trubus.id
Mentan Syahrul: Intercropping Bisa Jadi Solusi Dongkrak Produktivitas Kakao

Mentan Syahrul: Intercropping Bisa Jadi Solusi Dongkrak Produktivitas Kakao

Astri Sofyanti - Senin, 09 Des 2019 15:30 WIB

Trubus.id -- Indonesia merupakan produsen kakao peringkat 3 dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Produksi kakao tahun 2018 mencapai 593,83 ribu ton. Sebanyak 380,75 ribu ton kakao berhasil diekspor dengan nilai USD 1,24 miliar. Saat ini, 60 persen areal kakao Indonesia berada di daerah Sulawesi, di mana dari produksi total nasional tersebut, sekitar 95 persen merupakan kakao yang di hasilkan oleh perkebunan rakyat pada areal 1,68 juta hektare.

Untuk mengoptimalkan pengembangan produktivitas kakao dalam negeri, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo menyarankan untuk dilakukan program intercropping untuk mengoptimalkan lahan dan memberi nilai tambah lebih bagi petani.

Pasalnya, pengembangan kakao menjadi salah satu fokus Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini. “Ada dua hal yang perlu dilakukan untuk mengembangkan tamanam kakao. Pertama adalah peningkatan produtivitas dan perbaikan kualitas yang harus berkelanjutan,” kata Mentan.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengungkapkan bahwa peningkatan produksi dan produktivitas berbasis kawasan kakao adalah melalui program BUN-500 (perluasan, peremajaan, rehabilitasi, intensifikasi, GAP dan inovasi teknologi perbenihan modern).

“Ini strategi yang coba pemerintah tempuh dalam pengembangan kakao,” ujar Kasdi.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Enny Anggraeni Anwar mengungkapkan, tahun ini Sulawesi Barat telah melakukan peremajaan kakao seluas 270 hektare dan perluasan kopi 300 hektare.

“Luas lahan perkebunan di Sulbar yang berpotensi untuk pengembangan kakao, kopi, pala, lada, cengkeh, kelapa sawit ada 635,933 hektare,” ujar Enny.

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

07 Sep 2020
31 Agu 2020
28 Agu 2020