trubus.id
Kenaikan HPP Diharapkan Bisa Ikut Memperbaiki Nilai Tukar Petani

Kenaikan HPP Diharapkan Bisa Ikut Memperbaiki Nilai Tukar Petani

Binsar Marulitua - Jumat, 10 Apr 2020 07:00 WIB

Trubus.id -- Kenaikan Harga Pokok Pembelian (HPP) diharapkan bisa turut memperbaiki Nilai Tukar Petani (NTP).  Kesejahteraan petani dapat ditunjukkan dari naiknya NTP. Akan tetapi, jika melihat laporan Badan Pusat Statistik, NTP untuk tanaman pangan di bulan Maret 2020 turun sebesar 1,30% dari bulan sebelumnya.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, penurunan NTP menandakan pendapatan yang diterima petani lebih rendah dari nilai yang dibayarkan oleh petani, padahal di saat musim panen seperti sekarang ini, seharusnya petani dapat menikmati penambahan pendapatan.

Di tengah pandemic Coronavirus Disease (Covid-19), penurunan NTP tentu akan menambah kerugian petani, terutama mereka yang tergolong ke dalam petani penggarap yang tidak memiliki lahan.

Baca Lainnya : Ubah Himbauan, Kini Pemerintah Dorong Masyarakat Gunakan Masker Saat Keluar Rumah dan Tidak Sakit

“Memang, praktik pelaksanaan kenaikan HPP ini baru terjadi di tengah pandemi Covid-19. Untuk itu, pemerintah harus memperhatikan petani di situasi seperti ini. Di tengah panen raya, distribusi beras dari petani hingga ke konsumen harus terjamin dan berlangsung dengan aman. Dengan demikian, peraturan kenaikan HPP ini dapat benar-benar membawa perubahan dan keuntungan bagi petani yang mana juga berkontribusi pada kenaikan Nilai Tukar Petani (NTP),” jelas Galuh.

Di sisi lain, Galuh menambahkan, agar penyerapan beras maksimal, Bulog harus terus mengadakan pengadaan dengan membeli beras dari petani. Per 8 April 2020, harga beras medium di pasar tradisional sudah mencapai rata-rata Rp 12.000 dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Harga ini merupakan harga tertinggi dari kenaikan secara perlahan yang sudah berlangsung sejak awal tahun 2020.

Melihat bahwa petani juga merupakan net consumer dari beras, keterjangkauan harga dan akses beras bagi seluruh lapisan masyarakat merupakan hal yang harus jadi perhatian, terutama di saat krisis Covid-19 seperti sekarang.

Baca Lainnya : Hespridin pada Kulit Jeruk Bisa Tangkal Corona, Begini Cara Sajinya

“Net consumer artinya mereka mengonsumsi lebih banyak daripada yang mereka tanam. Dengan demikian, kalau ada kenaikan harga pada berbagai komoditas pangan, mereka juga akan merasakan dampaknya,” terang Galuh.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akhirnya mengeluarkan peraturan baru yang mengatur harga pembelian pemerintah untuk beras lewat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 24 Tahun 2020 tentang Penetapan HPP untuk Gabah atau Beras pada 19 Maret 2020 yang lalu.

Harga pembelian gabah kering panen (GKP) di tingkat petani menjadi Rp 4.200 per kg atau 13,5% lebih tinggi dibandingkan HPP sebelumnya. Harga gabah kering giling (GKG) di tingkat penggilingan dinaikkan dari Rp 4.600 per kg menjadi Rp 5.250 per kilogram. Sementara harga pembelian beras di gudang Perum Bulog dinaikkan dari Rp 7.300 per kilogram menjadi Rp 8.300 per kilogram.

Editor : Binsar Marulitua

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020