau Landbouw Bedriff School (1922), dan Sekolah Menengah Kehutanan atau Middelbare Boschbouw School (1938), seperti ditulis oleh Setyo Bardono (2018) dalam Sejarah Lembaga Riset dan Pendidikan Pertanian di Indonesia. Beriringan dengan perkembangan sejarah penelitian dan pendidikan pertanian itu, keinginan mendirikan lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian diajukan.

Kita beruntung, karena proses pembentukan lembaga pendidikan itu dicatat (dalam Bahasa Belanda) oleh mereka yang terlibat, secara rinci dan lengkap. Dan lebih beruntung lagi pada tahun 2000-2001, catatan itu telah diterjemahkan dari Bahasa Belanda ke Bahasa Indonesia oleh Wislam Hadiwasito dan Soemartono Sosromarsono, dan diedit oleh Syafrida Manuwoto, yang kemudian diterbitkan oleh IPB Press atas inisiatif Fakultas Pertanian IPB dan fasilitasi dari Program Pascasarjana IPB. Dokumentasinya dapat dilihat pada laman  repository.ipb.ac.id. 

Ide dan keinginan mendirikan lembaga pendidikan tinggi pertanian tercatat telah diajukan sejak 1918, tetapi ditolak. Dianggap belum siap. Pendirian sekolah hukum dan sastra mendapat persetujuan lebih dahulu. Setelah dua puluh tahun kemudian, tahun 1938 ide pendirian itu baru disetujui, ditandai dengan pembentukan Komisi Pengkajian Pembentukan Fakultas Pertanian, yang terdiri dari 3 orang Belanda (termasuk Ketua Komisi) dan satu orang Indonesia: Iso Reksohadiprodjo, yang ketika itu adalah Kepada Dinas Penyuluhan Pertanian berkedudukan di Semarang.

Dan akhirnya, pada 1 September 1940, Fakultas Pertanian – yang dijuluki “mahkota alam (natuurlijke begroning)” – memulai perkuliahannya dengan 49 mahasiswa dari 51 orang yang melamar. Dimulailah sejarah pendidikan Fakultas Pertanian di Indonesia.

Perlu dicatat bahwa pada tahun 1940 itu, belum ada universitas; meskipun  sudah ada Fakultas Kedokteran di Jakarta (berdiri 1851 sebagai ‘Sekolah Dokter-Jawa’, berubah nama menjadi STOVIA tahun 1898, ditutup 1927, dan kemudian dibuka lagi), ada Fakultas Teknik di Bandung (berdiri tahun 1920); Fakultas Hukum di Jakarta (berdiri 1927), Fakultas Sastra dan Kemanusiaan di Jakarta (berdiri tahun 1940); dan Fakultas Pertanian di Bogor. Baru pada tahun 1947 resmi berdiri Universitas Indonesia dengan kelima fakultas itu sebagai pilarnya, setelah tahun 1946 sempat lebih dahulu disebut sebagai ‘universitas darurat’ (nood-universiteit).

Penempatan pendidikan tinggi pertanian di Bogor ternyata tidak diputuskan dengan mudah. Bandung adalah lokasi lain yang juga dipertimbangkan. Namun mengingat keberadaan Kebun Raya Bogor, dan berbagai lembaga pendidikan-penelitian yang telah ada, Bogor dipandang menjadi pilihan yang tepat sebagai lokasinya.

Hal yang menarik adalah tentang apa yang diharapkan dari para lulusan pendidikan tinggi itu, yaitu untuk menjadi (1) pimpinan perusahaan pertanian, dan (2) konsultan (penyuluh) pertanian yang dapat mengarahkan usaha tani kecil sehingga dapat dikelola secara menguntungkan. Berdasarkan tujuan tersebut maka ilmu pertanian yang ditawarkan di Fakultas Pertanian mencakup dua kelompok ilmu, yaitu yang berhubungan dengan pertumbuhan tanaman (dan hewan) dan keadaan lingkungan yang mempengaruhinya (budidaya pertanian); dan yang berhubungan dengan usaha untuk memperoleh keuntungan melalui aktivitas pertanian serta keadaan kehidupan masyarakat (sosial ekonomi pertanian).

Pertanian Indonesia sebenarnya telah memiliki sejarah yang jauh lebih lama. Beberapa ahli mengatakan bahwa jejak arkeologis alat-alat pertanian di Nusantara telah ada lebih dari 5000 tahun lalu. Atau sejarah Subak – salah satu sistem usahatani padi sawah paling ‘iconic’ di dunia – tercatat telah ada sejak 1000 tahun lalu. Dapat diduga, proses ‘pendidikan tinggi pertanian’pun sudah ada selama itu pula, meski tidak menggunakan sistem ‘fakultas’ dan ‘universitas’. Namun hal itu tidak mengurangi arti penting sejarah 80 tahun pendidikan tinggi ‘Fakultas Pertanian’ di Indonesia.

Dari satu di Bogor, dan berkembang selama 80 tahun, saat ini di Indonesia ada 393 Fakultas Pertanian (atau yang setara), dengan sekitar 85% diantarnya berbasis sains-akademik, dan yg lain berbasis praktis-vokasi.  Pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya kontribusi pendidikan tinggi pertanian itu bagi perkembangan pertanian Indonesia. Dan yang lebih penting lagi: bagaimana pendidikan tinggi pertanian menjawab tantangan pertanian masa depan, sedemikian sehingga pendidikan tinggi pertanian memang masih tetap pantas untuk mendapat julukan sebagai sang Mahkota Alam. 

Dirgahayu Delapan Dekade Pendidikan Tinggi Pertanian Indonesia.

Editor : Syahroni

Berita Terkait

23 Sep 2020
07 Sep 2020
31 Agu 2020