trubus.id
Prospek Investasi Budidaya Udang di Sulteng Kian Menjanjikan

Prospek Investasi Budidaya Udang di Sulteng Kian Menjanjikan

Binsar Marulitua - Kamis, 11 Jun 2020 14:00 WIB

Trubus.id -- Selama kurun waktu lima tahun (2015 - 2019) produksi udang Sulawesi Tengah tumbuh signifikan yakni rata-rata 71,69% per tahun. Bahkan, Provinsi yang  menjadi salah satu penghasil udang nasional ini mencatat volume produksi  mencapai 16.574 ton pada tahun 2019. 

Perkembangan industri budidaya udang vaname yang semakin menggeliat, menambah optimisme tercapainya peningkatan nilai ekspor hingga 250% dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Atas situasi ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengapresiasi adanya sinergitas pemerintah pusat, daerah serta keterlibatan swasta.

"KKP selalu berupaya untuk mendorong investasi di bidang budidaya vaname ini dan ini saya rasa bukti kita serius melakukan percepatan optimalisasi lahan budidaya", tegas Menteri Edhy usai melakukan penebaran benur di kawasan budidaya udang modern di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong (10/6/2020).

Baca Lainnya : Percontohan Tambak Udang Berkelanjutan Segera Dibangun di Perhutanan Sosial Lampung Selatan 

Menteri Edhy menjelaskan, dukungan dari pihak swasta yang mulai melirik bisnis perudangan nasional menandakan adanya perbaikan iklim investasi di bidang ini. Imbasnya pun akan berdampak positif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karenanya, dia berharap momentum ini menjadi pemicu bagi masuknya investasi lainnya.

"Saya berharap ini juga jadi titik awal sebagai pemicu bagi masuknya investasi sejenis", sambungnya.

Menteri Edhy juga mengingatkan agar pemerintah daerah dan swasta memfasilitasi masyarakat setempat untuk mendapatkan pelatihan budidaya udang. Adapun pemerintah pusat, menyediakan akses pemodalan melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga 6% dan BLU-LPMKP dengan bunga 3%.

"Investasi juga harus ada dampak bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya minta nanti ada pelatihan pelatihan untuk mereka," urainya. 

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto memastikan investasi pada bisnis budidaya udang akan mulai terbuka, seiring dengan prospek perudangan nasional yang kian menjanjikan. 

Menurutnya, budidaya udang sudah bukan lagi tergolong investasi high risk business (jenis usaha berisiko tinggi) karena semua risiko telah mampu diperhitungkan.

Terlebih teknologi budidaya sudah dikuasai sepenuhnya, infrastruktur juga sudah membaik, dan peluang yang pasar tinggi, keberpihakan regulasi serta adamya kemudaham akses yang lebih terjamin.

"Udang ini andalan ekspor, kita berharap menggeser India dan negara lain agar bisa mendominasi pangsa pasar udang dunia, dengan demikian devisa ekspor akan naik signifikan", tegas Slamet.

Baca Lainnya : Triwulan I 2020, Udang Dominasi Ekspor Perikanan Capai USD1,24 Miliar

Slamet juga membeberkan, sejumlah upaya untuk mempercepat pengembangan kawasan budidaya udang berkelanjutan di tahun ini, antara lain : pengembangan model tambak udang berkelanjutan di lima Kabupaten/Kota yakni Aceh Timur, Sukabumi, Sukamara, Buol, dan Lampung Selatan; pengembangan model tambak millenial dengan memberdayakan anak muda; pengembangan model tambak perhutanan sosial dengan melibatkan lintas sektoral; dan mendorong investor untuk mengembangkan usaha budidaya udang dengan pola kemitraan inti plasma.

"Tahun ini upaya-upaya tersebut akan mulai kita dorong, sehingga dalam lima tahun ke depan target peningkatan nilai ekspor 250% bisa tercapai", terang Slamet.

 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020