trubus.id
Labolatorium Bocor Sebabkan Sejumlah Dokter dan Petugas Terpapar Covid-19 di Indonesia

Labolatorium Bocor Sebabkan Sejumlah Dokter dan Petugas Terpapar Covid-19 di Indonesia

Binsar Marulitua - Jumat, 05 Jun 2020 14:32 WIB

Trubus.id -- Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengungkapkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginstruksikan mulai merancang mekanisme pelacakan menggunakan teknologi komunikasi untuk mencapai target baru terkait uji spesimen. Target baru terkait uji spesimen virus corona menjadi 20.000 per hari dari awalnya 10.000 per hari. 

“Saya menyampaikan terima kasih bahwa target pengujian spesimen yang dulu saya targetkan 10.000 ini sudah terlampaui. Saya harapkan target berikutnya ke depan adalah 20.000 per hari. Ini harus mulai kita rancang ke sana,” ujarnya Jokowi melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis, 4 Juni 2020.

Meski berhasil mencapai teget 10.000 pengujian spesimen, Doni Monardo juga mengungkapkan rasa kehatian-hatian terkait sejumlah dokter dan petugas laboratorium yang terpapar virus corona atau Covid-19 karena kebocoran laboratorium.

“Sejumlah dokter dan tenaga laboratorium itu sempat terpapar Covid-19 karena ada kebocoran dari laboratorium. Nah ini yang harus kita jaga,” kata Doni Monardo saat konferensi pers seusai mengikuti ratas melalui konferensi video, Kamis (4/6/2020).

Doni monardo menjelaskan, risiko para pekerja labolatorium tetap menjadi atensi, karena keamanannya tidak jauh berbeda dengan resiko yang dihadapi dengan dokter dan perawat. 

Apalagi dengan pelibatan swasta terhadap uji spesimen corona, menurutnya laboratorium swasta harus dapat menjamin para pekerja di laboratorium tidak menjadi berisiko karena sistem pengamanannya belum maksimal.

“Kita harus betul-betul meyakini jangan sampai dokter, perawat dan petugas laboratorium menjadi korban atau menjadi berisiko karena sistemnya belum maksimal. Jadi kami bersama dengan Kementerian Kesehatan di bawah bimbingan dari Bapak Menko PMK akan senantiasa memperhitungkan segala aspek ya terutama masalah keamanan dari tenaga medis kita,” tegas Doni Monardo.

Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa Jokowi menyetujui untuk rekrutmen sukarelawan agar membantu tracing yang masif.

“Terutama mahasiswa S2 dari jurusan biologi molekuler, kemudian jurusan keperawatan, kebidanan, dan juga jurusan kesehatan masyarakat. Jadi Bapak Presiden menyetujui untuk segera melakukan rekrutmen sukarelawan besar-besaran, karena juga untuk kerja secara sif (bergantian), karena selama ini keterbatasan jumlah relawan ini membikin tidak bisa maksimal,” ujar Menko PMK. 

Baca Lainnya : Gubernur Anies Kembali Perpanjang PSBB Setelah Tiga Kali Berlangsung

Lebih lanjut, Menko PMK sampaikan bahwa usul dari Menristek/Kepala BRIN agar ada pelatihan-pelatihan yang intensif sebelum sukarelawan betul-betul ditugaskan dan itu akan dilakukan.

Soal permasalahan satu data untuk percepatan penanganan Covid-19 yang harus diperbaiki, Menko PMK sampaikan bahwa Presiden memerintahkan kepada jajaran Gugus Tugas dan Kemenko PMK untuk segera memperbaiki menyempurnakan data.

“Manajemen pelaporan harus se-real time mungkin dari berbagai sumber untuk kebutuhan pengambilan keputusan dan satu pintu. Jadi ini akan kita terus benahi masalah data ini dan tentu saja butuh waktu,” imbuh Menko PMK.

Data pasien, menurut Menko PMK, harus tetap dilindungi sesuai dengan undang-undang, tetapi dapat dianalisis dengan cepat untuk pengambilan keputusan.

“Jadi Bapak Presiden tetap meminta agar supaya ada perlindungan data terhadap pasien, terutama hak privasi dari pasien. Kemudian tim gugus tugas dan semua pihak agar membantu konsentrasi penanganan tiga provinsi, tiga provinsi yang Bapak Presiden meminta, memerintahkan untuk mendapatkan perhatian, yaitu satu, Provinsi Jawa Timur, dua Provinsi Kalimantan Selatan, dan yang ketiga adalah Provinsi Sulawesi Selatan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Menko PMK juga sampaikan telah diperintahkan untuk dapat melakukan peningkatan pemeriksaan PCR yang sekarang sudah 11 ribu, artinya perintah Presiden sudah terpenuhi untuk target sekarang.

“Tapi Presiden meminta supaya ada peningkatan target, yaitu menjadi 20 ribu per hari. Bahkan beliau sudah menyampaikan mestinya dengan peralatan yang sekarang jumlahnya 120 unit yang tersebar di seluruh Indonesia, mestinya menurut perhitungan beliau bisa mencapai 30 ribu,” jelas Menko PMK.

Selanjutnya, Menko PMK sampaikan bahwa Ketua Gugus Tugas dan Kementerian Kesehatan akan terus mempercepat untuk target 20 ribu dan selanjutnya akan bergerak target yang ke-30 ribu seperti perhitungan Presiden.

Soal pelacakan secara agresif dengan menggunakan IT, Menko PMK sampaikan misalnya dengan GPS dan lain sebagainya kemudian perlunya membangun industri berbagai hal terkait materi atau bahan pemeriksaan PCR, misalnya cotton swab tips, kemudian juga viral transport medium.

“Jadi sekarang ini masih ada puluhan alat tes/piranti tes dengan berbagai merk. Bapak Presiden meminta untuk disederhanakan jumlahnya agar ketika di lapangan tidak semrawut, karena seperti kita ketahui bahwa sering banyak sekali antara medium pengangkut virus dengan reagen ektraksinya itu tidak matching karena merknya beda. Hal ini juga menghambat pelaksanaan di lapangan,” ujarnya.

Karena itu, menurut Menko PMK, semakin sedikit jumlah merk nanti akan lebih mudah untuk penanganan dan Presiden juga mendorong agar PCR yang sudah ditemukan oleh peneliti di Indonesia segera diproduksi besar-besaran agar tidak lagi tergantung dengan barang-barang piranti tes dari impor gitu.

Baca Lainnya : Tinggalkan Cara Konvensional, Jokowi Instruksi Pengujian Spesimen Covid-19 Gunakan GPS

Menurut Menko PMK, ada satu hal yang harus diselesaikan oleh Menristek yaitu colok untuk hidung dan tenggorokannya itu ternyata belum bisa produksi, padahal PCR-nya sudah bisa.

“Karena itu tadi Presiden juga segera meminta untuk itu bisa dipenuhi sehingga nanti dalam waktu yang tidak lama kita bisa menggunakan produk dalam negeri sendiri yang itu sebetulnya kualitasnya sudah teruji secara medis,” ungkap Menko PMK.

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020