trubus.id
Desa Preneur Karangasem Bali Bakal Dijadikan Pilot Project Pembangunan Ekonomi Daerah

Desa Preneur Karangasem Bali Bakal Dijadikan Pilot Project Pembangunan Ekonomi Daerah

Thomas Aquinus - Kamis, 06 Feb 2020 11:00 WIB

Trubus.id -- Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan dukungan dan mewujudkan Desa Preneur di Kabupaten Karangasem Bali, sebagai pilot project (percontohan) dalam pembangunan perekonomian di daerah, khususnya dalam menggerakkan anak muda untuk membangun desanya. 

"Desa itu kaya sekali akan potensi, baik potensi alam maupun SDM nya. Sangat bagus kalau kita bisa gerakkan anak muda untuk membangun desanya seperti melalui Desa Preneur di Karangasem ini. Ini juga akan mendorong kewirausahaan di desa," ujar Menkop dan UKM Teten Masduki, usai menerima kunjungan Bupati Karangasem, Bali, I Gusti  Ayu (IGA) Mas Sumatri, di Jakarta Rabu (5/2).

Dalam siaran persnya, Menurut Menkop dan UKM, rasio kewirausahaan di Indonesia memang masih tertinggal dibanding negara  di ASEAN seperti Malaysia,  Singapura dan Thailand, apalagi dibandingkan negara-negara maju. Karena itu jiwa entrepreneurship terus digalakkan untuk meningkatkan rasio kewirausahaan khususnya di kalangan anak muda. "Bali itu kan identik dengan pariwisata, makanya desa wisata amat bagus bila dikembangkan," ujar Menkop dan UKM.

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Bersama PERTIDES Rumuskan Konsep Kampus Merdeka untuk Desa

Mas Sumatri mengatakan program Desa Preneur yang diluncurkan dua tahun lalu, kini terus berbenah menjadi pariwisata spiritual berbasis desa adat, yang akan dilengkapi dengan penyediaan restoran/kuliner 24 jam, wisata alam, pertanian dan peternakan.

"Desa Preneur ini kami luncurkan untuk  mengembangkan dan meningkatkan potensi desa melalui berbagai inovasi yang melibatkan anak muda," ujar Sumatri.

Sumatri yakin, program Desa Preneur akan meningkatkan perekonomian masyarakat. “Desa Preneur adalah upaya kami dalam mengembangkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Karangasem, seperti sektor pertanian dan peternakan. Untuk pertanian kami lakukan pengembangan budidaya salak, kacang mete dan sebagainya,” jelasnya.

Baca Lainnya : Lima Tahun Dana Desa Mampu Penuhi Hak Dasar Kebutuhan Masyarakat

"Selain itu, kami juga punya wisata yang sangat bagus. Di Karangasem terdapat wisata yang lengkap, seperti wisata religi, pegunungan, pantai dan desa adat,” tambahnya.

Kabupaten Karangasem memiliki 190 desa adat yang tiap desa terdapat budaya yang terjaga serta potensi daerah yang berbeda-beda. 

Dalam mengembangkannya, lanjutnya, antara pemerintah dan kepala desa harus selalu bersinergi dan bekerja sama. “Mencari tahu potensi yang ada, tetapi jangan sampai merusak budaya yang telah ada dan jangan sampai merusak alam,” paparnya.

Bupati Mas Sumatri berharap, dengan program Desa Preneur, pemuda-pemudi tidak takut untuk berwirausaha, seperti menjadi petani atau peternak. “Jangan sampai generasi muda takut masuk lumpur karena kotor lalu tidak ingin menjadi petani atau peternak. Padahal saat ini sudah banyak teknologi untuk membantu pertanian. Dalam meningkatkan perekonomian, masyarakat juga harus memiliki daya saing. Untuk itu dengan Desa Preneur saya harap masyarakat tidak takut lagi untuk memulai usahanya dengan menggali potensi daerahnya,” ujarnya.

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Jajaki Kerja Sama Pasarkan Produk Desa Bersama E-commerce

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan dukungan dan  mewujudkan Desa Preneur  di Kabupaten Karangasem Bali, sebagai pilot project (percontohan) dalam pembangunan perekonomian di daerah, khususnya dalam menggerakkan anak muda untuk membangun desanya. 

"Desa itu kaya sekali akan potensi, baik potensi alam maupun SDM nya. Sangat bagus kalau kita bisa gerakkan anak muda untuk membangun desanya seperti melalui Desa Preneur di Karangasem ini. Ini juga akan mendorong kewirausahaan di desa," ujar Menkop dan UKM Teten Masduki, usai menerima kunjungan Bupati Karangasem, Bali, I Gusti  Ayu (IGA) Mas Sumatri, di Jakarta Rabu (5/2/2020).

Menurut Menkop dan UKM, rasio kewirausahaan di Indonesia memang masih tertinggal dibanding negara  di ASEAN seperti Malaysia,  Singapura dan Thailand, apalagi dibandingkan negara-negara maju. Karena itu jiwa entrepreneurship terus digalakkan untuk meningkatkan rasio kewirausahaan khususnya di kalangan anak muda. "Bali itu kan identik dengan pariwisata, makanya desa wisata amat bagus bila dikembangkan," ujar Menkop dan UKM.

