trubus.id
Catatan Bayu Krisnamurthi: Banjir

Catatan Bayu Krisnamurthi: Banjir

Thomas Aquinus - Jumat, 03 Jan 2020 12:00 WIB

Trubus.id -- Banjir adalah pernyataan ulang atas apa yang sudah diketahui; dan peringatan ulang bahwa apa yang telah dilakukan ternyata belum cukup.

Sudah lama diketahui, Jakarta adalah salah satu dari enam kota di dunia yang paling cepat “tenggelam”; nomor dua setelah New Orleans. Menurut laporan NASA diperkirakan beberapa bagian Jakarta “tenggelam’ dengan kecepatan sekitar 15 cm per tahun. “Tenggelam”nya Jakarta diperkirakan lebih cepat dari Houston, Beijing, Bangkok, dan Lagos.

Sudah lama diketahui pula – bahkan sejak jaman Belanda – Jakarta adalah langganan banjir. Ketika banjir melanda beberapa juga mengunggah foto-foto lama situasi banjir Jakarta. Itu tentu tidak dimaksudkan untuk menjadi “pembenaran” dan tidak membuat banjir sebagai sesuatu yang “tidak apa-apa” dan “sudah biasa”. Gambar lama itu hanya menegaskan saja: kita sudah tahu banjir sering terjadi dan akan terjadi lagi.

Banjir pada masa lampau (Foto: twitter @potretlawas)

Mungkin 1 Januari 2020 ini ada yang “baru”. Curah hujan di beberapa daerah sekitar Jakarta mencapai rekor tertinggi. Naiknya muka air laut lebih tinggi dari sebelumnya. Dan aliran air “kiriman” dari daerah hulu, tidak biasanya datang bukan hanya dari jalur tengah Ciliwung tetapi juga jalur Barat Cisadane dan jalur Timur Kali Bekasi.

Namun yang “baru” itupun sebenarnya sudah diketahui melalui entah berapa ratus seminar dan diskusi tentang lingkungan yang dilakukan di Jakarta: iklim telah berubah dengan iklim ekstrim semakin sering terjadi.

Lalu apa yang harus dilakukan? Itupun sudah diketahui. Sungai-sungai yang melewati kota harus dibersihkan dan dibuat lebih lancar alirannya, entah di normalisasi atau di naturalisasi. Sudah banyak yang dilakukan, tetapi tampaknya itu belum cukup. Lagipula jika muka air laut naik dan sebagian Jakarta sudah dibawah permukaan laut, maka logikanya justru air laut yang akan masuk. 

Air perlu dialirkan tidak hanya secara horizontal tetapi juga secara vertical, ke dalam bumi. Inipun sudah diketahui. Sumur-sumur resapan harus dibangun. Embung dan situ harus dibuat di daerah hulu dan di daerah yang lebih tinggi. 

Entah berapa yang sudah dibangun, datanya tidak tersedia. Tetapi tampaknya masih belum cukup. Jumlah embung, kolam, dan situ yang hilang karena perumahan atau keperluan lain tampaknya masih lebih banyak dari yang dibangun baru. 

Sudah diketahui pula, beberapa perumahan yang terkena banjir dulunya adalah rawa atau danau atau situ, atau disekitarnya pernah ada bentuk badan air lain.

Yang juga sudah diketahui adalah pentingnya tidak buang sampah ke sungai, selalu menjaga kebersihan selokan dan gorong-gorong, menjaga pohon-pohon tetap tumbuh di daerah aliran sungai, serta reboasasi dan rehabilitasi daerah hulu yang telah hilang vegetasinya. Sudah banyak yang dilakukan, dan itupun tampaknya belum cukup.

Banjir landa pemukiman di wilayah Pejaten, Pasar Minggu (Foto: Trubus.id)

Rencana memindahkan Ibukota ke Kalimantan merupakan solusi penting menyelamatkan Ibukota. Namun pertanyaannya, lalu bagaimana dengan Jakarta nya – yang nanti tidak lagi jadi Ibukota? Tentu tidak ada maksud untuk membiarkan Jakarta dengan sebagian besar penduduknya yang tidak akan pindah tetap “tenggelam” berkutat menghadapi masalah banjir, macet, dan polusi. Lagipula banjir tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di Lebak, Jasinga, Padang, Solok, Bandung, Semarang, Samarindan, Balikpapan dan daerah lain.

Beredar gambar dan berita bagaimana kota Tokyo menyiapkan diri menghadapi banjir dengan membangun “flood cathedral” – sebuah ruangan besar dibawah tanah untuk menampung air. Atau ada kawan yang dengan lantang menyuarakan perlunya dibangun bendungan besar ribuan hektar di daerah Ciawi Bogor yang harus tahan 400 tahun. Atau ungkapan warga Surabaya tentang kerja Ibu Walikota Risma yang berusaha agar banjir awal 2019 tidak berulang. Semua itu menambah pengetahuan dan inspirasi yang diketahui, dengan harapan nanti tidak menjadi sekedar ulangan lagi.

Ditengah kegelisahan dan kekhawatiran, mungkin juga kekesalan dan kesedihan; banjir juga membawa cerita ulangan tentang daya tahan, tentang perjuangan, tentang kepedulian, tentang nilai-nilai kemanusiaan yang tidak luncur; disertai juga gambar-gambar humor karikatural yang hidup.  

Kisah petugas yang berjuang menyelamatkan seorang ibu dan anak bayinya menembus banjir sedalam kepala manusia beredar di media social. Atau seorang nenek yang sendirian melewati genteng rumah demi menyelamatkan diri. Atau tiga pria yang berusaha menyelamatkan seekor anjing di pagar sebuah rumah yang berusaha bertahan hidup ditengah deras air. Atau video pria yang berhasil memancing ikan sebesar paha remaja dari atas tempat tidur ditengah rumah. Dan banyak kisah kemanusiaan lain yang lahir dari situasi banjir. 

Juga sekian banyak relawan dari organisasi-organisasi, pemuda masjid, komunitas gereja, atau individu-individu peduli yang segera turun tangan membantu dan memberi sumbangan meringankan beban saudara-saudaranya tanpa memandang perbedaan apapun. Atau semangat kepedulian yang ditunjukkan meski hanya dengan bertanya kabar keselamatan kepada teman, kenalan, kerabat, saudara melalui teks pendek atau telpon.

Banjir adalah pernyataan ulangan atas apa yang sudah diketahui: penyebabnya, cara mengatasinya, usaha yang belum cukup juga, dan kekuatan kemanusiaan menghadapinya. Tidak ada gunanya mencari kesalahan, apakah kesalahan gubernur atau presiden, yang sekarang atau yang lalu. Banjir adalah kenyataan yang harus dihadapi, dan mungkin sekali masih tetap akan berulang.  Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa selalui melindungi kita. 

 

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

23 Sep 2020
07 Sep 2020
31 Agu 2020