trubus.id
Catatan Bayu Krisnamurthi: Panggilan Leluhur

Catatan Bayu Krisnamurthi: Panggilan Leluhur

Syahroni - Minggu, 24 Mei 2020 21:00 WIB

Trubus.id -- Jika ada pertanyaan dan dorongan keingin tahuan mencari makna, berselancar di internet - perpustakaan raksana jaman ini - adalah salah satu cara. Kali ini pertanyaannya adalah apa itu "panggilan luhur"? 

Hasil yang diperoleh menarik. Politik adalah panggilan luhur, menurut akun media-sosial seorang anggota sebuah partai politik. Ada materi pelajaran agama Katolik kelas 7, yang menjelaskan panggilan luhur sebagai perempuan atau laki-laki yang sesungguhnya untuk adalah untuk menjadi manusia sempurna, manusia sejati. 

Patrick Snow dalam buku 'Creating Your Own Destiny' (2002), menyebutkan panggilan luhur sebagai sesuatu yang dilakukan diatas dan diluar takdir. Buku lain bercerita tentang kisah Fathimah binti Asad, istri Abu Thalib, paman Nabi Muhammad SAW, yang karena sedemikian dekat dengan bibinya, Nabi memanggilnya dengan panggilan luhur 'Ibu'. Fathimah bahagia, dan merasa ada sejuta cahaya makna terangkum dibalik panggilan itu. Tulisan lain dari Romo Magnis Suseno menyebutkan bahwa kebangsaan bukan sebuah fakta, melainkan sebuah panggilan luhur.

Multi-interpretasi. Jadi apa arti 'panggilan luhur' itu? 

Berulang tahun bersamaan dengan Idul Fitri tahun ini, 24 Mei 2020, Bina Swadaya yang telah berdiri 53 tahun, menyatakan bahwa melayani orang lain, menolong orang miskin, memberdayakan usaha mikro, merevitalisasi desa, mengembangkan gerakan keswadayaan masyarakat sebagai panggilan luhur. Itulah yang dinyatakan oleh pendiri dan para perintis kegiatan Bina Swadaya.

Bina Swadaya berbentuk yayasan, tetapi pendiriannya tidak seperti lazimnya yayasan-yayasan besar yang dimulai dengan adanya dana besar dari para pendirinya, atau dana besar yang kemudian dikumpulkan dari masyarakat dalam bentuk donasi atau bentuk pengumpulan dana lainnya. Bina Swadaya didirikan dengan semangat oleh orang-orang yang berkeinginan untuk menolong orang lain itu. Dan terbukti, semangat itu, keinginan itu, panggilan luhur yang berada didalam hati dan pikiran para pendirinya, telah menghantarkan Bina Swadaya bertahan lebih dari 50 tahun. Panggilan luhur menjadi kekuatan lembaga - yang kemudian oleh seorang guru besar - dinyatakan sebagai modal spiritual, modal sosial, dan modal intelektual organisasi. 

Bina Swadaya awalnya tidak punya uang. Awal kegiatan organisasi dibiayai oleh uang pribadi para pendiri, yang kemudian menarik perhatian dan kerjasama dari berbagai pihak, swasta, pemerintah dan lembaga internasional. Bisnis Bina Swadaya - yang kemudian juga menjadi sumber pembiayaan kegiatan Bina Swadaya - lahir dari kegiatan pemberdayaannya, yang didorong panggilan luhur untuk melayani dan membantu orang miskin. Pada saat banyak kegiatan pelatihan, terasa ada kebutuhan untuk mencetak bahan pelatihan. Jadilah bisnis percetakan dan penerbitan.

Kegiatan pelatihan dan pendampingan berkembang jadi bisnis konsultan. Ruang-ruang pelatihan dibangun, juga tempat menginap bagi peserta pelatihan; jadilah bisnis jasa wisma pendidikan dan latihan. Ketika ada semangat untuk membagi pengetahuan ke petani dan masyarakat desa hingga ke seluruh Indonesia, lahirlah majalan pertanian. Dan ketika menyadari bahwa orang miskin membutuhkan dukungan dana, jadilah kegiatan dan lembaga keuangan mikro. Begitulah seterusnya. Dari kegiatan yang sangat terbatas dan seadanya, Bina Swadaya berkembang menjadi organisasi besar yang berjalan dengan menggunakan belasan perseroan sebagai alat geraknya.

