trubus.id
Di Luar Rantai Pasok, Covid-19 Belum Secara Spesifik Ganggu Ketahanan Pangan Bangsa

Di Luar Rantai Pasok, Covid-19 Belum Secara Spesifik Ganggu Ketahanan Pangan Bangsa

Syahroni - Minggu, 26 Jul 2020 15:00 WIB

Trubus.id -- Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan bahwa krisis pangan dunia berpotensi terjadi karena rantai pasokan terganggu oleh kebijakan negara-negara dalam menekan penyebaran virus corona. Hal itu dibenarkan juga oleh Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya, Dr. Ir Bayu Krisnamurthi, MS. 

Dalam webinar dengan tema ‘Ketersediaan dan Produksi Pangan Nasional di Masa Adaptasi Kebiasaan Baru dan Sesudahnya,’ yang digelar Jaringan Katholik Melawan Covid-19 (JKMC), Sabtu (25/7) kemarin, Bayu yang menjadi keynote speaker mengungkapkan, gangguan pada rantai pasok atau supply chain itulah yang sebenarnya membuat ketahanan pangan bangsa Indonesia terganggu. 

“Pengalaman kita 6 bulan terakhir, berarti covid mulai dari Cina sampai dengan juni. Ternyata dampak langsung dari covid pada pangan itu cuma 10 persen. Yang 90 persen itu sebenarnya adalah dampak dari pembatasan mobilitasnya. PSBB kalo di kita, atau ditempat lain namanya lockdown. Jadi gangguan pada supply chain itulah yang sebenarnya membuat pangan kita terasa gangguannya,” terangnya. 

Ia menambahkan, jika pun ada gangguan pada pangan di Indonesia, menurutnya hal itu sebenarnya sudah ada sebelum Covid-19 merebak. Karena itu menurutnya, pandemi Covid-19 ini belum terasa secara sangat spesifik terhadap pangan, kecuali karena pembatasan gerak dan mobilitas barang dan orang. 

Di luar sisi ketersediaan dan produksi pangan, Bayu menjelaskan, shok akibat pandemi Covid-19 justru cukup merubah banyak hal. Dalam catatannya, setidaknya ada 3 hal yang berubah pada pola kehidupan masyarakat. 

“Pertama ini perubahan pola konsumsi. Hal ini malah jauh lebih terasa. Kenapa, karena konsumsi sayur meningkat. Pengalaman kami di Trubus misalnya, penjualan bibit sayuran itu naik justru 15-20%. Jadi konsumsi sayuran itu naik. Konsumsi jamu juga naik. Sementara konsumsi makanan yang bakalan tidak sehat seperti gula dan lain-lain, ada kecenderungan menurun,” terangnya. 

Ia melanjutkan, hal kedua yang terjadi adalah adanya perubahan dalam pola distribusi dan perdagangan. Ia menyebut, pola distribusi dan perdagangan saat ini berubah karena adanya pembatasan pembatasan mobilitas tadi. Karenanya, pola distribusi dan perdagangan jadi cenderung jadi lebih pendek. 

“Jadi lokalisasi itu naik. Ini punya dampak good and bad. Tidak selalu bagus dan tidak selalu jelek. Ini kalau dilihat dari sisi ini kita belum tau ya ini end story-nya ini bagaimana. Tapi makin banyak trading activitis yang pendek. Jadi lokal sifatnya,” jelas Bayu.

Kemudian hal ketiga yang masuk dalam catatannya adalah terkait perubahan daya beli. Hal ini yang menurutnya sangat serius dan harus jadi perhatian karena dampaknya pada masalah gizi masyarakat.

“Jadi ini (daya beli) memang yang serius menurut saya. Di beberapa kelompok masyarakat, di pasar-pasar tertentu itu daya beli terasa penurunannya. Jadi lebih ke masalah ekonomi. Perekonomian (dampak) lebih besar konteksnya. Kita mulai melihat dan merasakan, manusia itu punya daya tahan dalam konteks perubahan konsumsi. Tapi mungkin sudah ada yang perlu memperhatikan dampak dari perubahan status gizi pada kelompok masyarakat rentan. Karena selama 3-4 bulan, mereka pola konsumsinya makin terbatas karena masalah daya beli, masalah macem-macam. Saya menduga, ini sudah ada beberapa indikasi dampak pada gizi,” urainya lagi.

Karena itu ia gembira, kerja sama yang terjalin antara JKMC dan Trubus Bina Swadaya (TBS) dalam membantu masyarakat terdampak Covid-19 dengan bantuan stimulant untuk memenuhi ketahanan pangan keluarga, terus berjalan.

“Jadi saya gembira kerja sama TBS dan JKMC, sangat baik kami menyambut gembira dan sangat ingin melanjutkan mengembangkan terutama karena sifatnya lebih targeted pada kelompok masyarakat yang membutuhkan. Itu saya kira langkah yang tepat dan berguna saat ini di tengah berbagai hal yang tadi saya sebutkan tadi,” tuturnya lagi. [RN]
 

Editor : Syahroni

Berita Terkait

23 Sep 2020
07 Sep 2020
31 Agu 2020