trubus.id
Warung Ilmiah Lapangan Ciptakan Petani  Peneliti yang Tanggap Krisis Iklim

Warung Ilmiah Lapangan Ciptakan Petani Peneliti yang Tanggap Krisis Iklim

Astri Sofyanti - Jumat, 28 Feb 2020 18:15 WIB

Trubus.id -- Krisis iklim yang kian nyata ternyata memberikan dampak pada ekosistem hingga kehidupan manusia. Bahkan, krisis iklim saat ini dinilai cukup merepotkan para petani. Padahal sektor pertanian berperan penting dalam memajukan ekonomi nasional yang memproduksi pangan bagi 270 juta penduduk Indonesia. Selain itu, sektor pertanian juga dinilai menjadi komponen penting dalam penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB).

Berbagai konsekuensi terjadinya krisis iklim bagi pertanian salah satunya meliputi naiknya suhu minimum di malam hari dan perubahan pola musim hujan yang memungkinkan terjadinya peristiwa iklim yang ekstrem. Akibatnya, para petani kini tidak bisa lagi menggantungkan diri pada pengetahuan tradisional mengenai pola iklim yang berdampak pada produk pertanian yang dihasilkan menjadi tidak optimal.

Menjawab permasalahan yang dialami pertani saat ini berbagai upaya terus dilakukan untuk mengadaptasi dan melakukan mitigasi guna meminimalkan dampak krisis iklim di sektor pertanian. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh sekelompok akademisi dengan menciptakan sebuah inovasi baru dengan nama Warung Ilmiah Lapangan (WIL) atau Science Field Shops (SFSs).

Disampaikan oleh Prof. M.A. Yunita Winarto, Ms, MSc yang juga sebagai dosen Antropologi FISIP Universitas Indonesia, sejak tahun 2008, Warung Ilmiah Lapangan mulai dipraktikan di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, tahun 2009 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tahun 2014 di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, dan tahun 2018 di Kabupaten Sumedang Jawa Barat.

“Lewat Warung Ilmiah Lapangan, kita ingin mengajak para petani untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dipraktikan oleh petani dalam usaha tani sehari-hari melalui pengamatan dan analisis ilmiah. Kami mendorong para petani untuk menjadi ilmuwan,” jelas Antropolog dari Pusat Kajian Antropologi, Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia, Yunita kepada Trubus.id dalam kegiatan Bincang-Bincang Wisma Hijau yang mengusung tema “Pertanian dan Kesiapan Petani Menghadapi Perubahan Iklim”, di Kampus Diklat Wisma Hijau, Depok, Jawa Barat, Jumat (28/2).

Menurutnya, para petani yang terlibat dalam Warung Ilmiah Lapangan dapat memetik manfaat dari pembelajaran agrometereologi. Secara akumulatif, petani dapat melakukan pengayaan pengetahuan, peningkatan kemampuan antisipasi, serta pengambilan keputusan atas hasil analisis sendiri.

Warung Ilmiah Lapangan atau Science Field Shops adalah arena pembelajaran “in situ”,  yakni pembelajaran agrometeorologi oleh petani di lahannya masing-masing. Pembelajaran ini melibatkan proses saling belajar antarpetani, antara petani dan ilmuwan dan/atau antar petani dengan penyuluh pertanian/pemandu.

WIL menawarkan satu pendekatan penyuluhan pertanian baru untuk menghasilkan pengetahuan yang dapat dipraktikkan oleh petani dalam kegiatan usaha tani sehari-hari. WIL mengacu pada paradigma ‘Farmers’ First’ yang  menempatkan petani sebagai yang utama dan pertama dalam pengembangan kemampuan antsipasi perubahan iklim dan bukan pembelajaran instuksional satu arah.

Dilansir dari laman WIL, disampaikan petani adalah pembelajar yang aktif dan melakukan pengamatan dan pencatatan harian data curah hujan dan agroekosistem, mendokumentasikan serta menganalisa dan mendiskusikan hasil temuan itu bersama-sama.

Peran ilmuwan atau pemandu adalah menyajikan jasa-jasa layanan berupa pengetahuan baru tentang ragam aspek agrometeorologi yang dapat digunakan oleh petani. Ilmuwan juga mempelajari cara untuk dapat mengoperasionalkan produk-produk ilmu pengetahuan serta mencari cara yang tepat untuk merajut pengetahuan tradisional/lokal dengan pengetahuan ilmiah.

Pada kesempatan tersebut Prof. M.A. Yunita Winarto, Ms, MSc juga memperkenalkan tujuh jasa yang dikembangkan oleh Warung Ilmiah Lapangan: pertama, mengukur curah hujan harian; mengamati kondisi agroekosistem harian; menganalisis dan mengevaluasi hasil panen; mengelola dan mengorganisasikan WIL oleh petani secara mandiri; Merumuskan dan menyebarluaskan skenario musiman untuk tiga bulan ke depan yang diperbaharui setiap bulan; Menyampaikan pengetahuan baru yang dibutuhkan petani sesuai dengan kondisi di lahannya; dan melaksanakan eksperimen petani untuk menjawab persoalan-persoalan di lapangan.

“Jadilah peneliti yang tanggap akan perubahan iklim,” tutup Yunita.

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020