trubus.id
50 Persen UMKM Diprediksi Gulung Tikar Terdampak Covid-19

50 Persen UMKM Diprediksi Gulung Tikar Terdampak Covid-19

Binsar Marulitua - Senin, 29 Jun 2020 13:00 WIB

Trubus.id -- Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mengatakan pemerintah berupaya optimal untuk menyelamatkan Usaha Mikro kecil Menengah (UMKM) dengan berbagai stimulus, untuk bisa  menekan bertambahnya angka pengangguran dan tingkat kemiskinan. Akibat pandemi Covid-19, sekitar 50 persen UMKM diperkirakan gulung tikar 

"Berbeda dengan krisis 1998 di mana UMKM mampu bertahan, saat ini akibat pandemi Covid-19, sekitar 50 persen UMKM diperkirakan gulung tikar," ungkap Teten melalui keterangan tertulis, yang diterima Minggu (28/6/2020).

Menteri Teten menjelaskan, Langkah-langkah yang dilakukan untuk membangkitkan UMKM itu antara lain mendorong UMKM menerima bansos, memberikan insentif pajak, relaksasi dan restrukturisasi pinjaman, di mana ada 60,6 juta UMKM yang sudah terhubung dengan lembaga pembiayaan formal.

Selanjutnya, memberikan pinjaman baru, termasuk pada koperasi, mendorong Kementerian dan Lembaga serta pemda menyerap produk UMKM, serta kampanye membeli produk lokal. "Semua kebijakan itu ditujukan agar daya beli masyarakat bisa tumbuh, sekaligus menggerakkan perekonomian," kata Teten.

Baca Lainnya : Ini Syarat Dapatkan BLT Desa Rp600 Ribu per Bulan

Teten juga menjelaskan, akan memprioritaskan program transformasi ekonomi digital bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) agar mereka terkoneksi secara daring sehingga usahanya tetap dapat berjalan dan berkembang.

"Pandemi saat ini semakin mengharuskan UMKM untuk masuk dalam ekonomi digital. Saat ini baru 8 juta UMKM, atau 13% saja dari total UMKM, yang sudah terkoneksi secara digital. Kami mentargetkan hingga akhir tahun ini ada tambahan 2 juta UMKM yang bisa terhubung ke ekonomi digital, sehingga total akan ada10 juta UMKM," ungkapnya.

Sayangnya, lanjut Teten, tidak serta merta UMKM yang sudah digital itu bisa survive. "Berbagai survei menunjukkan, tingkat keberhasilan UMKM yang masuk ekonomi digital berikar hanya 4 sampai 10 persen," katanya.

Baca Lainnya : Program Subsidi UMKM Berlaku Seluruh Indonesia, Bukan Hanya Pulau jawa

Berarti ada masalah di situ. "Masalahnya apa ? Ada beberapa; misalnya, di pasar online UMKM sudah harus berhadapan dengan brand besar, sementara kemampuan manajemen masih rendah, kapasitas dan volume produksi juga relatif kecil. Kasus bakpia pathok bisa jadi pelajaran, di mana pelaku UMKM sangat banyak, dengan volume produksi yang terbatas. Di sini perlu adanya konsolidasi brand, juga perlu ada rumah produksi bersama, sehingga bisa menjadi efisien," tambah Teten.

Teten menegaskan, pelibatan kaum milenial yang sudah akrab dengan Teknologi Informasi (TI) akan sangat membantu UMKM, khususnya dalam masalah pemasaran di pasar digital. Kaum milenial juga bisa mendampingi UMKM dalam teknologi pengemasan dan kualitas produk.

Baca Lainnya : 5 Skema Perlindungan dan Pemulihan UMKM di Tengah Pandemi Covid-19

Staf Khusus Presiden Joko Widodo (Jokowi), Putri Tanjung menambahkan, saat ini yang dibutuhkan UMKM untuk bisa bertahan, bahkan menjadi pemenang, adalah leader atau CEO, atau entrepreneur yang mampu adaptif dalam menghadapi perubahan, konsisten dalam berproduksi, serta inovatif dalam menciptakan produk.

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020