trubus.id
BNPB Antisipasi Dampak Asap Karhutla yang Berpotensi Perparah Pendemi Covid-19

BNPB Antisipasi Dampak Asap Karhutla yang Berpotensi Perparah Pendemi Covid-19

Binsar Marulitua - Selasa, 02 Jun 2020 13:30 WIB

Trubus.id -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, total kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dari awal Januari 2020 hingga 31 Mei 2020 telah terjadi sebanyak 123 kali. BNPB meminta pemerintah daerah untuk melakukan penguatan kesiapsiagaan masyarakat memasuki musim kemarau. 

"Berdasarkan pantauan iklim dan cuaca BMKG, BNPB telah meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk terus melakukan peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman bahaya karhutla," jelas Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Lilik Kurniawan melalui keterangan tertulis yang diterima Selasa (2/6/2020). 

Lilik menjelaskan, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki musim kemarau pada bulan Mei 2020 hingga puncaknya pada Agustus 2020. Untuk itu,  langkah antisipatif perlu dilakukan pemerintah daerah, karena jika dilihat secara historis pada titik panas (hot spot) dengan tingkat kepercayaan lebih besar dari 80% di lima tahun terakhir.

Baca Lainnya : Deforestasi Netto 2018-2019 Capai 462,4 Ribu Hektare, KLHK Sebut Rendah dan Stabil

“Upaya penguatan kesiapsiagaan masyarakat melalui sosialisasi dan edukasi di media elektronik serta informasi lainnya, termasuk papan informasi pelarangan membakar hutan dan juga hukumannya,” pesan Lilik dalam surat yang dikirimkan kepada BPBD pada 27 Mei 2020 lalu. 

Lilik juga mengingatkan kepada pemerintah daerah untuk melakukan sosialisasi peringatan dini ancaman bahaya karhutla, dengan memperhatikan panduan kesehatan dan kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) bagi daerah yang sedang melaksanakan. Saat ini, beberapa wilayah yang diprediksi terjadi karhutla juga sedang menghadapi pendemi Covid-19. 

BNPB juga menyampaikan perlunya antisipasi terkait dengan dampak asap pada populasi yang juga terpapar virus SARS-CoV-2. 

Baca Lainnya : Lahan Gambut Riau Level Bahaya, Rekayasa Hujan Hasilkan 17,1 Juta M2 Air

“Menginstruksikan multipihak terkait untuk mengumpulkan data ODP serta rumah sakit yang berada di zona risiko tinggi ancaman bencana asap, untuk menyiapkan tempat khusus evakuasi bagi ODP atau PDP sehingga terpisah dengan masyarakat yang sehat,” ujarnya.

LIlik kembali menerangkan, saart ini langkah pencegahan di lapangan lainnya yang dapat dilakukan yakni pengecekan sarana dan prasarana pemadaman, seperti pompa air, kendaraan pemadam, peralatan pemadaman maupun titik-titik sumber air. 

Baca Lainnya : Pemerintah Siapkan 300 Hektare Lahan Gambut untuk Cetak Sawah Baru, Antisipasi Defisit Beras

Sedangkan langkah antisipatif di belakang meja, BPBD dan unsur terkait lain dapat melakukan memonitor data dan informasi melalui situs penyedia informasi seperti milik Badan Restorasi Gambut (BRG), Lembaga Penerbaganan dan Antariksa (Lapan) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020