trubus.id
Meutia Hatta: Protokol Kesehatan Harus Jadi Kebiasaan dan Kebudayaan Baru

Meutia Hatta: Protokol Kesehatan Harus Jadi Kebiasaan dan Kebudayaan Baru

Astri Sofyanti - Selasa, 04 Agu 2020 17:00 WIB

Trubus.id -- Pandemi Covid-19 menuntut masyarakat untuk menciptakan kebiasaan baru ditengah kehidupan. Kebiasaan baru ini tercipta agar kita terhindar dari virus Covid-19 dan tetap dapat beraktivitas sehari-hari dengan normal.

“Kebiasaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh sekelompok orang, yang kemudian menjadi dibiasakan,” kata Meutia Hatta selaku Tim Pakar Sosial Budaya Satuan Tugas Covid-19 pada dialog pagi via ruang digital, Selasa (4/8).

Kemudian Meutia juga menjelaskan bagaimana kebiasaan dapat berubah menjadi suatu kebudayaan.

“Kebiasaan itu berawal dari kegiatan yang memiliki manfaat bagi orang-orang yang melakukannya, kemudian kegiatan ini dilakukan secara berkala menjadi kebiasaan. Namun untuk menjadi kebudayaan, dia memerlukan waktu yang tidak singkat,” tambahnya.

Contoh dari kebiasaan yang sudah menjadi budaya adalah cuci kaki sebelum masuk ke rumah. Awalnya kebiasaan ini dipraktekan di rumah panggung, di Lampung, Sulawesi atau Palembang. Di atas rumah diberikan sebuah gentong berisi air untuk kita mencuci kaki sebelum masuk rumah. Manfaat dari kebiasaan ini adalah kita masuk ke rumah dengan keadaan kaki yang sudah bersih. Lama-kelamaan kebiasaan ini akhirnya menjadi budaya.

Meutia juga memberikan contoh lain dari kebiasaan yang lama-lama menjadi kebudayaan. “Makanan sayur tadinya bukan budaya dari orang Minang. Namun karena tau manfaatnya, akhirnya sayur bagian dari kebudayaan orang Minang,” ujar Meutia.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan kertekaitan antara kebiasaan dengan budaya pada masa pandemi saat ini.

“Di pandemi ini kita ada kewajiban untuk menggunakan masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, harus cuci tangan. Ini suatu kebiasaan yang ada manfaatnya, karena tanpa itu ada bahaya Corona. Ini yang diusahakan menjadi kebudayaan,” tuturnya.

Terkait protokol kesehatan yang ingin dijadikan sebagai kebudayaan baru, Meutia berpendapat bahwa ini memerlukan waktu.
“Kita ingin secepatnya bisa diterima, begitu ya. Tapi memang butuh waktu. Kita harus mampu menyampaikan kepada masyarakat bahwa ini adalah hal yang penting, ditunjukkan dengan data,” jelas Meutia.

Ia juga menambahkan bahwa orang Indonesia itu memiliki sifat yang tidak mudah takut akan pantanganan, terutama dalam hal risiko kesehatan. Jadi ini merupakan suatu pekerjaan rumah yang harus kita lakukan untuk memberikan edukasi yang tepat bagi masyarakat.

Meutia juga menyampaikan bahwa dirinya sedang melaksanakan sebuah penelitian yang mempelajari tentang sikap masyarakat Indonesia mengenai kepatuhan.

Selanjutnya mengenai bagaimana agar kebiasaan ini dapat lebih cepat menjadi kebudayaan, Meutia berpendapat bahwa hukuman bukanlah jalan pintas agar suatu kebiasaan dapat menjadi kebudayaan.

“Hukuman itu kadang-kadang tidak mempan ya, tapi selain hukuman, yang penting itu mereka (masyarakat) memahami,” bebernya.

Ia berpendapat bahwa masyarakat harus mampu memahami bahwa mereka tidak saja mampu menularkan, tetapi juga berisiko untuk tertular.

Diakhir diskusi, Meutia mengajak masyarakat untuk tetap menghindari kerumuman. Ia berharap agar kebiasaan ini cepat berubah menjadi kebudayaan.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020