trubus.id
Hadapi Ancaman Kekeringan Global, Indonesia Berpeluang Tanam Padi di Musim Kemarau

Hadapi Ancaman Kekeringan Global, Indonesia Berpeluang Tanam Padi di Musim Kemarau

Astri Sofyanti - Rabu, 24 Jun 2020 13:00 WIB

Trubus.id -- Food and Agriculture Organization (FAO) menyatakan bahwa dunia kini sedang menghadapi ancaman kekeringan global. Pernyataan tersebut membuat banyak negara, termasuk Indonesia menyusun strategi untuk meningkatkan memproduksi pangan ditengah ancaman kekeringan.

“Informasi FAO merujuk pada data prediksi iklim global, sementara pada konteks lokal Indonesia kondisinya dapat berbeda. Realitanya hingga hari ini yang semestinya Indonesia telah mengalami kekekeringan, hujan masih sering turun,” demikian dikatakan Kepala Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi Pertanian (Balitklimat), Dr. Harmanto, menutip laman resmi Balai Besar Litbang Sumber Daya Lahan Pertanian Kementerian Pertanian, Rabu (24/6/20).

Dari hasil analisis para peneliti Balitklimat yang bersumber dari data iklim empat lembaga iklim internasional dan Nasional, justru menunjukkan wilayah Indonesia berada dalam kondisi musim kemarau basah pada Juni, Juli, Agustus, hingga September nanti.

“Wilayah di atas khatulistiwa sifat hujan di atas normal, sementara di bawah khatulistiwa sifat hujan normal,” paparnya.

Sementara itu, Peneliti Balitklimat, Dr. Elza Surmaini, menguatkan modal alami Indonesia. Dirinya telah mendownscaling data iklim dari penyedia data iklim dunia dan BMKG kemudia menganalisis dengan super komputer bersama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Downscaling merupakan metode untuk memperoleh informasi iklim wilayah lokal hingga tingkat provinsi dan kabupaten dari sumber data iklim global yang kasar. "Prediksi kami hampir sebagian besar wilayah Indonesia masih mendapatkan hujan yang cukup untuk aktivitas pertanian," kata Elza.

Curah hujan di atas normal akan terjadi pada sebagian besar Kalimantan serta bagian utara dan tengah Sumatera, Sulawesi dan Papua. Sementara curah hujan normal akan terjadi di bagian selatan Sumatera dan Papua serta Jawa dan Bali.

Dengan kondisi itu, Elza mengatakan bahwa Indonesia berpeluang menambah luas tanam di sawah irigasi dan tadah hujan di musim kemarau basah. Demikian pula pertanian hortikultura di lahan kering dapat terus menambah luas tanam.

“Ini peluang yang harus dipahami para stakeholder pertanian dan petani sehingga jangan dilewatkan. Tentu petani tetap harus menerapkan sistem budidaya yang sehat,” ujar Elsa.

Informasi Iklim

Kini prediksi kekeringan tersebut, dapat diakses gratis di situs resmi Balitklimat sehingga semua pihak dapat memanfaatkannya untuk kepentingan pertanian.

“Informasi pada situs tersebut lebih spesifik untuk pertanian sehingga berbeda dengan informasi iklim umum. Balitklimat mentransformasi data iklim menjadi informasi iklim untuk pertanian,” ujarnya.

Informasi itu penting karena dinamika iklim sangat bervariasi antar musim dan antar tahun. menurutnya, awal dan panjang musim kemarau serta sifatnya bervariasi.

Sementara perencanaan pertanian perlu menyesuaikan dengan kondisi iklim pada musim tanam yang akan datang untuk menekan risiko atau memanfaatan kondisi iklim optimal.

“Penyesuaian praktik budidaya dengan kondisi iklim merupakan upaya dengan biaya paling murah,” tutur Elza.

Tentu informasi iklim tersebut harus bisa diakses 1-2 bulan sebelum musim tanam agar cukup waktu untuk mempersiapkan sarana dan prasarana pertanian.

Kepala Balitbangtan, Kementan, Dr. Fadjry Djufry, mengatakan hujan yang turun di musim kemarau itu berkah bagi petani Indonesia di tengah pandemi korona.

“Badan Pangan Dunia khawatirkan krisis pangan, Indonesia memiliki modal dari alam yang harus dimanfaatkan. Tentu jangan lupa menabung air di saat hujan turun agar berkah itu dapat digunakan secara efektif dan efisien,” ungkap Fadjry.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020