trubus.id
Letusan Gunung Api di White Island Membuat Kulit Para Wisatawan Terkelupas Akibat Paparan Abu Panas

Letusan Gunung Api di White Island Membuat Kulit Para Wisatawan Terkelupas Akibat Paparan Abu Panas

Astri Sofyanti - Kamis, 12 Des 2019 09:00 WIB

Trubus.id -- Letusan gunung di White Island merupakan akumulasi dari menumpuknya aktivitas di bawah permukaan kawah. Tekanan selama berbulan-bulan membentuk kubah yang kemudian memuntahkan isinya menjadi material abu dan batu. Suhu di lokasi saat letusan sangat panas, sekitar 150 derajat Celsius. Melontarkan bebatuan besar seukuran bola. Tak hanya padat, bebatuan itu juga sangat panas.

Ketika letusan terjadi, ada 50 wisatawan di yang berada di gunung White Island, yakni 24 dari Australia, sembilan dari Amerika Serikat, lima warga Selandia Baru, dan lainnya dari Jerman, Inggris, China, dan Malaysia. Mereka umumnya sedang melakukan perjalanan dengan kapal pesiar Royal Caribbean, Ovation of the Seas.

Otoritas vulkanologi Selandia Baru GeoNet sudah memperingatkan potensi bahaya gunung yang terakhir meletus pada 2016 itu. Tiga pekan sebelumnya, GeoNet meningkatkan status gunung dari siaga 1 menjadi 2 dari skala 5.

Dari kejadian tragi situ, seorang wisatawan yang selamat dari Letusan gunung api di White Island, Selandia Baru, Senin (9/12) mengisahkan betapa dahsyatnya letusan yang mengakibatkan kulit para wisatawan terkelupas akibat terpapar abu panas.

Turis bernama Lillani Hopkins mengisahkan, saat itu dia dan ayahnya, Geoff, sedang berada di kapal tak jauh dari gunung. Perempuan 22 tahun itu mengajak sang ayah berwisata dengan kapal pesiar sebagai hadiah ulang tahun ke-50. Keduanya dan anggota rombongan lain sempat berjalan-jalan di pulau yang merupakan bagian puncak gunung api tersebut.

Mengutip Associated Press, dari Inews, Kamis (12/12), sebelum letusan terjadi, Lillani bertanya kepada pemandu apa yang harus mereka lakukan jika gunung benar-benar meletus. Sang pemandu menjawab, semua turis harus lari ke kontainer. Di dalamnya penuh dengan persediaan logistik sebagai antisipasi.

Setelah 90 menit berjalan-jalan, Lillani berserta rombongan kembali ke kapal untuk menuju kapal pesiar. Namun, saat kapalnya baru beberapa puluh meter meninggalkan pulau, letusan itu terjadi.

Geoff melihat kejadian itu dan sempat menepuk pundak Lillani, saat itu ia belum menyadari apa yang terjadi. Diakui Lillani, suara letusan begitu lemah, kalah dengan deru mesin kapal yang mengangkut turis dari kapal pesiar ke gunung. Namun ketika berbalik, Lillani melihat awan tebal dan besar menyemburkan abu dan uap ke udara. Tak lama kemudian bebatuan dan abu turun dari tebing gunung di kapal, mengubah kekagumannya menjadi ketakutan.

Beruntung pemandu wisata memberikan mereka helm dan masker gas sebelum kejadian sebagai antisipasi jika kesulitan bernapas. Pemandu memberi tahu bahwa sulfur dioksida dan gas lain di pulau itu bisa menjadi asam ketika bercampur dengan air liur.

Para kru di kapal lalu menyuruh para turis untuk turun dari dek setelah mereka terkena paparan abu panas. Lillani dan ayahnya, yang memiliki kemampuan melakukan pertolongan pertama, membantu dua dokter yang dibawa untuk melayani para turis.

Lillani mengaku belum pernah melihat luka seperti itu. Kulit para korban terbakar di seluruh bagian tubuh. Luka bakar yang dialami para korban parah sampai membuat kulit terkelupas. Abu panas bahkan menembus pakaian sehingga Lillani harus merobek untuk bisa mengobati.

Lillani mencoba membantu para korban untuk mengurangi rasa sakit dan membersihkan debu vulkanik dengan membasuhkan air. Dia membilas mulut, mata, dan menuangkan air sebanyak mungkin ke bagian kulit yang terbakar.

Namun ternyata air yang dibasuh ke bagian luka tak menghilangkan rasa sakit, bahkan justru membuat semakin parah. Dalam kondisi itu, banyak turis yang bahkan menanggalkan pakaian dalam untuk dijadikan kain pembasuh, sehingga air tak langsung mengenai tubuh yang luka.

Editor : System

Berita Terkait

22 Feb 2020
21 Feb 2020
21 Feb 2020

Berita Lainnya