trubus.id
Mencegah Darurat Pangan di Era Covid-19, Begini Kata Pakar Ekonomi IPB Bayu Krisnamurthi

Mencegah Darurat Pangan di Era Covid-19, Begini Kata Pakar Ekonomi IPB Bayu Krisnamurthi

Astri Sofyanti - Selasa, 16 Jun 2020 18:28 WIB

Trubus.id -- Pandemi Covid-19 berdampak pada segala sektor kehidupan, termasuk sektor pangan yang merupakan bagian penting dalam peningkatan produktivitas nasional dan perbaikan kualitas hidup masyarakat.

Ketua Pengurus Trubus Bina Swadaya (TBS Grup) Bayu Krisnamurthi menilai, bahwa sebelum Covid-19 ekonomi Indonesia sebenarnya cukup baik. Kendati demikian, dirinya menekankan bahwa ada tantangan-tantangan besar di bidang pangan sebelum adanya Covid-19.

“Ini yang ingin kita garis bawahi, jangan kita mengira bahwa semua masalah pangan terjadi karena Covid-19. Tidak. Masalah ini sudah ada bahkan dari sebelum adanya pandemi Covid-19,” kata Bayu dalam dialog virtual terkait peran Filantropi dalam Mencegah Darurat Pangan Selama Pandemi Covid-19, Selasa (16/6/20).

Sebelumnya, selama 3 bulan berjalan, pandemi Covid-19 membuat pemerintah melakukan berbagai kebijakan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 salah satunya dengan diterapkannya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Menurutnya, masalah yang timbul akibat Covid-19 hanya berkontribusi sekitar 5 persen, ketakutan terhadap virus tersebut berkontribusi 10 persen. Sementara respon virus dan kaitannya terhadap sektor pangan berkontribusi sebanyak 25 persen.

“Jadi PSBB itu sebenarnya yang menjadi sumber masalah. Saya tidak mengatakan bahwa lockdownnya salah. Pelaksanaan PSBB harus dilakukan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Tapi di sisi lain dampak dari penerapan PSBB inilah yang kemudian menimbulkan masalah di bidang perekonomian,” ujar pria yang juga seorang Pakar Ekonomi Pertanian IPB.

Dikatakannya, kondisi ini mengakibatkan supply dan demand dan pangan secara simultan terdampak. Dirinya juga mengungkapkan bahwa belum pernah dalam sejarah, permintaan dan penawaran keduanya terdampak.

"Kita juga harus sadar, pandemi Covid-19 membuat perubahan perilaku konsumen maupun produsen. Menghadapi Covid-19 ini, menurutnya sangat sulit," ujarnya.

Dijelaskannya, kebijakan memasuki masa transisi saat ini bukan semata-mata dilakukan karena kondisi Covid-19 sudah aman, melainkan kegiatan ekonomi yang harus terus berjalan untuk menekan angka pengangguran akibat kehilangan pekerjaan.

Pada kesempatan tersebut, Bayu Krisnamurthi juga menyampaikan ada empat poin penting terkait Covid-19. Pertama, produksi pangan 2020 tidak terganggu Covid-19. Dirinya menilai jumlah petani yang terkena Covid-19 sangat sedikit. “Kegiatan produksi pangan tidak banyak terganggu. Produksi pangan akan terganggu jika Covid-19 menyerang desa,” tuturnya.

Kedua, produksi pangan dapat terganggu jika Covid-19 menyerang desa; ketiga, produksi pangan 2020 kemungkinan terganggu iklim dan terakhir, gangguan pangan utamanya dari perdagangan dan logistik.

“Lembaga prakiraan cuaca memprediksi pada bulan Mei 2020 merupakan bulan yang paling panas, berpeluang sebanyak 50 persen menjadi tahun paling panas. Tetapi El Nino tidak terjadi. Peluang El Nino netral 60 persen, justru lebih besar peluang terjadinya La Nina. Dari segi curah hujan normal tapi cuacanya panas. Kondisi ini mengakibatkan serangan hama belalang. Serangan hama belalang ini sudah menyebar hingga ke India. Hal ini menjadi hal yang perlu kita cermati dan perhatikan. Sementara gangguan iklim lainnya dalam bentuk stres air. Kondisi ini menurut Bayu makin lama makin serius,” tambahnya.

Lebih lanjut dirinya mengungkapkan bahwa tantangan pangan yang kita hadapi selanjutnya adalah gangguan pada perdagangan dan logistik.Dirinya mencontohkan, importasi pangan yang dilakukan oleh 50 negara yang paling parah terdampak Covid-19 menurun drastis antara 40 sampai 80 persen. Penuruan konsumsi daging misalnya terjadi hingga 80 persen, buah dan sayuran penurunan importasinya hingga 80 persen, seterusnya hingga ikan, daging ayam, ataupun telur, semuanya turun.

“Ini adalah indikasi yang sangat kuat bagaimana Covid-19 berpengaruh terhadap kegiatan perdagangan pangan antar negara. Covid-19 membuat kegiatan perdagangan turun. Tercatat penurunan perdagangan di Indonesia mencapai 312 juta USD, perdagangan di Eropa turun hingga melewati 15 Miliar USD. Ini menunjukkan angka yang sangat serius betapa Covid-19 memengaruhi perdagangan,” bebernya.

Perdagangan Menentukan Ketersediaan Pangan

Bayu juga mengatakan bahwa kontribusi kalori (konsumsi dunia) 50 persennya sumber kalori manusia datang dari empat komoditi utama seperti beras, gandum, jagung dan kedelai. Sementara kontribusi produksi empat komoditi itu ada di 5 negara, salah satunya Indonesia.

“Artinya komoditi ini harus didistribusikan, karena produksinya terpusat di negara-negara tertentu dan harus diperdagangkan ke banyak negara konsumen. Begitu perdagangan terganggu ketersediaan pangannya ikut terganggu,” pungkasnya

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020