trubus.id
Peristiwa » Peran “Whole Genome Sequencing” dalam Mengatasi Re...
Peran “Whole Genome Sequencing” dalam Mengatasi Resistensi Antibiotik

Peran “Whole Genome Sequencing” dalam Mengatasi Resistensi Antibiotik

Binsar Marulitua - Kamis, 14 Mei 2020 16:00 WIB

Trubus.id -- Resistensi terhadap antibiotik merupakan suatu kondisi bakteri tidak dapat dimatikan dengan pemberian antibiotik dalam dosis normal. Keadaan ini tentu saja sangat membahayakan kelangsungan hidup manusia.
 

Peneliti Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Anggia Prasetyoputri, menjelaskan,  menurut The Review on Antimicrobial Resistance oleh Jim O’Neill (2016), resistensi terhadap antibiotik dapat memperpanjang masa penyebaran bakteri dan meningkatkan risiko kematian.

“Apabila tidak ada intervensi efektif terhadap masalah resistensi antibiotik, maka sampai tahun 2050 nanti diperkirakan 10 juta orang akan meninggal setiap tahunnya yang disebabkan oleh infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotik,” ujarnya pada Senin (11/5/2020). 

Resistensi terhadap antibiotik dapat terjadi karena beberapa hal, yaitu penggunaan antibiotik yang kurang tepat seperti waktu terapi yang terlalu singkat, penggunaan dosis yang tidak tepat, dan terjadinya diagnosa awal yang salah.

Baca Lainnya : Menteri Edhy Sebut Ekspor Benih Lobster Sudah Lewat Kajian Mendalam Para Ahli 

“Kecenderungan masyarakat yang menggunakan antibiotik pada setiap pengobatan penyakit turut memperburuk masalah resistensi terhadap antibiotik,” jelsnya.

Anggia menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Antimicrobial Resistance in Indonesia (AMRIN) diketahui 43% bakteri Eschericia coli di Indonesia telah mengalami resistensi terhadap beberapa jenis antibiotik, yang terbesar adalah ampisilin sebesar 73%, kotrimoksazol  mencapai 56%, kloramfenikol dan siprofloksasin sebesar 43% dan 22%, serta gentamisin dengan kisaran 18%.

“Perlu dilakukan pengembangan antibiotik baru akan dengan tetap menjaga agar antibiotik yang sekarang ada masih tetap efektif terhadap banyak bakteri,” ungkapnya.

Bagaimana bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik?
Anggia menyatakan antibiotik dapat menyerang beberapa bagian dari bakteri baik dinding sel, membran sel, serta proses sintesis protein. “Saat ini tersedia berbagai antibiotik dengan berbagai kelas yang berbeda berdasar dari aktifitas maupun target antibiotik pada bakteri. Selain itu terdapat beberapa mekanisme resistensi antibiotik sebagai bentuk dari mekanisme cara bertahan bakteri dari serangan antibiotik,” ungkap Anggi.

Baca Lainnya : Ekspor Benih Lobster Tidak Berpihak pada Nelayan, Siapa yang Diuntungkan?

Dirinya mencontohkan untuk antibiotik yang menargetkan dinding sel, dalam kondisi yang normal pada populasi bakteri yang rentan antibiotik, maka antibiotik dapat dengan mudah masuk kedalam sel dan membunuh bakteri penyebab infeksi. “Akan tetapi pada kondisi berbeda apabila dinding sel bakteri menebal maka antibiotik akan sulit untuk menembusnya sehingga bakteri dapat bertahan hidup.”

Cara lain yang dapat dilakukan oleh bakteri untuk bertahan hidup adalah dengan cara memompa keluar antibiotik yang telah masuk kedalam sel bakteri sehingga antibiotik menjadi tidak dapat bekerja sesuai target. “Kondisi inilah yang disebut sebagai resistensi terhadap antibiotik.

Resistensi antibiotik pada bakteri disandi oleh beberapa gen dan juga bisa disebabkan oleh mutasi pada gen-gen tertentu yang menyebabkan terjadinya perubahan mekanisme pertahanan pada bakteri,” terang Anggi.

Mengenal whole genome sequencing (WGS)
Semua makhluk hidup termasuk bakteri dan virus memiliki kode genetik sendiri berupa DNA atau RNA. “Jumlah rangkaian DNA atau RNA di setiap genom sangat banyak dan apabila diurutkan menjadi gambar genom yang utuh melalui sekuensing. Hal inilah yang disebut sebagai Whole Genome Sequencing,” jelas Anggi.
 

Baca Lainnya : BP2MI Catat 389 Kasus Pengaduan ABK Sepanjang 2018-2020, Taiwan dan Korsel Terbanyak


Ada bermacam-macam mekanisme resistensi antibiotik. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui gambar yang utuh terhadap profil resistensi adalah melalui whole genome sequencing  karena didapatkan sekuen yang utuh tentang DNA atau RNA dari suatu bakteri.

“Rangkaian dari DNA atau RNA yang disebut genom dapat memberikan beberapa informasi yang dibutuhkan oleh manusia tentang bagaimana cara membangun, menjaga serta melemahkan hidup bakteri tertentu,” jelasnya.
 
Dirinya menerangkan, dengan mengetahui gambaran utuh genom suatu bakteri, kita dapat memperoleh petunjuk lebih lanjut tentang penanganannya.

Whole Genom Sequencing dapat dijadikan dasar untuk menentukan antibiotik yang tepat dalam mengobati pasien juga dapat merancang perawatan serta terapi untuk menanggulangi penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri” tutup Anggi. 

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

29 Jan 2021
12 Jan 2021
24 Des 2020