Namun tetap menimbulkan pertanyaan mengapa Bina Swadaya dapat bertahan 53 tahun. Apa faktor penentunya? Apakah panggilan luhur itu? Atau jika dibalik, apa yang akan membuat Bina Swadaya bertahan dan berkembang 50 tahun lagi? Masih kuatkah panggilan luhur itu? 

Alasan rasional-manajerial-bisnis akan menunjukkan betapa banyak masalah dan kesulitan yang dihadapi Bina Swadaya. Banyak kegagalan dan kesalahan, meski juga tak sedikit keberhasilan dan prestasi. Sangat sering Bina Swadaya menghadapi situasi dimana solusi atas suatu masalah ternyata membawa ke masalah berikutnya. Permasalah yang dihadapi organisasi bisnis yang 'telah terlanjur' menjadi besar - sebagaimana juga dihadapi banyak organisasi besar lain - terus membayangi Bina Swadaya. 

Setelah bisnis dan kegiatan berkembang, organisasi juga mulai berkembang. Orang-orang yang terlibat bertambah. Sebagian tertarik oleh idealisme dan tujuan organisasi yang terwujud dari panggilan luhur tadi, tetapi sebagian besar lebih karena alasan untuk bekerja, mencari nafkah. Alasan yang manusiawi dan sah, tetapi telah membuat pemahaman atas alasan keberadaan Bina Swadaya menipis. Apalagi dengan para pendiri yang kian berumur dan berkurang aktifnya.

Keberhasilan juga sering membuat kompleksitas masalah meningkat, sementara keinginan terus berada di zona nyaman mengurangi keberanian dan kesempatan melakukan inovasi. Padahal hukum siklus bisnis tetap mengikat: dengan kematangan bisnis dan organisasi yang telah mencapai puncaknya, jalur selanjutnya hanyalah 'menurun dan menyusut', kecuali organisasi itu mampu melakukan penemuan kembali (reinventing) bisnisnya, melakukan inovasi kreatif untuk menapaki situasi dan suasana yang memang nyata berbeda.

Bina Swadaya berada pada tahap itu. Disrupsi wabah yang terjadi tahun ini menambah berat hantaman masalah yang dihadapi. Situasi sangat berat. Bisnis menyusut drastis. Beberapa kegiatan yang ada ditengarai makin tidak relevan dengan kondisi saat ini. Beberapa beban masalah masa lalu juga belum sepenuhnya dapat dihilangkan. Situasi memojokkan Bina Swadaya seolah dengan pesan keras: berubah, atau mati. 

Untuk itu menghadapi situasi yang serba sulit itu, Bina Swadaya benar-benar sangat membutuhkan 'panggilan luhur'nya kembali. Alasan mengapa Bina Swadaya ada, dan motivasi pendorong untuk berani bertahan, berinovasi, berubah, dan berkembang. Harus ada lagi 'panggilan luhur' tahun 2020, pemimpin dan para pengelola saat ini harus menemukannya, mungkin tidak sama bentuknya tetapi setidaknya harus sama kuatnya dengan faktor yang membuat Bina Swadaya berkembang dalam awal dekade-dekadenya. Dan itu harus dapat diperoleh pada saat yang selama ini menjadi sumber pengisi daya - para pendiri dan perintis - secara natural memang akan semakin berkurang aktivitasnya.

Jadi, apa arti 'panggilan luhur' itu? Bagi Bina Swadaya itu adalah energi keberadaannya, itu adalah daya hidup perkembangannya. Dan Bina Swadaya membutuhkannya, sangat.--


 

Refleksi Ulang Tahun ke 53 Bina Swadaya

Oleh Bayu Krisnamurthi, Ketua Pengurus Yayasan Bina Swadaya.

Editor : Syahroni

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020