Mas Sumatri mengatakan program Desa Preneur yang diluncurkan dua tahun lalu, kini terus berbenah menjadi pariwisata spiritual berbasis desa adat, yang akan dilengkapi dengan penyediaan restoran/kuliner 24 jam, wisata alam, pertanian dan peternakan.

Baca Lainnya : Bupati Tanggamus Konsultasi Langsung kepada Menteri Desa Soal Desa Wisata

"Desa Preneur ini kami luncurkan untuk  mengembangkan dan meningkatkan potensi desa melalui berbagai inovasi yang melibatkan anak muda," ujar Sumatri.

Sumatri yakin, program Desa Preneur akan meningkatkan perekonomian masyarakat. “Desa Preneur adalah upaya kami dalam mengembangkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Kabupaten Karangasem, seperti sektor pertanian dan peternakan. Untuk pertanian kami lakukan pengembangan budidaya salak, kacang mete dan sebagainya,” jelasnya.

"Selain itu, kami juga punya wisata yang sangat bagus. Di Karangasem terdapat wisata yang lengkap, seperti wisata religi, pegunungan, pantai dan desa adat,” tambahnya.

Kabupaten Karangasem memiliki 190 desa adat yang tiap desa terdapat budaya yang terjaga serta potensi daerah yang berbeda-beda. 

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Dorong Digitalisasi Desa di Perbatasan

Dalam mengembangkannya, lanjutnya, antara pemerintah dan kepala desa harus selalu bersinergi dan bekerja sama. “Mencari tahu potensi yang ada, tetapi jangan sampai merusak budaya yang telah ada dan jangan sampai merusak alam,” paparnya.

Bupati Mas Sumatri berharap, dengan program Desa Preneur, pemuda-pemudi tidak takut untuk berwirausaha, seperti menjadi petani atau peternak. “Jangan sampai generasi muda takut masuk lumpur karena kotor lalu tidak ingin menjadi petani atau peternak. Padahal saat ini sudah banyak teknologi untuk membantu pertanian. Dalam meningkatkan perekonomian, masyarakat juga harus memiliki daya saing. Untuk itu dengan Desa Preneur saya harap masyarakat tidak takut lagi untuk memulai usahanya dengan menggali potensi daerahnya,” ujarnya.

Kejar Ketertinggalan

Bupati Mas Sumatri menyampaikan semua itu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan Karangasem dibanding kab/kota lainnya di Provinsi Bali. 

"Persoalan di Bali adalah Karangasem yang tertinggal dibanding daerah lainnya. Tingkat kemiskinan di Karangasem itu masih tinggi, PAD kecil, banyak gepeng, stunting juga masih tinggi, daerah rawan bencana, kami ingin adanya keadilan di Bali dengan menyelesaikan persoalan-persoalan itu," ujar Bupati Mas Sumatri.

Jumlah UMKM sebagai penggerak  roda  perekonomian di Karangasem, dinilai masih kurang. " UMKM tercatat ada 31.500 UMKM, dibanding jumlah penduduk yang 500 ribu, saya nilai UMKM nya masih kurang. Kita butuh tiga kali lipat," kata Mas Sumatri. Sedang jumlah koperasi mencapai 320 koperasi dengan omzet Rp 520 miliar, juga dinilai masih kurang. "Omset koperasi idealnya lima kali lipat atau Rp 2,5 triliun untuk wilayah Karangasem dengan penduduk sekitar 500 ribu," ujarnya.

Baca Lainnya : Kemendes PDTT Tekankan Pentingnya Sinergi Program Pemberdayaan Desa Milik Perguruan Tinggi

Bupati Mas Sumatri menyampaikan semua itu dilakukan untuk mengejar ketertinggalan Karangasem dibanding kab/kota lainnya di Provinsi Bali. 

"Persoalan di Bali adalah Karangasem yang tertinggal dibanding daerah lainnya. Tingkat kemiskinan di Karangasem itu masih tinggi, PAD kecil, banyak gepeng, stunting juga masih tinggi, daerah rawan bencana, kami ingin adanya keadilan di Bali dengan menyelesaikan persoalan-persoalan itu," ujar Bupati Mas Sumatri.

Jumlah UMKM sebagai penggerak  roda  perekonomian di Karangasem, dinilai masih kurang. " UMKM tercatat ada 31.500 UMKM, dibanding jumlah penduduk yang 500 ribu, saya nilai UMKM nya masih kurang. Kita butuh tiga kali lipat," kata Mas Sumatri. Sedang jumlah koperasi mencapai 320 koperasi dengan omzet Rp 520 miliar, juga dinilai masih kurang. "Omset koperasi idealnya lima kali lipat atau Rp 2,5 triliun untuk wilayah Karangasem dengan penduduk sekitar 500 ribu," ujarnya.

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

04 Juni 2020
03 Juni 2020
03 Juni 2020