trubus.id
Ilmuwan Asal Australia Berhasil Kembangkan Virus Corona

Ilmuwan Asal Australia Berhasil Kembangkan Virus Corona

Astri Sofyanti - Kamis, 30 Jan 2020 13:00 WIB

Trubus.id -- Para ilmuwan Australia telah berhasil mengembangkan virus corona yang mewabah di Kota Wuhan, China. Temuan baru tersebut dilakukan di laboratorium di luar China. Mereka menyebutnya "terobosan signifikan". Hasil penelitian ini akan dibagikan kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan harapan dapat membantu upaya diagnosa dan menangani virus tersebut.

Sebelumnya, sebuah laboratorium di China telah berhasil mencipta ulang virus tersebut dan membagikan urutan genomnya.

Wabah virus Corona tersebut telah menewaskan 170 orang di China dan menginfeksi lebih dari 6.000 orang.

Para ilmuwan di Peter Doherty Institue of Infection and Immunity di Melbourne mengatakan bahwa mereka telah menyerahkan sampel virus baru itu, dari pasien yang terinfeksi, kepada Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan laboratorium di seluruh dunia.

Para peneliti di sebuah laboratorium khusus di Melbourne, Australia, menyatakan berhasil mengembangkan duplikat virus Corona baru dari seorang pasien yang tertular. Mereka mendapatkan sampelnya pada Jumat (24/01) lalu.

"Kami merancang rencana jika ada insiden seperti ini bertahun-tahun lalu dan itu sebabnya kami bisa mendapat jawaban begitu cepat," kata Dr Mike Catton dari Peter Doherty Institute for Infection and Immunity.

"Ini adalah sebuah langkah, bagian dari pecahan sebuah teka-teki yang telah kami bagikan," sambung Catton, seperti dilaporkan Reuters.

Kendati demikian, Mike Catton mengungkapkan, pengembangan ini masih belum cukup untuk memberantas wabah virus corona.

Wabah virus ini muncul di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Sejak itu China telah mengkarantina sebagian besar provinsi Hubei. Meski telah melakukan karantina, tetapi virus tersebut masih menyebar ke berbagai negara mulai dari Kanada, Amerika Serikat, Prancis, Sri Lanka, Thailand, Taiwan, Vietnam, Korea Selatan, Nepal, Singapura, Australia, Malaysia, Jepang, Kamboja, Jerman, Finlandia hingga Uni Emirat Arab.

Selain dapat berkontribusi dalam pembuatan vaksin, sampel yang dikembangkan di Australia dapat digunakan untuk menghasilkan tes antibodi yang bisa mendeteksi virus pada pasien yang tidak menunjukkan gejala, kata Doherty Institue.

"Memiliki virus nyata akan membuat kita memiliki kemampuan untuk benar-benar memvalidasi dan memverifikasi semua metode pengujian," kata Julian Druce, kepala laboratorium identifikasi virus Doherty Institue.

Para dokter mengatakan duplikat virus yang ditemukan para peneliti dapat berfungsi sebagai "materi kontrol" dan "bakal mengubah keadaan untuk kepentingan diagnosis".

Berkat duplikat virus ini, para dokter bisa mengembangkan tes pra-diagnosis yang bisa mendeteksi keberadaan virus pada orang-orang yang belum menunjukkan gejala apapun.

Pihak berwenang China mengatakan virus ini seperti flu pada umumnya bisa menyebar selama periode inkubasi.

Namun WHO menyatakan belum jelas apakah virus yang berada pada satu orang bisa menjangkiti orang selanjutnya sebelum gejala-gejala pada orang pertama muncul. Menurut WHO, periode inkubasi virus Corona yang baru berkisar antara dua hingga 10 hari.

"Tes antibodi akan memampukan kami untuk menguji pasien-pasien terduga sehingga kami bisa mengumpulkan gambaran lebih akurat seberapa luas sebaran virus ini dan, konsekuensinya antara lain, untuk mengetahui jumlah kematian yang sesungguhnya. Tes ini juga akan membantu dalam penilaian tingkat efektivitas vaksin-vaksin yang diuji coba," pungkas Catton.

Editor : System

Berita Terkait

26 Okt 2020
19 Okt 2020
19 Okt 2020