trubus.id
Ini Upaya yang Dilakukan Kemenkes Guna Menekan Angka Stunting di Tengah Pandemi

Ini Upaya yang Dilakukan Kemenkes Guna Menekan Angka Stunting di Tengah Pandemi

Syahroni - Jumat, 19 Jun 2020 20:00 WIB

Trubus.id -- Stunting sudah lama menjadi momok menakutkan bagi banyak orangtua di seluruh dunia. Wajar saja, Balita/Baduta (Bayi di bawah usia dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan tidak maksimal, lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depannya, produktivitas mereka bisa menurun.

Yang lebih mengkhawatirkan, secara luas stunting juga dapat menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan dalam sebuah negara.

Tantangan untuk menyelesaikan masalah ini tentunya semakin berat ketika pandemi Covid-19 tiba-tiba melanda. Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dapat mencegah penyebaran virus berbahaya ini dapat mengganggu upaya pemerintah menangani stunting. 

Baca Lainnya : Jokowi Minta Pemda Ambil Bagian Tekan Angka Stunting

Dirjen Gizi Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Dr Dhian Dipo menilai, pandemi Covid-19 adalah hal yang seharusnya membuat masyarakat kita harus belajar menerapkan kebiasaan hidup bersih. Namun secara keseluruhan pandemi juga tidak boleh membuat pemerintah abai akan target penurunan stunting ini. Karena itu, pelayanan dari pemerintah untuk menangani stunting masih terus berjalan meski dengan beberapa ketentuan.Seperti intervensi di kegiatan Posyandu contohnya. 

“Pada masa PSBB Posyandu dijalankan di beberapa daerah sesuai kebijakan daerahnya. Kalau daerah yang memang menetapkan zona-zona merah maka pemantauan pertumbuhan dilakukan di rumah yang artinya bukan menimbang anaknya tapi memantau pertumbuhannya. Kemudian ada beberapa daerah yang memang tidak termasuk zona merah, mereka tetap melakukan kegiatannya, Kegiatan posyandunya dengan cara penjadwalan jadi mengundang ibu balita untuk ke Posyandu tapi tidak bersamaan, Kita juga sudah membuat bermacam media edukasi bagaimana untuk pergi ke Posyandu,” jelas Dhian kepada Trubus.id, belum lama ini.

Dhian menjelaskan, target penurunan stunting yang diminta Presiden Joko Widodo turun hingga di angka 14% di tahun 2024, hingga kini masih tidak berubah. Meski pandemi terjadi, pihaknya masih mengejar target itu dan juga tetap melakukan kegiatan dengan srategi nasional penanggulangan stunting. 

“Yang strategi nasionalnya sudah ditetapkan ya 2018 sampai 2024 yang mengedepankan 5 pilar. Yaitu komitmen dan visi kepemimpinan, kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku, Konvergensi, koordinasi, dan konsolidasi pusat, daerah, dan desa. Terus yang ke-4 ketahanan pangan  dan gizi dan yang ke-5 adalah pemantauan dan evaluasi. Sampai dengan saat ini dari 5 pilar ini kemudian kita terjemahkan nih bagaimana supaya kita bisa mencapaii target yang seperti itu,” terangnya.

Baca Lainnya : Kebijakan Pangan Pemerintah Diharapkan Dorong Turunnya Angka Stunting

Dhini kembali menjelaskan, hal yang paling penting dalam menangani stunting salah satunya adalah pemahaman masayarakat terhadap kesehatan dirinya sendiri. Untuk itu perlu adanya penguatan edukasi diberbagai tingkat. 

Lalu hal berikutnya yang perlu dilakukan adalah penguatan intervensi seperti pemberian tablet penambah darah kepada ibu hamil untuk mencegah anaknya terlahir dalam kondisi stunting. Dan kemudian penguatan kapasitas.

“Yang berikutnya adalah penguatan SDM-nya sendiri. SDM itu siapa? Baik itu kader, kelompok masyarakat, tenaga kesehatan itu harus kita kuatkan agar bisa menjadi ‘agent of change’ istilahnya. Jadi intinya 3 hal itu. Pertama adalah edukasi, kedua penguatan intervensi, penguatan kualitas intervensi tadi atau intervensi spesifik, yang ketiga adalah penguatan kapasitas, baik tenaga kesehatan maupun kelompok masyarakat yang ada,” terangnya. [RN]
 

Editor : Syahroni

Berita Terkait

12 Jan 2021
24 Des 2020
21 Des 2020