trubus.id
Cegah Krisis Pangan, Kementan Dorong Indramayu Tingkatkan Luas Tanam Padi

Cegah Krisis Pangan, Kementan Dorong Indramayu Tingkatkan Luas Tanam Padi

Astri Sofyanti - Jumat, 19 Jun 2020 09:33 WIB

Trubus.id -- Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong daerah meningkatkan luas tambah tanam padi guna menjamin ketersediaan beras, khususnya untuk meghindari defisit beras yang berakibat pada krisis pangan pasca pandemi Covid-19.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Suwandi memastikan bahwa Indramayu sebagai sentra produksi padi terbesar di Indonesia turut mendapat perhatian serius dari Kementan. Diantaranya dengan memberikan bantuan benih, alat mesin pertanian seperti traktor dan pompa air, asuransi pertanian dan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) sehingga percepatan olah tanah dan tanam tercapai.

“Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo selalu mewanti-wanti ancaman kekeringan dari FAO sehingga potensi krisis pangan cukup besar. Maka dari itu, kami hari ini terjun ke lapangan respon cepat banjir rob yang melanda lahan pertanian 1.500 hektare agar segera bisa ditanami padi,” demikian dikatakan Direktur Jenderal Saat meninjau lahan pertanian yang terkena banjir rob di Desa Ilir, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, Kamis (18/6/20).

Dirinya mengungkapkan, dalam mengatasi langsung lahan yang terkena banjir rob agar cepat ditanami padi yakni Kementan memberikan bantuan benih padi varietas yang tahan salinitas seluas 1.500 hektare dan akan diusahakan bantuan pupuk.

Selain itu, Suwandi meminta pihak Dinas Pertanian Indramayu agar mengajukan permohonan pembuatan tanggul pintu air irigasi sehingga jika terjadi banjir rob ke depan tidak masuk ke lahan pertanian.

Sementara Kepala Dinas Pertanian Indramayu, Takmid mengungkapkan optimis dapat meningkatkan luas tambah tanam Juni hingga September 2020. Luas tanam padi oktober 2018-Mei 2019 seluas 203.091 hektare sementara Oktober 2019-2020 seluas 201.953 hektare. Kekurangan luas tanam dibanding 2019 ini dapat dipenuhi dengan mendongkrak luas tanam di bulan Juni 2020.

Dinas Pertanian Indramayu menargetkan luas tanam padi bulan Juni 2020 ini sebesar 37.120 hektare, sementara Kementan memberikan target luas tanam padi sebesar 46.373 hektare. Dengan produktivitas padi 7,3 ton per hektare, maka diperoleh gabah kering panen 338.523 ton.

“Realisasi tanam padi Kabupaten Indramayu per tanggal 20 Juni 2020 seluas 20.017 hektare. Target luas tanam sampai 46.373 hektare pun kami optimis bisa,” ujar Takmid.

Pihaknya menjelaskan pihaknya optimis meningkatkan luas tanam padi Juni-September 2020 karena masif melakukan percepatan olah dan tanam, ketersediaan air masih cukup, kesiapan sarana seperti traktor tersedia, pompa air tersedia sehingga terjadi kekeringan tidak kesulitan air.

“Selain itu, bantuan benih dari Kementan pun turun tepat waktu sehingga siap digunakan petani saat mau tanam,” paparnya.

Perlu diketahui, banjir rob di Indramayu ini melanda lahan pertanian seluas 1.500 hektare. Berdampak pada lahan pertanian di 6 desa yakni Desa ilir, Eretan Wetan, Eretan Kulon, Kerta Winangun, Bulak, Parean Girang di Kecamatan Kandanghaur.

Korporasi Petani

Takmid menyebutkan Dinas Pertanian Indramayu menyambut baik program Kementan yakni mengembangkan korporasi petani sehingga kegiatan pertanian dalam lebih maju, mandiri dan modern. Korporasi petani dengan fokus utamanya komoditas padi dan pengembangan komoditas penunjangnya yakni jagung, ternak dan komoditas hortikultura di antaranya sayuran dan semangka.

“Pembentukan korporasi ini berada di 3 kecamatan yakni Lelea, Trisi dan Cikedung yang mencakup 27 desa. Korporasi petani mengoptimalkan gabungan kelompok tani (gapoktan). Satu desa satu korporasi dengan konsentrasi yang berbeda-beda, dimana ada korporasi beras, korporasi benih dan ada korporasi yang mengelola unit pengelola jasa alsintan,” ucapnya.

Menurut Takmid, dengan pembentukan korporasi petani ini maka dapat menjadi solusi juga bagi petani terkait harga padi saat musim panen. Artinya, hadirnya korporasi petani memberikan atau menjamin harga gabah yang menguntungkan petani.

“Melalui model korporasi, petani menghasilkan beras dengan kuantitas dibutuhkan banyak dengan kualitas yang seragam dan kontinuitas. Karena dalam satu kawasan, secara agroklimat dan agrosistem akan seragam. Untuk kemudian berkembang keberlanjutan komoditas di daerah tersebut,” tuturnya.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

07 Agu 2020
04 Agu 2020
03 Agu 2020