trubus.id
Trubus Dorong Kemandirian Pangan Keluarga dengan Tabulampot

Trubus Dorong Kemandirian Pangan Keluarga dengan Tabulampot

Astri Sofyanti - Sabtu, 08 Agu 2020 16:11 WIB

Trubus.id -- Pandemi Covid-19 berdampak terhadap lesunya sistem ketahanan pangan global. Distribusi yang tersendat akibat akses keluar masuk suatu negara di batasi membuat ketidakseimbangan sistem pangan global perlu mendapat perhatian khusus.

Selain itu, sebelum pemerintah mengeluarkan kebijakan adaptasi kebiasaan baru (new normal), pandemi Covid-19 memaksa masyarakat berada di rumah demi memutus rantai penyebaran virus. Meski di rumah saja, tidak serta merta membuat kita menjadi tidak produktif. Berbagai kegiatan bisa kita lakukan di rumah, terutama yang bisa menopang kebutuhan pangan keluarga, salah satu yang bisa dilakukan adalah menanam buah dalam pot atau tabulampot.

Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terus menggaungkan untuk mempraktikkan pertanian regeneratif berkelanjutan yang terhubung dengan sumber pangan lokal. Kondisi ini membuat pemerintah Indonesia mendorong ketahanan pangan berbasis keluarga.

Sejalan dengan program pemerintah, Trubus Bina Swadaya selama pandemi Covid-19 juga konsisten mengkampanyekan gerakan ketahanan pangan keluarga dengan mengaplikasikan pertanian keluarga, salah satunya melalui tanaman buah dalam pot (tabulampot).

Yustina Erna Widyastuti Direktur Toko Trubus, mengatakan sebenarnya tren tabulampot sudah terjadi sejak beberapa tahun terakhir sebelum adanya wabah Covid-19. Tren urban farming menjadi salah satu yang memacu tabulampot dipilihan masyarakat perkotaan.

Foto: Pelatihan Online Tabulampot: Alternatif Pertanian Perkotaan

“Salah satu yang menjadi pemicu tren tabulampot adalah berkembangnya perumahan perkotaan dengan lahan terbatas. Kesadaran masyarakat perkotaan akan gaya hidup sehat tinggi sehingga urban farming kian populer sejak beberapa tahun terakhir,” kata Yustina.

Peluang Usaha Tabulampot

Yustina menjelaskan, tabulampot menjadi pilihan peluang usaha menjanjikan karena keuntungannya besar, tingkat keberhasilannya tinggi, dapat berbuah di luar musim, serta mudah di pindahkan.

“Karena berada di dalam wadah seperti pot ataupun drum membuat tabulampot mudah dipindahkan ke mana saja dan dapat memanfaatkan berbagai lahan,” ujarnya.

Beberapa keuntungan tersebut diakui Yustina juga memiliki tantangan jika mencoba untuk menjalankan bisnis tabulampot. Untuk skala bisnis diperlukan lahan yang relatif luas, terlebih jika membuat tabulampot yang berukuran besar, ini dilakukan karena jarak tabulampot satu dengan yang lain tidak bisa berdekatan. Meski begitu hal ini bisa disiasati. Yustina menyarankan bagi Anda yang ingin memulai bisnis tabulampot tetapi tidak memiliki lahan yang cukup luas, Anda bisa memulainya dengan menjual bibit tabulampot.

Memulai Usaha Tabulampot

Yustina mengatakan ketika kita ingin memulai usaha tabulampot, beberapa hal yang perlu dipersiapkan antara lain, agroklimat. Faktor agroklimat yang berpengaruh terhadap tabulampot adalah ketinggian tempat. Sebagai contoh mangga, tanaman buah satu ini akan tumbuh dan berbuah di dataran rendah. Di dataran tinggi, tanaman mangga bisa saja tumbuh, tapi belum tentu produktifitasnya sebaik jika di tanam di dataran rendah.

Kemudian yang kedua adalah sasaran konsumen. konsumen sendiri terbagi menjadi beberapa tipe, seperti kolektor, pehobi rumahan, pehobi pekebun, karanteristiknya sangat berbeda.

Selanjutnya adalah pilihan sosok. Yustina mengatakan, sebelum memulai usaha kita harus menentukan jenis usaha apa yang kita lakukan, misalnya bibit/bakal tabulampot, tabulampot ataupun tabulampot yang sudah menghasilkan buah. “Kita bisa memilihnya salah satu sebagai pemula,” tuturnya.

Sementara itu manfaat lain menjalankan bisnis tabulampot, yakni, kita sebagai penyumbang oksigen (O2). Yustina menjelaskan, satu tabuampot berukuran besar menghasilkan oksigen yang bisa menghidupi dua orang. Dengan kata lain, berbisnis tabulampot tak hanya medatangkan keuntungan uang semata, tapi kita juga berkontribusi menyumbang oksigen serta dapat menyerap karbon dioksida (CO2) serta berkontribusi terhadap ketahanan pangan.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020