trubus.id
Australia Kembangkan Satelit untuk Memprediksi Zona Bahaya Kebakaran Hutan

Australia Kembangkan Satelit untuk Memprediksi Zona Bahaya Kebakaran Hutan

Syahroni - Jumat, 06 Mar 2020 06:00 WIB

Trubus.id -- Ilmuwan Australia kini tengah mengembangkan satelit pertama di negara itu yang dirancang untuk memprediksi di mana kebakaran hutan akan dimulai. Pengembangan ini sendiri dilakukan setelah berbulan-bulan negeri mereka dilanda kebakaran hebat.

Dilansir dari AFP, Australian National University mengatakan, sebuah tim sedang menciptakan satelit berukuran kotak sepatu yang akan mengukur tutupan lahan hutan dan tingkat kelembaban menggunakan detektor inframerah.

Baca Lainnya : Beginilah Asap Kebakaran Hutan Australia Dilihat dari Ruang Angkasa

Diharapkan data ini akan membantu menentukan di mana kebakaran hutan akan dimulai dan di mana mereka mungkin sulit untuk dikendalikan.

Teknologi itu akan "secara khusus disetel untuk mendeteksi perubahan pada tanaman dan pohon Australia seperti eucalypts, yang sangat mudah terbakar", kata universitas itu dalam sebuah pernyataan.

Para peneliti berencana untuk bermitra dengan sektor swasta untuk meluncurkan satelit baru ke orbit rendah Bumi dan, menurut ahli penginderaan jauh Marta Yebra, data tersebut akan dibagikan kepada petugas pemadam kebakaran.

"Teknologi dan data inframerah ini, yang saat ini tidak tersedia, akan membantu target pembakaran yang dikendalikan yang dapat mengurangi frekuensi dan tingkat keparahan kebakaran hutan, serta dampak jangka panjangnya terhadap masyarakat, ekonomi, dan lingkungan Australia," katanya.

Baca Lainnya : Australia Dilanda Kekeringan, Kebakaran Hutan Merajalela dan Pasokan Air Terus Menyusut

Diperkirakan butuh waktu lima tahun sebelum ilmuwan dapat menggunakan satelit ini.

Selama musim panas, Australia yang rentan terhadap kebakaran hutan mengalami salah satu musim kebakaran terburuk yang pernah ada. Lebih dari 30 orang tewas, ribuan rumah hancur, lebih dari 10 juta hektar terbakar dan setidaknya satu miliar hewan mati.

Para peneliti mengatakan pemanasan global memperpanjang musim panas negara itu dan membuatnya semakin berbahaya, dengan musim dingin yang lebih pendek membuatnya lebih sulit untuk melakukan pekerjaan pencegahan kebakaran hutan. [RN]

Editor : Syahroni

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020