trubus.id
Lahan Gambut Riau Level Bahaya,  Rekayasa Hujan Hasilkan  17,1 Juta M2 Air

Lahan Gambut Riau Level Bahaya, Rekayasa Hujan Hasilkan 17,1 Juta M2 Air

Binsar Marulitua - Kamis, 21 Mei 2020 14:00 WIB

Trubus.id -- Rekayasa hujan untuk membasahi gambut melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di wilayah Provinsi Riau, telah dilakukan semenjak tanggal 14 hingga 28 Mei 2020 mendatang. Hingga tanggal 20 Mei di Provinsi Riau, telah dilakukan enam sorti penerbangan dengan total bahan semai NaCl sebanyak 4,8 ton. 

"Berdasarkan citra satelit TRMM, rekayasa hujan telah menghasilkan 17,1 juta m2 air yang turun pada daerah-daerah dengan potensi awan hujan terbesar," jelas Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Basar Manullang, Kamis (21/5/2020). 

Basar menjelaskan, rekayasa hujan juga mulai berhasil membasahi gambut dengan intensitas sedang hingga sedang yang terjadi di sebagian besar wilayah Riau seperti di Kabupaten Siak, Bengkalis, Kepulauan Meranti, Pelalawan dan Indragiri Hilir.

Rekayasa hujan dilakukan dengan pesawat Casa A-2107 milik TNI AU yang membawa garam dan menyemainya di sekitar awan hujan dengan ketinggian sekitar 10.000-12.000 feet. 

Baca Lainnya : Deforestasi Netto 2018-2019 Capai 462,4 Ribu Hektare, KLHK Sebut Rendah dan Stabil

''Rekayasa hujan ini hanya kita lakukan pada daerah tertentu saja, prioritas gambut dan ada awan hujannya. Angka 17,1 juta m2 air adalah hasil rekayasa hujan, jadi hujan alami di luar titik wilayah penyemaian tidak kita klaim. Jumlah ini cukup berhasil menaikkan Tinggi Muka Air Tanah atau TMAT dari level bahaya ke aman,'' jelas Basar.

Rekayasa hujan diperlukan karena melihat mayoritas Titik Pemantauan Tinggi Muka Air Tanah (TP-TMAT) lahan gambut di Provinsi Riau, telah menunjukkan pada level siaga bahkan bahaya. 

''Rekayasa hujan ini bagian dari upaya pencegahan, bukan pemadaman. Karena sifatnya pencegahan, maka kita lakukan di musim hujan mumpung masih ada awan hujan,'' kata Basar.

Basar mengungkapkan,  rekayasa hujan ini dilakukan KLHK bersama  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)  juga ditujukan utuk mengisi embung, kanal, dan membasahi gambut agar tidak kering saat nanti masuk musim panas yang diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juni hingga Agustus.

Upaya ini juga dilakukan atas rekomendasi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG), karena melihat potensi pembentukan awan hujan masih besar.

''Rekayasan hujan ini bagian dari ikhtiar, selain kerja tim lapangan di darat yang setiap hari selalu melakukan patroli dan ground check hotspot,'' kata Direktur Pengendalian Karhutla KLHK, Basar Manullang, Kamis (21/5/2020).

Diharapkan dengan pasokan air yang cukup di kanal dan embung, serta gambut selalu basah, ancaman Karhutla di Provinsi Riau dapat berkurang.

Berdasarkan data satelit, jumlah hotspot di Provinsi Riau tanggal 1 Januari-20 Mei 2020, tercatat 271 titik dengan confident 80-100 %. Jumlah ini menurun bila dibandingkan pada periode sama tahun lalu yang mencapai 503 titik.

Baca Lainnya : KLHK Latih 3000 Petani Hutan Secara E-Learning Saat Pendemi Covid-19

''Saat ini tidak terdata ada hotspot. Mudah-mudahan kita bisa menjaga dengan kerjasama tim yang solid. Pesan Ibu Menteri LHK pada kami, meski dalam suasana Covid-19, pekerjaan lapangan apalagi yang berkaitan dengan antisipasi Karhutla harus terus dilakukan. Seluruh tim darat dari Manggala Agni, sampai hari ini juga tetap bekerja dengan tetap menerapkan protokol Covid. Kita terus bekerja dengan semangat demi Merah Putih,'' tutup Basar.

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

02 Juni 2020
02 Juni 2020
02 Juni 2020