trubus.id
Dampak Covid-19 Ekspor-Impor Terhambat Mengindikasikan Harga Pangan Naik, Begini Penjelasan Kadin

Dampak Covid-19 Ekspor-Impor Terhambat Mengindikasikan Harga Pangan Naik, Begini Penjelasan Kadin

Astri Sofyanti - Kamis, 12 Mar 2020 16:00 WIB

Trubus.id -- Mewabahnya virus corona (Covid-19) sejak akhir Desember 2019 menyebabkan lalu lintas perdagangan internasional terhambat. Betapa tidak, virus corona bahkan menyebar ke berbagai penjuru dunia dengan cepat. Adanya kenaikan harga sejumah komoditas pangan terjadi lantaran terhambatnya impor akibat wacah Covid-19.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan Perkasa Roeslani mengatakan bahwa virus corona tentu berdampak pada sektor perdagangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam sitasi ini (wabah corona, Red), China menjadi partner dagang terbesar Indonesia.

“Sejumlah jenis barang mengalami perlambatan teruma yang diimpor dari China akibat virus corona,” kata Rosan ketika melakukan konferensi pers terkait kesiapan stok pangan menjelang Ramadan dan Idul Fitri di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (12/3).

Rosan mengatakan, presentase impor barang dari China sebesar 26 persen, sementara ekspor ke China sebesar 16,7 persen. Dirinya mencontohkan barang kebutuhan panganyang di impor langsung dari China meliputi bawang putih dan buah-buahan.

“Jadi bawang putih bisa dikatakan 100 persen dari China. Sementara kebutuhan bawang putih kita mencapai 400 sampai 500 ton per tahun,” kata Rosan dalam konferensi pers di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Kamis (12/3).

Berdasarkan pantauan Trubus.id di Pasar Induk Kramat Jati, harga bwang putih di banderol sekitar Rp38.000 sampai Rp40.000 per kilogram.

Selain bawang putih, komoditas lain yang harganya turut melonjak yakni gula pasir. Beberapa waktu terakhir, gula pasir dalam kondisi yang cukup langka, harga gula pasir eceran sendiri kini dijual seharga Rp17.000 per kilogram.

Keadaan tersebut diperburuk dengan kepanikan yang terjadi di kalangan masyakat. Kondisi masyarakat yang berbelanja secara berlebihan (panic buying) memicu kelangkaan sejumlah komoditas.

Sebelumnya Kementerian Perdagangan mengugkapkan, jika panic buying justu dapat merugikan masyarakat, kondisi ini dapat memicu ketidakstabilan harga yang disebabkan oleh ketidakseimbangan pasokan. Selain itu, pemerintah juga mengimbau agar tidak menyebar informasi yang tidak jelas terkait pasokan dan harga bapok, serta tidak mudah terpancing oleh berita-berita yang tidak benar terkait isu ini, sehingga menimbulkan kekhawatiran yang berlebihan.

Untuk komoditas bawang putih, Kemendag telah menerbitkan surat persetujuan impor sebanyak 25.829 ton.

Editor : System

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020