trubus.id
Petani Tebu Gigit Jari, Harga Gula Anjlok Dibayangi Impor Saat Panen

Petani Tebu Gigit Jari, Harga Gula Anjlok Dibayangi Impor Saat Panen

Binsar Marulitua - Rabu, 10 Jun 2020 08:00 WIB

Trubus.id -- Harapan petani tebu dapat mendongkrak ekonomi di tengah pandemi Covid-19 harus sirna. Harga gula di tingkat petani mengalami penurunan drastis seiring memasuki musim giling pada ahir Mei dan awal Juni 2020.

Tidak hanya itu, situasi diperparah karena melimpahnya pasokan gula dalam negeri yang sebagiannya dipengaruhi pasokan impor.

"Kami menilai tekanan harga itu salah satunya dipicu dengan masuknya gula impor secara bersamaan dengan musim giling tebu," kata Sekretaris Jendral  Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M. Nur Khabsyin melalui keterangan tertulis yang diterima Selasa, 9 Juni 2020.

Nur menjelaskan, sebenarnya dampak anjloknya harga gula sudah mulai terlihat bahkan lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya.

Saat ini harga gula di tingkat petani di Pulau Jawa sudah menyentuh Rp10.800 per kg, turun dari akhir bulan puasa di angka Rp12.500 kg-13.000 per kg.

Petani juga sudah kesulitan menjual gula karena pedagang dan distributor sudah mempunyai stok dari gula impor.

Baca Lainnya : Harga Gula Masih Melambung di Atas Harga Eceran Tertinggi

Hal itu ditambah, sebagian perusahaan gula juga sudah mulai memproduksi gula tebu lokal, sehingga pasokan akan semakin melimpah. Padahal musim giling tebu diperkirakan akan berlangsung dalam empat sampai lima bulan ke depan.

“Harga di petani masih bisa turun terus bahkan sampai batas harga acuan pemerintah yang saat ini masih berlaku yakni Rp9.100 per kg,” ucap Nur.

Nur juga menjelaskan, harga Rp9.100 per kg merupakan harga acuan sesuai Permendag 42/2016 agar harga di tingkat konsumen menjadi Rp12.500 per kg. Namun, tercapainya harga itu justru tidak menggembirakan buat petani.

Penyebabnya selama ini pemerintah tidak kunjung menyesuaikan harga, padahal tiap tahunnya petani semakin merugi karena biaya produksi konsisten terus naik termasuk inflasi.

Biaya pokok produksi di lapangan yang ditanggung petani saja sudah menyentuh Rp12.772 per kg, jauh lebih tinggi dari harga acuan Kemendag.

APTRI pun mendesak pemerintah mewajibkan importir membeli gula dari petani. Di samping itu. ia juga meminta agar HPP petani diperbaiki menjadi Rp14.000 per kg. 

Baca Lainnya : KLHK Tidak Gunakan Metode GFW untuk Umumkan Penurunan Deforestasi Indonesia

Sementara di tingkat konsumen harga eceran tertinggi Rp12.500 per kg yang sudah berlaku kurun waktu empat tahun terakhir.
 
"Kami menilai, harga itu sudah tidak sesuai dengan kondisi riil biaya produksi gula dalam negeri karena komponen biaya produksi konsisten meningkat setiap tahun, termasuk inflasi juga tiap tahun naik," ucap Nur.
 
Sesuai perhitungan APTRI, lanjut dia, biaya pokok produksi gula berdasarkan kajian lapangan sudah menyentuh Rp12.772 per kg. Ia pun meminta Pemerintah untuk mulai memperhatikan petani tebu dalam negeri setelah kemarin disibukkan dengan stabilitasi harga di tingkat konsumen.

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020