trubus.id
Filantropi Mempunyai Peran Penting dalam Menjaga Ketahanan Pangan di Indonesia

Filantropi Mempunyai Peran Penting dalam Menjaga Ketahanan Pangan di Indonesia

Thomas Aquinus - Senin, 02 Des 2019 08:30 WIB

Trubus.id -- Pangan menjadi kebutuhan dasar bagi keberlangsungan makhluk hidup yang harus dipenuhi. Tidak jarang kelangkaan pangan akan menjadi perebutan sumber pangan yang bisa menjadi pemicu timbulnya perang.

Di Indonesia sendiri, narasi pentingnya ketahanan pangan terkadang dijadikan sebagai bahan untuk beragumen dalam politik. Ketahanan pangan bukan hanya persoalan untuk mengisi perut masyarakat tapi juga terkait sistem untuk pemenuhan pasokkan pangan dalam jangka panjang dan berkelanjutan.

Masih jelas dalam ingatan masyarakat ketika Indonesia mengalami masa krisis ekonomi antara tahun 1997 – 2000, Pemerintah Indonesia pernah mengambil kebijakan untuk menukar pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI) dengan beras dari Thailand. Pemerintah telah dua kali mengambil kebijakan tersebut.

Jika beras sebagai bahan makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia saja sering kali mengalami permasalahan akan kesediaanya, bagaimana dengan bahan pangan lainnya.

Baca Lainnya : GoPay dan Filantropi Indonesia Kolaborasi Lewat Pekan Donasi Online Indonesia

Memang menurut data The Economist Intelligence Unit (EIU), capaian indeks ketahanan pangan Indonesia telah mengalami pencapaian yang baik. Pada 2018 indeks ketahanan pangan Indonesia naik menjadi 54,8.

Angka ini menjadikan peringkat ketahanan pangan Indonesia naik cukup signifikan dari 72 pada 2014 menjadi 65 di 2018 dari total 113 negara. Meski demikian sebagai negara kepulauan, Indonesia perlu memikirkan cara pemenuhan ketahanan pangan yang merata di setiap daerah. Juga perlu dipikirkan bagaimana memenuhi keberlanjutan ketahanan pangan tanpa bergantung dari pasokkan luar negeri.

“Perlu dapat diciptakan kemitraan multi pihak termasuk keterlibatan lembaga filantropi untuk menciptakan keberlanjutan ketahanan pangan di Indonesia” ungkap Peter Holtsberg, Deputy Country Director, World Food Programme (WFP) Indonesia saat acara Forum Group Discussion Rutin Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi dengan topik "Peran Penting Lembaga Filantropi Dalam Ketahanan Pangan di Indonesia" beberapa waktu lalu.

Baca Lainnya : Kaum Milenial Ubah Kegiatan Filantropi Sebagai Gaya Hidup Baru

“Pemerintah, lembaga filantropi dan masyarakat harus dapat bekerjasama dalam menghadapi tantangan – tantangan ketahanan pangan dan gizi di Indonesia”, tambahnya.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Trubus.id, pada kesempatan yang sama,  Wahono Kolopaking, Head of Program Department JAPFA Foundatio mengungkapkan upaya ketahanan pangan sejalan dengan tujuan SDGs.

“Upaya peningkatan kesehatan melalui ketahanan pangan dan gizi sejalan dengan salah satu tujuan global pembangunan berkelanjutan (SDGs) pada poin 2 yaitu mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang lebih baik. Kompleksitas dan keterkaitan dari permasalahan pangan dan gizi ini membutuhkan kemitraan bersama yang salah satunya diwujudkan melalui kehadiran Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi (KFKPG) yang diinisiasi oleh Filantropi Indonesia dan JAPFA Foundation sebagai koordinator”, ungkapnya.

Baca Lainnya : Kita Hebat Hadir Menjawab Permasalahan Sosial di Kota Medan Melalui Gerakkan Pemberdayaan

Sementara itu, Michele Soeryadjaya, Direktur Eksekutif Yayasan William dan Lily menyampaikan dari Indonesia Timur memiliki tingkat kelaparan tertinggi di Indonesia.

"Banyak anak mengalami busung lapar dan gizi buruk di sana. Hal tersebut yang membuat program Yayasan William dan Lily berfokus di Indonesia Timur, khususnya Sumba.Banyak penyebab tingginya kelaparan di sana, selain faktor ekonomi, ketersediaan bahan pangan yang terbatas, adapula keterbatasan informasi masyarakat terkait makanan sehat”, katanya.

Timotheus Lesmana, Ketua Badan Pengurus Filantropi Indonesia menyatakan bahwa “Klaster Filantropi Ketahanan Pangan dan Gizi bisa memiliki posisi strategis untuk memberikan intervensi kepada pemeritah untuk dapat menciptakan keberlanjutan bagi ketahanan pangan di Indonesia. Mulai dari menciptakan pelaporan yang dibutuhkan pemerintah terkait permasalahan tersebut serta menciptakan program bersama diantara para anggotanya untuk ketahanan pangan dan gizi”. 

 

Editor : Thomas Aquinus

Berita Terkait

05 Des 2019
05 Des 2019
05 Des 2019

Baca Juga

Berita Lainnya