trubus.id
Peristiwa » Kekerasan Seksual pada Anak Selama Masa Pandemi Co...
Kekerasan Seksual pada Anak Selama Masa Pandemi Covid-19 Meningkat, Dampaknya Bisa Jangka Panjang

Kekerasan Seksual pada Anak Selama Masa Pandemi Covid-19 Meningkat, Dampaknya Bisa Jangka Panjang

Astri Sofyanti - Jumat, 03 Jul 2020 14:00 WIB

Trubus.id -- Pandemi Covid-19 di Indonesia membawa dampak yang sangat besar terhadap kehidupan kita, tak terkecuali bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak.

Frisca Anindhita Senior Project Officer PSEA mengungkapkan, ketika ada kondisi kegawatdaruratan kemanusiaan, hal-hal yang berkaitan dengan pelecehan dan eksploitasi kepada kelompok rentan berpotensi besar terjadi.

Mengacu pada data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, angka kekerasan pada anak selama April 2020 meningkat, tercatat 368 kasus kekerasan dialami oleh 407 anak.

Padahal diakui Frisca, kondisi pandemi Covid-19 seharusnya bisa membuat anak-anak menjadi lebih aman karena banyak menghabiskan waktu di rumah, tapi justru jumlah kasus kekerasan meningkat.

“Mengacu data tersebut, ternyata karantina mandiri tidak selamanya menjamin keamanan kelompok-kelompok rentan (anak-anak),” kata Frisca dalam webinar yang digagas oleh Trubus Bina Swadaya dengan tema “Perlindungan Bagi yang Rentan, Melawan Pelecehan Seksual pada Anak”, Kamis (2/7/20).

Dirinya juga mengungkapkan bahwa selama pandemi Covid-19 diperkirakan ribuan anak Indonesia menjadi yatim piatu. Kondisi ini membuat anak-anak lebih rentan terjadi kekerasan seksual karena tidak adanya lagi perlindungan dari orang tua.

Terlebih, selama pandemi Covid-19, akses teradap layanan pelindungan menjadi terbatas. “Awal masa pandemi Covid-19 P2TP2A, Dinas Sosial, baik di tingkat pusat ataupun daerah, masih bingung dalam pelaksanaan konsultasi online, kondisi ini membuat anak-anak dan keluarga rentan tidak bisa mengakses layanan pelindungan, sehingga dampak yang dialami mereka semakin parah,” tambahnya.

Sementara itu, laporan “Global Report 2017: Ending Violence in Childhood” mencatat 73,7 persen anak Indonesia berusia 1 hingga 14 tahun mengalami kekerasan fisik dan agresi psikologis di rumah sebagai upaya pendisiplinan (violent discipline).

Sementara itu menurut data Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), pada 2019 ditemukan sebanyak 350 perkara kekerasan seksual pada anak.

Seperti dilaporkan NHS Inggris, pelecehan seksual dapat menyebabkan kerusakan fisik dan emosional yang serius bagi anak-anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

Dalam jangka pendek, anak-anak dapat menderita masalah kesehatan, seperti infeksi menular seksual, cedera fisik, dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Dalam jangka panjang, orang yang mengalami pelecehan seksual cenderung menderita depresi, kecemasan, gangguan makan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).

Mereka juga berisiko melukai diri sendiri, terlibat dalam perilaku kriminal, penyalahgunaan narkoba dan alkohol, hingga dapat melakukan tindakan bunuh diri saat tumbuh dewasa akibat pelecehan yang dialami secara terus menerus.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020