trubus.id
Siapkah Petani Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim, Begini Penjelasan Antropolog UI

Siapkah Petani Indonesia Menghadapi Perubahan Iklim, Begini Penjelasan Antropolog UI

Astri Sofyanti - Jumat, 28 Feb 2020 20:00 WIB

Trubus.id -- Perubahan iklim juga menjadi ancaman yang sangat serius terhadap sektor pertanian. Situasi ini mendatangkan masalah baru bagi keberlanjutan produksi pangan dan sistem pertanian konvensional. Lantas siapkah petani Indonesia menghadapi perubahan iklim?

Antropolog dari Pusat Kajian Antropologi, Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia, yang juga penggagas Warung Ilmiah Lapangan Prof. M.A. Yunita Winarto, Ms, MSc berpandangan bahwa situasi perubahan iklim memaksa petani untuk menggunakan premis ilmiah di dalam melakukan pengamatan dan analisis.

“Tanpa jasa perubahan iklim, tanpa upaya melakukan edukasi dan tanpa mempunyai literasi mengenai iklim itu apa, cuaca itu apa, konsekuensinya apa, bagaimana mereka siap. Banyak petani terjebak oleh situasi alam yang turut berubah-ubah. Berapa puluh juta petani yang tidak siap kalau tidak ada upaya mengajak mereka untuk mempelajari agrometeorologi. Oleh karena itu, Warung Ilmiah Lapangan menawarkan jasa layanan iklim untuk membuat para petani siap menghadapi perubahan iklim. Petani yang ikut dalam pembelajaran kita, boleh saya katakan jauh lebih siap dari pada petani-petani yang tidak paham,” kata Yunita dalam kegiatan Bincang-Bincang Wisma Hijau yang mengangkat tema “Pertanian dan Kesiapan Petani Menghadapi Perubahan Iklim”, di Kampus Diklat Wisma Hijau, Depok, Jawa Barat, Jumat (28/2).

Guna mempersiapkan petani yang tanggap akan perubahan iklim, Yunita mengatakan, petani dituntut untuk bisa mengontrol, mengamati dan menganalisis lahan pertaniannya sendiri.

“Harus ada standarisasi yang disepakati bersama oleh ilmuan dan petani dengan menyesuaikan pembelajaran ilmiah dengan kondisi ekosistem petani dan lahan pertanian,” tambahnya.

Dirinya mengatakan, petani harus memahami empat komponen iklim yang terdiri dari angin, kelembapan, suhu udara dan curah hujan. Dari ke empat komponen inilah, Yunita menekankan faktor curah hujan karena memiliki keragaman yang sangat tinggi. Dirinya mencontohkan, dalam satu kilometer di suatu wilayah kondisi curah hujan bisa berbeda satu dengan yang lain karena adanya faktor lokal.

“Sementara komponen lain seperti angin, kelembapan dan suhu udara, bisa merujuk pada data BMKG. Jadi, curah hujan memiliki keberagaman yang paling tinggi diantara komponen iklim lainnya,” tandasnya.

Editor : Astri Sofyanti

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020