trubus.id
Peran Perempuan dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19

Peran Perempuan dalam Upaya Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19

Binsar Marulitua - Kamis, 30 Jul 2020 16:10 WIB

Trubus.id -- Pandemi Covid-19 menyebabkan implementasi berbagai kebijakan pembatasan, seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Sejumlah pembatasan pada akhirnya menyebabkan turunnya kegiatan produksi dan berdampak pada jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan. 

Perempuan menjadi pihak yang terdampak secara tidak proporsional karena mereka tersebar di banyak kelompok rentan dan kelompok terdampak pandemi, baik sebagai seorang tenaga kerja maupun sebagai seorang perempuan yang penghasilannya bergantung pada kepala keluarga.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Nadia Fairuza mengatakan, kontribusi perempuan diperlukan dalam upaya memulihkan perekonomian. Kontribusi ini bisa dicapai dengan memberikan akses kepada perempuan untuk bekerja di semua bidang tanpa adanya pembatasan. 

Namun mencapai kontribusi maksimal seperti ini tidak mudah karena perempuan seringkali dihadapkan pada posisi untuk memilih antara peran domestiknya di dalam keluarga dan mengaktualisasikan dirinya di tempat kerja.

Baca Lainnya : Pakar Herbal Ungkap 30 Ribu Spesies Tanaman Belum Terekplorasi Jadi Obat

Perempuan sebenarnya terwakili dalam jumlah besar di UMKM dan sektor informal. Lebih dari 50% UMKM di Indonesia dimiliki oleh perempuan. Namun di masa pandemi seperti sekarang ini, keterwakilan dalam jumlah besar seperti ini juga menjadikan mereka lebih rentan terkena dampak pandemi.

Data Bank Dunia menunjukkan rendahnya partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia, yaitu sebesar 53,5%. Jumlah ini masih jauh kalau dibandingkan dengan partisipasi angkatan kerja laki-laki yang mencapai 81,82%. Partisipasi angkatan kerja perempuan Indonesia juga lebih rendah dari rata-rata partisipasi angkatan kerja perempuan di Asia Timur dan Pasifik yang sebesar 67,7%.

Nadia menambahkan, angka partisipasi ini paling rendah untuk perempuan yang sudah menikah dan perempuan yang memiliki anak usia dini. Salah satu alasan di balik rendahnya angka partisipasi adalah banyak perempuan meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengurus keluarga, terutama setelah mereka melahirkan.

Pembagian kerja berdasarkan gender yang terbilang rigid dalam rumah tangga berkontribusi pada rendahnya partisipasi perempuan dalam dunia kerja.

“Dibutuhkan adanya sinergi antara institusi, baik pemerintah maupun swasta, dalam membantu meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan. Sinergi ini dapat diwujudkan dalam sebuah kesepakatan atau peraturan yang memungkinkan semua institusi menyediakan fasilitas ramah gender yang mendukung para karyawan perempuan dalam menjalankan pekerjaannya,” jelas Nadia.

Baca Lainnya : Baru 9,894 Juta Hektare Kawasan Konservasi Perairaan Termanfaatkan Secara Optimal

Rendahnya partisipasi perempuan dalam angkatan kerja juga diperburuk dengan adanya pandemi yang membuat sejumlah tenaga kerja perempuan kehilangan pekerjaan. Beralihnya kegiatan belajar mengajar dari sekolah ke rumah juga berpotensi menahan naiknya angka tersebut.

Salah satu solusi untuk meningkatkan partisipasi perempuan di angkatan kerja adalah dengan memfasilitasi mereka untuk mengakses layanan penitipan anak. Ini akan membantu perempuan untuk kembali ke pasar kerja dan berkontribusi pada ekonomi. 

Pemerintah telah menetapkan ketentuan untuk penyediaan fasilitas yang responsif terhadap gender, termasuk layanan penitipan anak melalui Peraturan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak No. 5/2015. Akan tetapi, regulasi ini belum banyak diimplementasikan di sektor publik maupun swasta di Indonesia.

 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020