trubus.id
Budikdamber Jadi Solusi Kemandirian Pangan Selama Pandemi Covid-19

Budikdamber Jadi Solusi Kemandirian Pangan Selama Pandemi Covid-19

Astri Sofyanti - Jumat, 15 Mei 2020 07:00 WIB

Trubus.id -- Budidaya ikan dalam ember atau yang kerap disebut Budikdamber merupakan salah satu solusi pangan masa depan yang bisa dikembang di lahan terbatas untuk menciptakan kemandirian pangan masyarakat terutama di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Melalui Budikdamber, Anda kini tak perlu repot untuk memenuhi kebutuhan protein hewani dan sayuran bagi keluarga. Terlebih saat ini pemerintah Indonesia masih memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memutus rantai penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Dengan teknik budidaya ikan dalam ember, masyarakat tak perlu lagi cemas akan pemenuhan nutrisi keluarga selama masa pandemi Covid-19 karena teknik budidayanya terbilang mudah dengan peralatan yang sederhana.

Selama menjalankan work from home (WFH) masyarakat bisa mengisi waktu luang dengan dengan kegiatan urban farming salah satunya Budikdamber.

Urban Farming adalah suatu metode pertanian kota dengan konsep berkebun di lahan yang terbatas. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, juga menunjang kondisi ekonomi masyarakat itu sendiri melalui pemasaran hasil panen urban farming.

Indonesia Against Covid-19 (IAC-19) sebagai penggiat Urban Farming mencontohkan kegiatan yang sudah dilakukan dan terbukti membuahkan hasil, yakni budidaya kangkung dan pembesaran ikan lele dalam ember (budikdamber).

Konsepnya juga sangat sederhana dan tidak membutuhkan modal besar serta tidak memerlukan ruangan atau kolam yang luas. Cukup satu ember besar berkapasitas 60 liter bisa menampung 60 ekor ikan.

Selain ember, hal yang juga dibutuhkan adalah beberapa pot plastik air mineral, media tanam seperti arang, sekam dan lainnya serta kawat jemuran untuk pengait pot yang mudah didapatkan dari limbah rumah tangga. Barang-barang pendukung tersebut juga dapat dibeli melalui situs belanja daring.

Salah satu penggiat urban farming IAC-19, Putri Simorangkir, sudah mulai melakukan uji coba sebanyak 14 ember dengan bibit ikan dan kangkung kepada 14 RT di daerah Jakarta Pusat, Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

“Jika hasilnya bagus, program akan kita perluas ke daerah perkotaan lainnya,” kata Putri penggiat Urban Farming dalam keterangannya.

Program urban farming budikdamber itu juga sangat cocok diterapkan oleh lintas masyarakat, khususnya bagi mereka yang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri selama pandemi Covid-19 dan memberikan pengalaman baru.

Agnes Lourda Budhidarma selaku koordinator IAC-19 berpendapat bahwa, apabila program urban farming diikuti oleh masyarakat banyak, maka dapat memberikan dampak yang lebih besar bagi kelangsungan hidup.

Selain bertujuan untuk ketahanan pangan, urban farming juga dapat menguatkan rasa kebersamaan dan menciptakan budaya gotong royong dalam lingkungan masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Wisnu Widjaja juga mengatakan bahwa urban farming sangat mendukung dan memberikan apresiasi positif karena terbukti lebih banyak memberikan manfaat bagi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Wisnu juga sepakat bahwa selain untuk mengisi aktivitas menumbuhkan gotong-royong, urban farming juga memperkuat ketahanan pangan dan kebutuhan gizi masyarakat.

Wisnu mengharapkan agar hal itu dapat melibatkan anak-anak sebagai generasi muda sehingga dapat menjadi bekal pengetahuan mereka untuk masa depan yang lebih baik.

“Libatkan anak-anak sekolah juga untuk bagaimana mereka mencintai tanaman (pangan). Karena itu merupakan pembelajaran di alam, karena itu bagian dari pendidikan,” tuturnya.

Ke depannya, Deputi Sistem dan Strategi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan terus mendukung upaya-upaya inovasi dan semangat masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sekaligus mengurangi penyebaran Covid-19.

“Saya kira idenya itu, sudah bagus sekali. Kami mendukung,” tandas Wisnu.

Bahan Budikdamber

  • Ember ukuran 80 liter
  • Benih ikan lele
  • Bibit Kangkung
  • Gelas plastik
  • Arang
  • Kawat
  • Tang
  • Solder

Tahapan membuat budikdamber

  1. Sediakan gelas untuk tempat bibit kangkung sebanyak 10-15 buah, lubangi dengan solder bawah gelas
  2. Potong kangkung dan masukkan ke dalam gelas kemudian isikan dengan arang batok kelapa sebanyak 50-80 persen ukuran gelas
  3. Potong kawat sepanjang 12 cm dan buat kait untuk pegangan gelas dalam ember
  4. Isi ember dengan air sebanyak 60 liter diamkan selama dua hari
  5. Isi ember dengan bibit ikan lele ukuran 5-12 cm sebanyak 60-100 ekor diamkan selama 1-2 hari
  6. Setelah itu rangkai gelas kangkung dalam ember

Pemeliharaan Budikdamber

Untuk pemeliharaan, letakkan ember di tempat terkena matahari maksimal. Berikan pakan kepada ikan sesuai ukuran sekenyangnya bisa 2-3 kali dengan waktu tetap. (5-7cm pakan pf800,10 cm pf1000, >12cm 781-2,781-1, 781)

Tanaman kangkung akan terlihat tumbuh di hari ke-3. Jangan lupa perhatikan bila ada kutu di daun kangkung, segera buang daun atau batang karena kangkung akan kriting dan mati. Penampakan air akan berubah menjadi warna hijau.

Perlu selalu diperhatikan dan amati nafsu makan ikan setiap hari.

Apabila nafsu makan ikan menurun, air berbau busuk (NH3, H2S), ikan menggantung (kepala di atas, ekor ke bawah) segera ganti air atau lakukan sipon (Penyedotan kotoran di dasar ember dengan selang).

Ganti air biasanya 10-14 hari sekali. Untuk penyedotan 5-8 liter, bisa lebih atau keseluruhan bila perlu, ganti dengan air bersih. Jika kangkung membesar maka dibutuhkan air lebih banyak, tambahkan air setinggi leher ember.

Waktu Panen Kangkung dan Ikan

Waktu panen tanaman kangkung pertama adalah 14-21 hari sejak tanam. Saat panen sisakan kembali bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali.

Panen ke-2 dan selanjutnya berjarak 10-14 hari sekali. Panen kangkung bisa bertahan 4 bulan.

Untuk waktu panen ikan lele dapat dilakukan dalam 2 bulan, bila benih bagus dan pakan baik. Perlu diketahui tingkat bertahan hidup (survival) ikan lele 40-100 persen.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020