trubus.id
Bantuan dan Pelatihan dari TBS dan JKMC, Bantu Penuhi Ketahanan Pangan Keluarga Korban Pandemi

Bantuan dan Pelatihan dari TBS dan JKMC, Bantu Penuhi Ketahanan Pangan Keluarga Korban Pandemi

Syahroni - Senin, 29 Jun 2020 15:00 WIB

Trubus.id --  Perubahan di masa pandemi tidak hanya berpengaruh pada sektor ekonomi. Ada berbagai sektor yang ikut terdampak seperti pariwisata, pendidikan, dan salah satu sektor lain yang cukup penting adalah pertanian. 

Di tengah imbauan untuk tetap jaga jarak dan tetap di rumah, kebutuhan akan pangan menjadi sesuatu yang tidak dapat ditunda, sehingga menjaga ketahanan pangan di tengah pandemi menjadi tantangan tersendiri. Apalagi Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) juga telah mengingatkan tentang adanya potensi krisis pangan dunia akibat pandemi Covid-19 ini. 

Ketahanan pangan sendiri bukan berarti tahan tidak makan. Bukan pula menahan-nahan sumber makanan. Menurut UU No 18/2012 tentang Pangan, ketahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tecermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan.

Baca Lainnya : Trubus Bina Swadaya dan JKMC Dampingi Keluarga Terdampak Covid dengan Bantuan Stimulan yang Berkelanjutan

Setidaknya, ada tiga pilar dalam ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas. Sebagai pilar pertama, ketersediaan pangan menggambarkan bagaimana suatu sistem pertanian dapat menyediakan kebutuhan pangan masyarakat.

Trubus Bina Swadaya (TBS) Grup sebagai yayasan yang erat kaitannya dengan agriculture dan sustainability tentunya memiliki keprihatinan yang sama tentang hal ini. Dan sejalan dengan falsafah ‘melayani masyarakat adalah panggilan luhur’ TBS bekerjasama dengan Jaringan Katholik Melawan COVID-19 (JKMC) serta organisasi lintas agama Sabtu-Minggu (20-21/06/2020) lalu bergerak untuk membantu dan mendampingi keluarga terdampak Covid-19 dalam memenuhi ketahanan pangan mereka. 

Pelatihan Pertanian Tingkat Rumah Tangga secara daring digelar pekan lalu. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menyalurkan bantuan stimulan yang berkelanjutan berupa paket budidaya ikan dalam ember (Budikdamber) dan paket urbanfarming untuk keluarga terdampak pandemi covid-19 di 3 wilayah di Indonesia seperti Depok, Bogor dan Semarang. Selain ada pelatihan daring juga ada pendampingan secara daring. Dalam pendampingan daring via grup aplikasi whatsapp ini, Peserta dapat bertanya setiap hari dan menyampaikan laporannya, sehingga para mentor dapat memberikan solusi bila ada masalah yang mereka hadapi.

Dampak pendampingan dan bantuan ini pun sudah mulai dirasakan para penerima manfaat di 3 wilayah tersebut. Arie Sulistio, perwakilan warga keuskupan Semarang penerima manfaat ini menyebutkan, dari bantuan yang sudah diterima, masyarakat sudah mulai menata pola berkelanjutan dari program bantuan ini.

Baca Lainnya : Mentan Syahrul Sebut Diversifikasi dari Pangan Lokal Kokohkan Ketahanan Pangan

“Mereka (penerima manfaat) ada yang akan melanjutkan dari proses itu. Ada yang berencana ketika panen, bagaimana mereka bisa mencari nilai tukarnya dengan tetangga sebelahnya. Sehingga bisa diteruskan untuk beli bibit lagi (urbanfarming). Yang budidaya lele dalam ember juga begitu. Namun paling tidak bantuan ini sudah bisa mencukupi kebutuhan keluarga sendiri itu bisa dilakukan dan bisa dimanage lebih lanjut,” terang Arie saat dihubungi Trubus.id.

Arie dan keluarga penerima manfaat di Semarang juga mengapresiasi program bantuan ini karena bentuknya tidak seperti bantuan lain pada umumnya. Selain sifatnya yang berkelanjutan, pendampingan pelatihan secara daring yang dilakukan selama 1 musim tanam yang dilakukan TBS, juga cukup membantu masyarakat dalam menghadapi segala kendala yang dialami ketika mulai berusaha memenuhi ketahanan pangan mereka.

“Kendala yang terjadi semuanya dicarikan solusinya melalui pendampingan yang dilakukan Trubus Bina Swadaya. Adapun kendalanya karena ada (masyarakat penerima manfaat) yang baru pertama kali mencoba (beternak dan bertani) dan ada yang sudah lama. Terutama yang baru, ada lele yang sakit ada yang mati. Lalu mereka butuh konsul. Dari pusat sudah diberi masukan. Secara umum sudah merasa didampingi yang beternak ikan dan sayuran (Budikdamber). Sementara untuk bercocok tanam sudah berjalan dan tidak menemui kendala karena sudah bertunas. Namun kita tetap selalu share perkembangan dan kemajuan. Selama ini jika ada masalah, ada solusi juga dari pusat,” urainya lagi. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020