trubus.id
Industri Furnitur di Surakarta Butuh Pendampingan, Kemenkop dan UKM Siap Fasilitasi

Industri Furnitur di Surakarta Butuh Pendampingan, Kemenkop dan UKM Siap Fasilitasi

Thomas Aquinus - Selasa, 04 Feb 2020 10:00 WIB

Trubus.id -- Besarnya potensi industri furnitur, mebel dan kerajinan (craft) di Tanah Air, harus benar-benar ditangkap peluangnya oleh para pelaku usaha. Pasalnya, industri tersebut telah memiliki pasar yang sangat diminati oleh konsumen luar negeri.

Salah satunya di kota Surakarta, Solo, beberapa sentra industri furnitur ini telah mendapat market potensial untuk pasar ekspor. Hal itu terlihat dalam kunjungan kerja yang dilakukan Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki di beberapa sentra industri furnitur dan kerajinan tangan, di antaranya di Pasar Mebel Ngamplak (furnitur kayu) dan Koperasi Manunggal Jaya Trangsan Sukoharjo (industri rotan).

Di Pasar Mebel Ngamplak, Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Mebel Gilingan Kota Surakarta Budi Santoso mengatakan, kawasan pasar Mebel Ngamplak ini masuk dalam program Presiden Joko Widodo dalam percepatan kawasan ekonomi strategis di Jateng selama tiga tahun ke depan (2021-2023).

Baca Lainnya : Bulog Siap Sinergi Bersama Kemenkop UKM dan Kementan Wujudkan Koperasi Petani

Pasar seluas 6.800 meter persegi (m2) ini memang menjadi salah satu daerah yang dikenal sebagai industri mebel. Namun sayangnya dikeluhkan Budi, sejak berdiri pada 1970-an, pasar ini kerap kali mengalami kebakaran. 

"Sudah tiga kali kebakaran, dari habis terus bangun lagi, terus kebakar lagi. Kami berharap, pembangunan kembali Pasar Mebel Ngamplak ini mengakomodasi kebutuhan para perajin. Karena kalau tidak didukung bagaimana industri mebel survive bahkan menembus ekspor yang lebih luas," curhatnya saat diskusi dan dialog bersama Menkop dan UKM Teten Masduki di Solo, Jateng, Minggu (2/2).

Tak hanya masalah infrastruktur pasar, market hingga produksi mebel ini juga menjadi keluhan beberapa pelaku usaha saat bertemu Menkop dan UKM. Padahal Pasar Mebel Ngamplak ini omzetnya mencapai lebih dari Rp 10 miliar per tahun, dengan kontribusi pajak ke APBD hingga Rp 27,1 miliar per tahun.

Baca Lainnya : Menkop dan UKM Inginkan Masyarakat Gabung Koperasi Dorong Gerakan Perhutanan Sosial

"Kami mengelola 44 pasar, masing-masing potensi ini telah kami maksimalkan. Sementara kami juga menaungi 67 pedagang sekaligus perajin mebel," ujarnya.

Sementara Koperasi Manunggal Jaya Trangsan Sukoharjo Suparji menuturkan, industri kerajinan rotan asal Sukoharjo ini telah sukses menembus market global di antaranya Spanyol, Uni Emirat Arab hingga Afrika Selatan.

"Di 2019, di bawah naungan koperasi rotan sukses memenuhi demand tiga negara tersebut sebanyak 12 kontainer dengan nilai transaksi mencapai 140 ribu dolar Amerika Serikat atau setara Rp 1,91 miliar," sebutnya.

Namun permasalahan bahan baku, saat ini masih menjadi kendala bagi koperasi dalam memenuhi permintaan pasar luar negeri. Selama ini, pasokan bahan baku rotan justru didatangkan dari luar Pulau Jawa yaitu Sulawesi, Kalimantan dan Aceh.

Baca Lainnya : Menkop dan UKM Optimis Generasi Milenial Berperan Strategis re-Branding Koperasi

Suparji menyebut, dalam kurun waktu dua tahun terakhir, permintaan rotan meningkat pesat, terutama sejak adanya perdagangan bebas. "Buyer dari Amerika kalau sudah datang pasti pesannya jumlah besar. Selain bahan baku, SDM juga masih jadi kendala," tuturnya.

Pihaknya pun meminta adanya pelatihan dari ahli yang dibantu oleh Kemenkop dan UKM, terutama dalam pembuatan produk rotan berstandar ekspor.

"Di masa kejayaannya di era tahun 80-an, industri rotan mampu memproduksi 400 unit per bulan. Kami ingin balik lagi di era kejayaan itu," ucapnya.

Menkop dan UKM Teten Masduki berujar, saat ini didorong bagaimana meningkatkan ekspor. "Bagaimana pun juga negara masih butuh dolar atau mengurangi impor. Dalam 2-3 tahun harus ada pertumbuhan ekspor atau kurangi impor," ucapnya.

Baca Lainnya : Menteri Koperasi dan UKM Inginkan Koperasi dan UMKM Terjun di Sektor Produksi Unggulan

Mebel maupun furnitur lanjut Teten, salah satu industri yang diprioritaskan untuk ditingkatkan produksinya baik dalam dan luar negeri. 

"Perkayuan memang sentranya di Jawa Tengah. Pemerintah harus bersinergi dengan Pemda dan Pemprov untuk produk unggulan nasional. Kami harus menyiapkan ekosistemnya, rantai pasoknya," ujar Teten dalam siaran persnya.

Problem industri mulai dari pasar, SDM, teknologi, desain dan pembiayaan kata Teten, bakal segera dikonsolidasikan dengan Kementerian/Lembaga (K/L) terkait agar tujuan kenaikan jumlah ekspor produk UMKM bisa terwujud.

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

03 Juni 2020
03 Juni 2020
03 Juni 2020