trubus.id
Bambang Ismawan: Usaha Mikro Miliki Peranan Penting dalam Perekonomian Nasional

Bambang Ismawan: Usaha Mikro Miliki Peranan Penting dalam Perekonomian Nasional

Astri Sofyanti - Jumat, 24 Jul 2020 18:27 WIB

Trubus.id -- Usaha mikro memiliki peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian suatu negara. Hal itu disampaikan pendiri Yayasan Bina Swadaya yang kini bertransformasi menjadi Trubus Bina Swadaya, Bambang Ismawan dalam acara Bincang-Bincang Wisma Hijau yang mengusung tema ‘Keuangan Mikro Sebagai Wujud Demokratisasi Ekonomi Indonesia’ yang digelar secara daring, Jumat (24/7/20).

Menurutnya, keuangan mikro berkontribusi besar dalam mengentaskan kemiskinan di Indonesia. “Bung Hatta pernah berkata bahwa kemerdekaan kita untuk sektor perekonomian rakyat,” ujarnya.

Sejalan dengan Bung Hatta, Bambang menyebut Profesor Mubyarto juga pernah mengatakan bahwa sektor perekonomian rakyat merupakan sektor yang menghidupi sebagian besar rakyat Indonesia. ”Hingga diakhir hayatnya pada 2005 lalu, pernyataan ini masih belum terjawab,” jelas Bambang.

Diakui Bambang, pernyataan tersebut akhirnya terjawab oleh lahirnya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), usaha kecil didefinisikan sebagai kegiatan ekonomi produktif yang berdiri sendiri. Usaha ini dilakukan perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar serta memenuhi kriteria lain.

“Di coba dari waktu ke waktu oleh Kementerian Koperasi dan UKM mengghitung jumlah stratifikasi usaha di Indonesia, dari situ terlihat bahwa usaha mikro ternyata menempati jumlah yang terbesar,” tambahnya.

Berdasarkan data Kementerian koperasi dan UKM sampai tahun 2018, sebanyak 63.350.222 unit usaha mikro di Indonesia, dengan prosentase 98,68 persen entitas usaha.

“Barangkali inilah yang dimaksud oleh Bung Hatta dan Profesor Mubyarto sebagai sektor perekonomian rakyat. Sektor perekonomian rakyat secara teknis kami maknai sebagai usaha mikro,” ujarnya.

Dalam UU tersebut juga dijelaskan perbedaan kriteria UMKM dengan Usaha Besar. Usaha Mikro adalah usaha yang memiliki aset maksimal Rp50 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omzet maksimal Rp300 juta per tahun.

Sementara usaha kecil adalah usaha yang memiliki aset lebih dari Rp 50 juta – Rp500 juta (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omzet maksimal lebih dari Rp300 juta - Rp2,5 miliar per tahun.

Kemudian usaha menengah merupakan usaha yang memiliki aset lebih dari Rp500 juta – Rp10 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omset lebih dari Rp2,5 miliar – Rp 50 miliar per tahun.

Sedangkan usaha besar adalah usaha yang memiliki aset lebih dari Rp 10 miliar (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha) dan omzet lebih dari Rp50 miliar per tahun.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan bahwa bidang kegiatan usaha mikro terbagi menjadi empat bagian, pertama kegiatan primer dan sekunder yang membawahi bidang pertanian, perkebunan, peternakan, pengrajin kecil, penjahit hingga produsen makanan kecil.

Sementara kegiatan tersier meliputi transportasi. Kegiatan distribusi meliputi pedagang di pasar, pedagang kelontong, pedagang kaki lima, serta jenis usaha lainnya. Kemudian kegiatan jasa lainnya meliputi, pengamen, tukang sampah, tukang cukur, penyemir sepatu hingga montir.

“Itulah sektor-sektor ekonomi yang menghidupi sebagian besar rakyat Indonesia. Kegiatan-kegiatan itu memiliki potensi berkembang cepat, karena dilakukan secara mandiri. Tapi jika tidak diberdayakan menyebabkan jumlah kemiskinan semakin besar dan menjadi beban seluruh bangsa. Tapi bila diberdayakan secara tepat, dari usaha kecil kemungkinan akan berkembang menjadi usaha menengah hingga besar,” tutup Bambang.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

04 Agu 2020
03 Agu 2020
03 Agu 2020