trubus.id
Kerap Dilanda Banjir, Peneliti LIPI Sebut Jabodetabek Perlu Bangun Konsep Adaptasi Perubahan Iklim

Kerap Dilanda Banjir, Peneliti LIPI Sebut Jabodetabek Perlu Bangun Konsep Adaptasi Perubahan Iklim

Astri Sofyanti - Selasa, 07 Jan 2020 15:00 WIB

Trubus.id -- Perubahan iklim dinilai menjadi salah satu faktor utama pemicu bencana alam seperti hujan lebat yang mengakibatkan banjir dan longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban banjir dan longsor di Jabodetabek akibat peningkatan intensitas hujan sejak akhir Desember 2019 hingga awal Januari 2020 mencapai 67 jiwa.

Sebagai upaya memperbaiki pengurangan risiko bencana, Peneliti Pengurangan Risiko Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim dari Pusat Penelitian Kependudukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gusti Ayu Ketut Surtiari menyebut Indonesia khususnya Jakarta dan kota penyangga disekitarnya perlu membangun konsep adaptasi perubahan iklim. Pasalanya, salah satu faktor pemicu banjir ekstrem yang terjadi awa tahun di Jabodetabek dan Banten ini disebabkan karena adanya perubahan lingkungan yang mengakibatkan perubahan iklim sehingga keseimbangan alam terganggu.

“Dalam menghadapi banjir, kita tidak lagi harus bersifat respon, tapi kita sudah harus beradaptasi, salah satunya beradaptasi dengan perubahan iklim,” kata Ayu ketika menggelar konferensi pers di Kantor LIPI, Jakarta, Selasa (7/1).

Lebih lanjut Ayu mengatakan, untuk mengatasi masalah banjir di Jakarta, LIPI menawarkan konsep adaptasi yang bersifat transformatif. Lalu apa itu adaptasi transformatif? Ayu menjelaskan bahwa banjir yang terjadi di Jabodetabek bukan lagi kejadian yang rutin. Menurutnya jika banjir menjadi kejadian rutin terjadi dikala seseorang tinggal di dataran rendah, wilayah hilir sungai. Jakarta merupakan wilayah hilir sungai yang rawan terjadi banjir ketika musim hujan datang.

“Jakarta berada di hilir yang dialiri 13 sungai dan lokasinya dekat dengan laut. Ini harus dilihat sebagai risiko dari bencana. Kita sebut sebagai risiko bencana karena, banjir menjadi semakin sering dan dampak kerugiannya tidak pasti. Kita tidak bisa memprediksi kerugian yang timbul akibat banjir, karena bisa jauh lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya atau bahkan lebih kecil nilai kerugiannya,” tambah Ayu.

Oleh karena itu, diakui Ayu, kita tidak lagi bisa melihat banjir sebagi hal yang biasa terjadi, tapi kita harus melihatnya sebagai dampak dari terjadinya perubahan iklim.

Lantas bagaimana cara adaptasi masyarakat Jakarta dan sekitarnya dari ancaman perubahan iklim?

Dirinya mengungkapkan bahwa risiko bencana terus berkembang, masyarakat tidak bisa menghindari lokasi-lokasi yang rawan bencana, namun kita bisa beradaptasi dan mengurangi terjadinya resiko.
“Jika berbicara terhadap risiko banjir, kita haris melihat adanya keterpaparan. Kita melihat di sini, sejak tahun 2014 hingga 2018 memang kelurahan di Jakarta yang dilewati sungai dan bangunan disekitar sungai masih sangat tinggi. Banyak warga yang telah direlokasi dari pinggiran sungai, kembali membangun rumahnya kembali di pinggiran sungai. Kita harus paham bahwa jumlah orang yang terpapar masih banyak,” paparnya.

Oleh karena itu, lanjut Ayu, masyarakat dituntut untuk beradaprasi. Adaptasi merupakan sebuah penyesuaian atau tindakan untuk mengurangi kerentanan dan keterpaparan. Kerentanan dan keterpaparan dipisahkan, kerentanan itu adalah sentifitas masyarakat terdampa banjir dan kapasitas mereka untuk menghadapi atau melihat risiko banjir itu sendiri. Adaptasi ini sebenarnya hal yang menarik, tindakan yang dilakukan juga dipikirkan untuk mendapatkan keuntungan. Jadi adaptasi idealnya adalah selain kita bertindak untuk menghadapi risiko banjir, kita juga harus memikirkan dampak yang akan dialami baik itu ekonomi ataupu sosial.

“Adaptasi adalah sebuah proses pengambilan keputusan di tingkat individu hingga rumah tangga untuk mengurangi keterpaparan dan menurunkan sensitifitas dan meningkatkan kapasitas terhadap dampak negatif dari banjir,” tutupnya.

Editor : System

Berita Terkait

20 Nov 2020
20 Nov 2020
17 Nov 2020