trubus.id
Sistem Resi Gudang Rumput Laut di Makassar Permudah Ekspor Bagi Petani

Sistem Resi Gudang Rumput Laut di Makassar Permudah Ekspor Bagi Petani

Astri Sofyanti - Kamis, 26 Des 2019 12:30 WIB

Trubus.id -- Sistem Resi Gudang di Kawasan Pergudangan Parangloe Indah Makassar, Sulawesi Selatan berhasil membantu petani setempat untuk mengekspor rumput laut ke pasar global. Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tjahya Widayati. Menurutnya, gudang Sistem Resi Gudang (SRG) rumput laut di Makassar telah berhasil memberi nilai tambah hasil panen petani dengan membuka akses pasar baik di dalam negeri maupun untuk ekspor.

SRG merupakan instrumen tunda jual yang menguntungkan petani. Hal tersebut karena komoditas yang disimpan petani di SRG dapat dijual kembali pada saat harga sudah naik di pasaran.

"Gudang SRG rumput laut di Makassar telah berhasil memberikan manfaat kepada para petani dengan berupa nilai tambah atas komoditas rumput laut. Saat komoditas rumput laut yang disimpan di Gudang SRG memenuhi kecukupan pasokan, standar kualitas, dan harga yang kompetitif, komoditas dapat dijual kepada para importir di luar negeri," kata Tjahya lewat keterangannya, Kamis (26/12).

Baca Lainnya : Kemenperin Dorong Nilai Tambah Komoditas Rumput Laut

Pihaknya menegaskan, untuk mendorong peningkatan ekspor rumput laut, Kementerian Perdagangan akan terus berupaya menyederhanakan prosedur dan menekan biaya pengujian mutu rumput laut dalam SRG.

“Pemerintah akan berkoordinasi dengan Badan Karantina Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan sebagai salah satu Lembaga Penilaian Kesesuaian Uji Mutu Ikan dalam SRG,” tambahnya.

Berdasarkan data statistik perdagangan dari Trade Statistics For International Business Development, total ekspor produk agar-agar dari rumput laut dengan kodeHS 1302.31 pada 2018 tercatat sebesar USD 14,619 juta. Ada lima negara yang menjadi tujuan ekspor utama produk agar-agar dari rumput laut pada tahun 2018 yaitu Jepang sebesar USD 3,298 juta; Italia sebesar USD 2,077 juta; Tiongkok sebesar USD 1,555 juta; Rusia sebesar USD  1,443 juta; dan Jerman sebesar USD 1,387 juta.

Sebelumnya, gudang SRG itu dikelola Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (Kospermindo) dan pada periode Maret 2018 hingga Maret 2019 telah menerbitkan delapan resi gudang untuk 950 ton rumput laut senilai Rp8,55 miliar dengan pembiayaan mencapai Rp5,35 miliar melalui Bank BJB dan PKBL PT Kliring Berjangka Indonesia.

Baca Lainnya : Pemerintah Rancang Peta Panduan Pengembangan Industri Rumput Laut Nasional

Kementerian Perdagangan terus meningkatkan ekspor nonmigas dengan mengoptimalkan pemanfaatan Sistem Resi Gudang (SRG) sebagai instrumen pengamanan persediaan. "Pemerintah terus mendorong pemanfaatan SRG sebagai instrumen pengamanan persediaan untuk meningkatkan ekspor nonmigas. Para eksportir dapat memanfaatkan SRG dalam menjamin ketersediaan komoditas baik secara volume maupun terpenuhinya standarkualitas serta meminimalkanrisiko penyimpanan," papar Tjahya.

Keberadaaan SRG, lanjut Tjahya, berperan vital dalam menjaga ketersediaan pasokan (secure  of supply). Selain itu, SRG juga menjaga stabilitas harga dalam membantu menaikkan posisi tawar petani dan produsen jikaharga komoditasmengalami penurunan pada saat musim panen.

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

19 Okt 2020
19 Okt 2020
15 Okt 2020