trubus.id
Terkait Kebijakan Pencetakan Sawah Baru, Begini Pandangan Para Dosen IPB

Terkait Kebijakan Pencetakan Sawah Baru, Begini Pandangan Para Dosen IPB

Syahroni - Sabtu, 06 Jun 2020 13:00 WIB

Trubus.id -- Krisis pangan pada masa pandemi COVID-19 merupakan masalah yang harus dihadapi oleh berbagai negara, termasuk Indonesia. Berbagai upaya dilakukan untuk menghadapi ancaman krisis pangan, termasuk kebijakan untuk melakukan pencetakan sawah-sawah baru atau yang biasa disebut dengan upaya ekstensifikasi.

Menanggapi hal ini, dosen IPB University mendorong Departemen Agronomi dan Hortikultura (AGH), Fakultas Pertanian, IPB University untuk menyelenggarakan diskusi bertajuk Intensifikasi vs Pencetakan Sawah Baru melalui Zoom dan Live streaming Youtube, Rabu (3/6) lalu. Diskusi tersebut menghadirkan sederetan pakar IPB University seperti Dr Purwono, Prof Dr Edi Santosa dan Dr Ir Abdul Qodir.

Dalam paparannya Dr Purwono menyampaikan bahwa pada tahun 2020, produksi pangan Indonesia diperkirakan akan stagnan yakni berkisar 31 juta ton beras sehingga untuk jangka pendek intensifikasi lebih strategis sebab lahan dan petaninya sudah ada. 

Beras masih menjadi sumber karbohidrat utama bagi sebagian masyarakat Indonesia sehingga menjadi komoditas yang sangat strategis secara politik dan ekonomi.

“Untuk jangka pendek, intensifikasi masih mampu menjamin pasokan beras tetapi setelah tahun 2020, produksi padi harus berkembang ke areal baru. Adapun beban terhadap beras harus dikurangi dengan melakukan diversifikasi horizontal yaitu kita mengkonsumsi sumber-sumber karbohidrat lokal,” tambah Dr Purwono, Dosen Divisi Produksi Tanaman Departemen AGH dalam siaran pers yang diterima Trubus.id, Jumat (5/6).

Sementara itu, Prof Edi Santosa dalam paparannya membahas tentang tantangan dan hambatan yang akan dihadapi dengan adanya pencetakan sawah baru. Menurutnya ada enam strategi nasional untuk menjawab tantangan dan hambatan tersebut.

“Strategi yang bisa kita lakukan adalah percepatan usia sawah melalui rekayasa sipil, penerapan teknologi ramah ekologi, rekayasa smart agronomi dengan mengurangi gap, pendekatan rekayasa kawasan bisnis ‘not’ as usual, pelibatan aktor strategik (akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, non government organization, dan media massa), membangun link rekayasa sosial-akademisi,” imbuhnya.

Pada kesempatan ini, beberapa strategi penyediaan benih padi dalam intensifikasi disampaikan oleh Dr Abdul Qadir, dosen Divisi Ilmu dan Teknologi Benih. Yaitu peningkatan provitas dan produksi padi melalui penyediaan benih yang tepat dapat dilakukan dengan beberapa strategi. 

Pertama, penggunaan varietas incremental yang sudah tersedia. Kedua, produksi benih ditujukan untuk sentra produksi padi sesuai wilayah optimum pertumbuhan dan pengembangan varietas. Ketiga, rantai produksi benih berfungsi sebagai flow of seed yang efisien. [RN]
 

Editor : Syahroni

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020