trubus.id
Tabulampot Berkontribusi Terhadap Pencapaian SDGs Hingga Tingkatkan Pendapatan Petani di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Tabulampot Berkontribusi Terhadap Pencapaian SDGs Hingga Tingkatkan Pendapatan Petani di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru

Astri Sofyanti - Sabtu, 08 Agu 2020 13:40 WIB

Trubus.id -- Pengurus Yayasan Bina Swadaya Indro Surono menilai, pandemi Covid-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan tetapi juga berdampak besar terhadap perekonomian suatu negara, termasuk Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Demografi melakukan survey selama pandemi Covid-19, berdasarkan survey tersebut diketahui, 62,6 persen responden yang bekerja di sektor transportasi dan pergudangan mengalami penurunan pendapatan.

“Pandemi Covid-19 berpengaruh terhadap sektor perekonomian masyakat,” kata pria yang juga menjabat President International Federation Organic Agriculture Movements (IFOAM) Asia dalam Webinar Tabulampot: Alternatif Pangan Perkotaan yang diselenggarakan Kelas Trubus, Sabtu (8/8/20).

Foto: Pelatihan Online Tabulampot: Alternatif Pertanian Perkotaan

Survey yang melibatkan responden di seluruh Indonesia ini mencapai hampir 17 ribu orang. Dari survey tersebut, disimpulkan bahwa 35,78 persen responden yang masih bekerja mengalami penurunan pendapatan. Selain itu, 3 dari pada 10 responden yang berasal dari kelompok berpendapatan tinggi, tercatat juga mengalami penurunan pendapatan. Diakuinya, survey ini menunjukkan, pandemi Covid-19 memberikan dampak pada penurunan pendapatan, kehilangan pekerjaan dan melemahnya ekonomi.

Di sisi lain, ada berkah tersendiri di masa pandemi Covid-19, seperti yang dirasakan kelompok-kelompok masyarakat yang justru mengalami peningkatan pendapatan, seperti yang diberitakan oleh Majalah Trubus edisi Agustus 2020, banyak petani yang menjalankan usaha tanaman buah dalam pot (tabulampot) justru mengalami peningkatan pendapatan karena terjadi lonjakan permintaan.

Indro mencontohkan, petani tabulampot di Prambanan, Kabupaten Klaten, misalnya, sebelum pandemi corona, mereka rata-rata menjual 100 tabulampot per bulan, tetapi semenjak pandemi yang memaksa masyarakat untuk tetap berada di rumah, membuat permintaan tabulampot melambung tinggi hingga 200 tabulampot per bulan.

“Selama pandemi Covid-19, permintaan tabulampot meningkat signifikan. Peningkatan bahkan mencapai 100 persen. Melonjaknya permintaan tabulampot membuat pendapatan petani meningkat. Bahkan harga tabulampotnya bisa mencapai Rp1,2 juta per pot. Ini berkah yang luar biasa dari pandemi, terutama bagi para pelaku bisnis tabulampot,” tutur Indro.

Dirinya menyatakan bahwa Toko Trubus yang juga menyediakan tabulampot turut menginformasikan hal serupa. Indro menilai bisnis tabulampot tidak dipandang sebelah mata.

“Tabulampot, bisa kita analogikan seperti lokomotif yang menggerakkan entitas bisnis lain seperti media tanam, pupuk, bibit, dan pot. Jadi, ketika permintaan tabulampot meningkat, maka bisnis-bisnis turunannya juga ikut bergerak naik,” bebernya. Bagi masyarakat yang berkeinginan memiliki tabumpor di rumah, tabulampot tidak memerlukan lahan yang luas. keunggulan lainnya, adalah tabulampot juga bisa menjadi sumber nutrisi keluarga.

Dirinya menegaskan bahwa tabulampot juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada poin ke-dua yakni mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan serta mendukung pertanian berkelanjutan.

Menurutnya, SDGs juga memelihara keanekaragaman genetika benih, mengolah tanaman hingga spesies liar yang terkait termasuk melalui bank benih dan tumbuhan yang dipelihara dengan baik keanekaragamannya pada level nasional, regional, dan internasional.

Pengembangan tabulampot di masa adaptasi kebiasaan baru (new normal) bukan semata-mata untuk memberikan peningkatan pendapatan saja, tetapi juga turut berkontribusi dalam pembangunan berkelanjutan.

Senada dengan pengembangan tabulampot, dalam rangka mendorong kecintaan masyarakat terhadap buah nusantara, Majalah Trubus rutin menyelenggarakan kegiatan mulai dari webinar hingga berbagai perlombaan menarik, salah satunya lomba benih unggul nasional. Sebagai informasi, lomba buah unggul ini merupakan penyelenggaraan ke-12, sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1989. Lomba buah unggul nasional ini akan dimulai pada Oktober 2020 hingga September 2021.

Yayasan Bina Swadaya yang kini bertransformasi menjadi Trubus Bina Swadaya secara konsisten, sejak didirikan pada 1967, terus aktif dan berkontribusi di dalam pembangunan pertanian dan pedesaan melalui Majalah Trubus, Toko Trubus, Penerbitan, Kampus Diklat Bina Swadaya (Wisma Hijau). Kemudian untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat/petani dan UMKM melalui Bina Swadaya Konsultan dan Keperasi Bina Swadaya Nusantara.

Selama pandemi Covid-19, Yayasan Bina Swadaya mengkampanyekan dan menginisiasi gerakan Ketahanan Pangan Keluarga, melalui berbagai program seperti, urban farming, pertanian keluarga, budidaya ikan dalam ember (budikdamber) hingga menggelar webinar yang mengusung tema-tema ketahanan pangan keluarga.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020